
Ada sesuatu yang menyedihkan sekaligus mengagumkan dari satantango (1994) karya Bela Tarr. Film berdurasi hampir tujuh setengah jam ini mengajak kita menyaksikan kehidupan sebuah komunitas yang terjebak dalam kemiskinan, manipulasi, dan harapan yang terus dikhianati.
Saya sangat mengagumi sinematografinya. Long take, pergerakan kamera yang perlahan, hujan, lumpur, dan lanskap hitam-putih membentuk pengalaman yang lebih dari sekadar visual. Durasi menjadi bagian dari penderitaan itu sendiri: penonton dipaksa tinggal bersama stagnasi para karakter.
Salah satu bagian paling menyakitkan adalah kisah Estike dan kucingnya. Tragedi tersebut memperlihatkan kesepian yang begitu ekstrem, ketika dunia seolah tidak menyediakan ruang aman bagi siapa pun.
Bagi saya, Satantango adalah potret manusia yang terus bergerak tanpa benar-benar meninggalkan kehancurannya. Seperti tarian tango yang berulang, kehidupan berjalan maju dan mundur, sementara harapan menjadi alat yang paling mudah dieksploitasi.
Film ini tidak menawarkan penyelamatan. Ia hanya membiarkan kita menatap kenyataan, selama mungkin.