Video

Sekolah Nyaris Roboh, Tapi Mimpinya Tidak: Belajar dari Laskar Pelangi

20 April 2026   09:33 Diperbarui: 20 April 2026   09:31 88 2 0

"Kalau sekolahmu hampir roboh, kamu masih mau datang setiap hari?"

Pertanyaan itu mungkin terdengar berlebihan. Tapi di Laskar Pelangi, itu bukan sekadar bayangan---itu kenyataan.

Kita sering mengeluh soal hal-hal kecil: kelas yang panas, tugas yang menumpuk, atau guru yang terasa membosankan. Tapi film ini seperti datang untuk menguji ulang semua keluhan itu. Apakah kita benar-benar kekurangan, atau hanya terbiasa merasa kurang?

Film yang diadaptasi dari karya Andrea Hirata ini bukan cuma cerita anak sekolah biasa. Ini adalah tamparan halus---dan kalau dipikir lebih jauh, mungkin juga tamparan keras---tentang realita pendidikan yang masih timpang.

Sejak awal, kita diperlihatkan sekolah dengan kondisi yang nyaris tidak layak. Tapi pertanyaannya bukan lagi "kasihan ya mereka", melainkan: kenapa kondisi seperti itu bisa ada dan terus ada?

Di titik ini, Laskar Pelangi mulai terasa lebih dari sekadar film inspiratif. Ia bisa dibaca sebagai kritik sosial---bahwa tidak semua anak Indonesia memulai dari garis start yang sama.

Ikal, Lintang, Mahar, dan teman-temannya memang digambarkan penuh semangat. Tapi kalau dilihat lebih kritis, semangat mereka sering kali dipaksa lahir dari keadaan yang tidak adil. Lintang harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk sekolah. Ini memang inspiratif, tapi juga menyisakan pertanyaan:

Apakah seharusnya perjuangan seberat itu menjadi hal yang "normal"?

Di sinilah letak sisi kontroversialnya.

Film ini sering dipuji karena "mengharukan" dan "memotivasi". Tapi tanpa sadar, kita juga bisa terjebak dalam cara pandang yang meromantisasi kesulitan. Seolah-olah, semakin susah hidup seseorang, semakin indah ceritanya.

Padahal, realitanya tidak sesederhana itu.

Tidak semua anak sekuat Lintang. Tidak semua punya kesempatan untuk tetap bertahan. Dan tidak semua cerita berakhir dengan harapan.

Dari sisi penyutradaraan, Riri Riza memang berhasil membuat film ini terasa hangat dan jujur. Tapi justru karena pendekatan yang lembut itu, kritik yang ada di dalamnya terasa "halus"---bahkan mungkin terlalu halus untuk benar-benar mengguncang kesadaran penonton.

Film ini membuat kita tersentuh, tapi belum tentu membuat kita bertanya lebih jauh.

Alurnya yang santai dan episodik juga memperkuat kesan bahwa ini adalah kumpulan cerita inspiratif, bukan sebuah dorongan untuk mempertanyakan sistem yang lebih besar. Beberapa karakter pun hadir tanpa pendalaman yang cukup, seolah hanya menjadi bagian dari "lukisan besar" tentang perjuangan.

Tapi mungkin, di situlah kekuatan sekaligus kelemahannya.

Laskar Pelangi berhasil membuat kita peduli---tapi tidak sepenuhnya memaksa kita untuk berpikir kritis.

Dan di titik ini, penonton punya pilihan: mau berhenti di rasa haru, atau melanjutkan ke pertanyaan yang lebih tidak nyaman.

PADA AKHIRNYA 

Ketika film ini selesai, ada satu hal yang tidak benar-benar ikut berakhir: lagunya.

Laskar Pelangi dari Nidji bukan sekadar soundtrack, tapi seperti penutup yang menyempurnakan seluruh rasa yang sudah dibangun sejak awal.

Lagu itu tidak hanya mengiringi cerita---ia memperpanjangnya.

Nada dan liriknya seperti merangkum semuanya: mimpi, perjuangan, harapan, dan juga kenyataan yang tidak selalu mudah. Bahkan setelah film selesai, lagu itu masih terasa "menempel", seolah mengingatkan bahwa cerita ini belum benar-benar selesai... setidaknya, di dunia nyata.

Dan mungkin di situlah kekuatan terbesar Laskar Pelangi.

Bukan hanya membuat kita terharu saat menonton, tapi juga meninggalkan sesuatu yang terus hidup setelahnya---baik dalam bentuk pertanyaan, maupun dalam bentuk lagu yang tak mudah dilupakan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3