Lewii
Lewii Foto/Videografer

Anak infor yang lebih condong ke foto video daripada coding itu wkwk

Selanjutnya

Tutup

Video

Kenapa Industri Kreatif Dianggap sebuah hal remeh bagi orang awam??

12 Juni 2026   00:38 Diperbarui: 12 Juni 2026   00:38 82 0 0

 "Kan Cuma Jepret": Mengapa Jasa Foto dan Video Sering Dihargai Nol Rupiah?

Bagi sebagian orang, melihat seorang fotografer atau videografer menenteng kamera di sebuah acara terlihat seperti pekerjaan yang sangat menyenangkan. Kelihatannya sederhana: datang, bidik, tekan tombol shutter, lalu pulang. Stigma "cuma jepret" inilah yang sayangnya mengakar kuat di masyarakat kita, melahirkan sebuah fenomena miris di mana keringat pekerja kreatif sering kali ditawar dengan harga yang sangat tidak masuk akal, bahkan hingga nol rupiah.

Fenomena ini biasanya dibungkus dengan dua mantra sakti yang sangat dihindari oleh para pekerja kreatif: "harga teman" dan "bayar pakai exposure".

Banyak orang lupa (atau pura-pura lupa) bahwa di balik satu foto yang aesthetic atau satu menit video sinematik, ada investasi modal dan waktu yang nilainya puluhan hingga ratusan juta rupiah. Alat-alat seperti kamera DSLR, lensa, gimbal, baterai, hingga laptop spesifikasi tinggi untuk proses editing (yang memakan waktu berjam-jam) tidak bisa dibeli menggunakan exposure atau ucapan terima kasih.

Kasus di Indonesia: Ilusi Barter Exposure

Jika kita menengok ke belakang, jagat media sosial Indonesia sudah berkali-kali diramaikan oleh kasus-kasus pekerja kreatif yang tidak dihargai. Salah satu pola yang paling sering viral di platform X (dulu Twitter) atau Instagram adalah ketika seorang fotografer dihubungi oleh pihak yang mengaku influencer atau figur publik.

Dalam beberapa kasus yang sempat meledak, pihak influencer tersebut dengan percaya diri meminta jasa dokumentasi liburan, acara ulang tahun, atau bahkan pernikahan secara gratis. Imbalannya? Akun sang fotografer akan di-tag di media sosial sang influencer yang memiliki ratusan ribu pengikut. Dalihnya, ini adalah ajang promosi yang menguntungkan fotografer.

Padahal, dalam realitas bisnis, exposure tidak bisa digunakan untuk membayar tagihan listrik atau menyicil lensa baru. Tragisnya lagi, tidak jarang terjadi kasus penipuan di mana klien acara pernikahan atau event lari dari tanggung jawab. Mereka menolak membayar sisa pelunasan setelah hasil mentah (raw file) diberikan, dengan alasan hasil fotonya "kurang memuaskan" atau "bisa diedit sendiri pakai HP".

Dampak dari Kemudahan Teknologi

Mengapa apresiasi terhadap karya visual ini bisa terjun bebas? Salah satu penyebab utamanya adalah kemajuan teknologi. Ketika semua orang kini memiliki smartphone dengan kamera beresolusi tinggi dan fitur AI filter otomatis, banyak yang merasa bahwa mereka juga bisa menghasilkan karya yang sama.

Masyarakat menjadi terbiasa dengan "hasil instan". Mereka tidak lagi melihat skill penentuan komposisi, pemahaman lighting, color grading, hingga penyusunan alur cerita (dalam video) sebagai sebuah keahlian profesional yang butuh bertahun-tahun untuk diasah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2