Video

Sekolah Nyaris Roboh, Tapi Mimpinya Tidak: Belajar dari Laskar Pelangi

20 April 2026   09:33 Diperbarui: 20 April 2026   09:31 86 2 0

Tidak semua anak sekuat Lintang. Tidak semua punya kesempatan untuk tetap bertahan. Dan tidak semua cerita berakhir dengan harapan.

Dari sisi penyutradaraan, Riri Riza memang berhasil membuat film ini terasa hangat dan jujur. Tapi justru karena pendekatan yang lembut itu, kritik yang ada di dalamnya terasa "halus"---bahkan mungkin terlalu halus untuk benar-benar mengguncang kesadaran penonton.

Film ini membuat kita tersentuh, tapi belum tentu membuat kita bertanya lebih jauh.

Alurnya yang santai dan episodik juga memperkuat kesan bahwa ini adalah kumpulan cerita inspiratif, bukan sebuah dorongan untuk mempertanyakan sistem yang lebih besar. Beberapa karakter pun hadir tanpa pendalaman yang cukup, seolah hanya menjadi bagian dari "lukisan besar" tentang perjuangan.

Tapi mungkin, di situlah kekuatan sekaligus kelemahannya.

Laskar Pelangi berhasil membuat kita peduli---tapi tidak sepenuhnya memaksa kita untuk berpikir kritis.

Dan di titik ini, penonton punya pilihan: mau berhenti di rasa haru, atau melanjutkan ke pertanyaan yang lebih tidak nyaman.

PADA AKHIRNYA 

Ketika film ini selesai, ada satu hal yang tidak benar-benar ikut berakhir: lagunya.

Laskar Pelangi dari Nidji bukan sekadar soundtrack, tapi seperti penutup yang menyempurnakan seluruh rasa yang sudah dibangun sejak awal.

Lagu itu tidak hanya mengiringi cerita---ia memperpanjangnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3