Pagi membuka gerbang harapan di kota,
anak-anak datang membawa mimpi dalam tas sederhana,
orang tua menggenggam berkas seperti menggenggam masa depan,
sementara spanduk besar bertuliskan "gratis" berkibar megah,
bagai janji yang ingin terdengar lebih nyaring dari keraguan.
Di ruang tunggu, seorang ibu menatap nomor antrean,
matanya menyimpan doa yang tak tertulis di formulir,
ia percaya pendidikan adalah jembatan paling panjang,
yang dapat menyeberangkan anaknya dari nasib yang sempit,
menuju cakrawala yang lebih lapang dan terang.
Namun negeri ini punya cerita yang berulang,
tentang pintu yang katanya terbuka untuk semua,
tetapi kadang dijaga tangan-tangan tak terlihat,
yang pandai mengubah pelayanan menjadi kesempatan,
dan hak warga menjadi barang yang bisa ditawar.
Betapa lucunya zaman ini,
ketika kata "gratis" sering memerlukan biaya penjelasan,
ketika amplop lebih cepat berjalan daripada aturan,
dan kejujuran harus mengantre lebih lama,
di bawah bayang-bayang meja yang terlalu sibuk.
Para pejabat berpidato tentang masa depan generasi,
sementara rakyat hanya meminta satu hal sederhana:
jangan curi harapan anak-anak mereka.
Sebab biaya paling mahal bukan uang pendaftaran,
melainkan hilangnya kepercayaan kepada keadilan.
Seorang ayah buruh menghitung penghasilannya yang tipis,
ia tak mampu membeli banyak kemewahan,
namun ia ingin anaknya memiliki bangku belajar yang layak.
Ironinya, kadang jalan menuju sekolah terasa lebih sulit,
daripada jalan menuju pusat-pusat kekuasaan.
Pendidikan seharusnya seperti mata air pegunungan,
mengalir jernih kepada siapa saja tanpa pilih wajah,
bukan sungai keruh yang mengharuskan rakyat membayar arah.
Karena ilmu lahir untuk memerdekakan manusia,
bukan menjadi pagar bagi mereka yang miskin.
Maka jagalah program ini dari debu keserakahan,
agar sekolah tetap menjadi rumah bagi cita-cita,
bukan pasar tempat harapan diperjualbelikan.
Sebab setiap rupiah pungli yang lahir dari pendidikan,
adalah luka kecil pada masa depan sebuah bangsa.
Sumber: SEKOLAH SWASTA GRATIS, "Pastikan Penerimaan Murid Baru Bebas Pungli" dalam Kompas, Senin, 15 Juni 2026, hlm. 13.