Reno Radzabi
Reno Radzabi Seniman

Film maker dan penulis naskah film Ig: @renoism__

Selanjutnya

Tutup

Video

The Color of Pomegranates: Seni, Makna, dan Kekosongan

29 Oktober 2026   07:51 Diperbarui: 29 Oktober 2026   07:51 85 0 0

https://share.google/lnzSn7QfM8w3oMTmj
https://share.google/lnzSn7QfM8w3oMTmj

The Color of Pomegranates (1969) karya Sergei Parajanov bukan biografi konvensional tentang penyair Armenia, Sayat-Nova. Film ini menerjemahkan perjalanan hidup, spiritualitas, cinta, dan kematian melalui rangkaian gambar puitis yang menempatkan bahasa visual di atas dialog dan alur cerita tradisional.

Ketika benda menjadi bahasa

Secara semiotika, Parajanov menjadikan benda sehari-hari sebagai sistem tanda. Delima, buku, kain, darah, dan objek religius tidak sekadar mengisi bingkai, tetapi membangun jaringan makna tentang kehidupan, seni, kebudayaan, dan kematian. Delima, misalnya, dapat dibaca sebagai simbol kesuburan, kehidupan, sekaligus kefanaan melalui warna merah dan biji-bijinya yang terurai.

Dalam perspektif Roland Barthes, tanda-tanda tersebut bekerja pada dua tingkat: denotasi, yaitu objek sebagaimana terlihat, dan konotasi, yakni makna kultural serta emosional yang dilekatkan kepadanya. Namun, simbol-simbol Parajanov tidak selalu memiliki satu tafsir final. Justru, penonton diajak menyusun makna dari hubungan antargambar.

Mise-en-scne sebagai lukisan yang hidup

Kekuatan film ini terletak pada mise-en-scne yang menyerupai lukisan miniatur Armenia abad pertengahan. Kamera cenderung statis, komposisi frontal dan simetris, sementara kostum, warna, tekstur, serta posisi tubuh dirancang dengan presisi. Setiap bingkai terasa seperti lukisan yang sengaja dihidupkan.

Minimnya gerak kamera membuat perhatian penonton tertuju pada relasi antarbenda dan figur di dalam bingkai. Buku-buku yang dijemur, kain berwarna mencolok, hingga ritual yang dilakukan secara repetitif membentuk dramaturgi visual tanpa harus bergantung pada dialog. Bingkai bukan sekadar tempat cerita berlangsung, melainkan ruang tempat kebudayaan dan keyakinan menghasilkan makna.

Musik sebagai bahasa alternatif

Tata suara yang digarap Tigran Mansurian tidak berfungsi sekadar mengiringi emosi. Nyanyian tradisional, lantunan liturgis, puisi, bunyi lingkungan, dan keheningan dirangkai menjadi komposisi yang berdiri sejajar dengan gambar. Suara tidak selalu berasal langsung dari tindakan yang terlihat, sehingga tercipta jarak antara apa yang didengar dan apa yang disaksikan.

Alih-alih menjelaskan gambar, musik justru memperluas ambiguitasnya. Suara terasa seperti ingatan kebudayaan yang bertahan melampaui individu, sementara keheningan memberi ruang bagi penonton untuk menghadapi gambar tanpa petunjuk emosional yang pasti.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2