Di kota yang lampunya tak pernah tidur,
seorang lelaki menggantung sunyi pada pagar taman.
Empat hari ia bercakap dengan kematian,
sementara ribuan kendaraan berlalu-lalang tanpa menoleh.
Barulah bau tubuh yang membusuk
mengalahkan kebisingan yang membutakan perhatian.
Di kamar kontrakan seberang terminal,
seorang perantau rebah bersama sepi.
Tiga hari tubuhnya membeku dalam kesendirian,
tanpa sapaan, tanpa ketukan, tanpa nama yang dipanggil.
Ia ditemukan bukan oleh kerabat atau sahabat,
melainkan oleh aroma duka yang bocor dari celah pintu.
Betapa ganjil kehidupan perkotaan:
gedung-gedung berdiri rapat seperti saudara,
tetapi hati manusianya berjauhan seperti pulau.
Jalan-jalan penuh wajah yang berpapasan,
namun tak cukup dekat untuk saling mengenal.
Keramaian menjadi topeng paling lihai bagi keterasingan.
Konon kita hidup di zaman terkoneksi,
segala kabar tiba hanya dalam satu sentuhan jari.
Namun seorang manusia dapat hilang berhari-hari,
tanpa seorang pun merasa kehilangan.
Teknologi menghubungkan layar dengan layar,
tetapi gagal menjembatani jiwa dengan jiwa.
Di gang-gang sempit dan rumah petak,
orang-orang pulang membawa lelah masing-masing.
Pintu ditutup, tirai dirapatkan,
dan dunia berhenti sebatas dinding kamar.
Kesibukan dipuja seperti dewa baru,
sementara percakapan perlahan dikuburkan.
Mereka berkata kota adalah lambang kemajuan,
tempat mimpi-mimpi bertumbuh tinggi.
Tetapi di bawah menara beton dan reklame bercahaya,
banyak hati berjalan tanpa teman.
Kemajuan ternyata pandai menghitung keuntungan,
namun sering gagap menghitung kesepian.
Yang paling menyayat bukanlah kematian itu,
melainkan lamanya seseorang tak disadari telah tiada.
Seakan hidupnya tak meninggalkan jejak,
seakan kehadirannya tak pernah berarti.
Ketika manusia baru dicari setelah membusuk,
ada yang lebih dahulu mati: kepedulian.
Maka bau yang tercium dari taman dan kontrakan itu
sesungguhnya bukan hanya bau jenazah.
Ia adalah alarm yang menggema dari nurani kota,
peringatan bahwa kita sedang saling menjauh.
Sebab masyarakat tak runtuh karena kurang bangunan,
melainkan ketika manusia berhenti menjadi sesama manusia.
Sumber: INTERAKSI SOSIAL, "Jenazah Membusuk di Keramaian, Alarm Keterasingan Warga Kota" dalam Komas, Jumat, 19 Juni 2026, hlm. 13.