Reno Radzabi
Reno Radzabi Seniman

Film maker dan penulis naskah film Ig: @renoism__

Selanjutnya

Tutup

Video

Lewat Djam Malam: kemerdekaan yang tak membebaskan masa lalu

26 Oktober 2026   09:10 Diperbarui: 26 Oktober 2026   09:10 94 0 0

Menonton Lewat Djam Malam (1954) karya Usmar Ismail merupakan pengalaman yang mengejutkan. Di tengah keterbatasan teknologi perfilman pada zamannya, film ini mampu menghadirkan karakter yang kompleks, emosi yang mendalam, dan kritik sosial yang masih relevan hingga hari ini.

Saya tidak pernah mengalami Indonesia pascakemerdekaan, tetapi film ini berhasil membawa saya merasakan ketegangan jam malam, pengkhianatan, dan cinta yang tumbuh di tengah masyarakat yang belum pulih dari perang.

Iskandar dan luka yang belum selesai

Iskandar adalah mantan pejuang yang kesulitan menemukan tempat dalam kehidupan setelah perang. Kemerdekaan telah diraih, tetapi dunia yang dihadapinya justru bertentangan dengan idealisme yang dahulu diperjuangkan.

Konflik ini menjadi kekuatan utama film. Secara psikologis, Iskandar memperlihatkan bagaimana masa lalu dapat terus mengendalikan kehidupan seseorang. Secara sosial, ia merepresentasikan benturan antara idealisme dan kenyataan---persoalan yang masih kita temukan dalam masyarakat Indonesia hari ini.

Kesederhanaan yang bermakna

Secara sinematografi, film ini tidak mengandalkan pergerakan kamera yang spektakuler. Namun, komposisi gambar, suasana, dan penataan ruang (mise-en-scne) mendukung atmosfer historis sekaligus tekanan emosional para karakter.

Penulisan skenarionya juga kuat. Dialog yang khas pada zamannya, akting yang meyakinkan, serta dinamika emosi antartokoh membuat konflik terasa manusiawi. Karakter-karakternya tidak sekadar menjalankan cerita, tetapi memiliki kepentingan dan kontradiksi yang memperkaya drama.

Secara semiotika, jam malam dapat dibaca sebagai simbol keterkungkungan. Perang mungkin telah berakhir, tetapi manusia masih terbelenggu oleh luka, keadaan sosial, dan konsekuensi masa lalunya.

Mengapa masih relevan?

Film ini membuat saya mempertanyakan arah perkembangan perfilman Indonesia. Jika pada 1954 kita telah mampu menghasilkan karya dengan kedalaman karakter dan kritik sosial seperti ini, mengapa potensi artistik tersebut terkadang terasa kurang menonjol dalam film-film masa kini?

Tentu, bukan berarti seluruh perfilman Indonesia mengalami kemunduran. Namun, kecanggihan teknologi dan pertumbuhan industri tidak otomatis menghasilkan kedalaman artistik.

Pada akhirnya, Lewat Djam Malam bukan sekadar potret Indonesia setelah kemerdekaan. Ia adalah kisah tentang manusia yang harus menghadapi kenyataan setelah perjuangannya selesai.

Tujuh dekade berlalu, teknologi berubah, tetapi pertentangan antara idealisme dan realitas tetap hidup. Sebab, terkadang, yang paling sulit bukan memenangkan perjuangan, melainkan menghadapi dunia yang tersisa setelahnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2