Septy Balqis
Septy Balqis Mahasiswa

Senang menikmati waktu untuk belajar dan mengeksplorasi berbagai hal baru dan memiliki ketertarikan pada kegiatan traveling karena memberikan pengalaman dan wawasan yang berharga. Selain itu, saya juga gemar mencatat berbagai ide, pengalaman, serta pengetahuan baru ke dalam buku sebagai sarana refleksi dan pengembangan diri.

Selanjutnya

Tutup

Video

Viral Belum Tentu Valid: Bahaya Belajar Agama dari Konten Tanpa Sanad

10 Juni 2026   14:20 Diperbarui: 10 Juni 2026   14:20 58 0 0

Di era serba digital ini, belajar agama terasa semakin mudah. Cukup buka TikTok, YouTube, atau platform media sosial lainnya, ribuan konten keagamaan siap disajikan dalam hitungan detik. Namun, kemudahan ini menyimpan bahaya yang kerap luput dari perhatian: tidak semua yang viral itu valid, dan tidak semua yang ditonton itu benar.

Fenomena belajar agama secara instan melalui konten digital kini menjadi tren yang sulit dibendung. Siapa pun bisa membuat video tentang hukum agama, fatwa, atau tafsir ayat Al-Qur'an tanpa latar belakang keilmuan yang jelas. Lebih mengkhawatirkan lagi, tidak ada yang mempertanyakan: dari mana ilmu itu berasal? Siapa gurunya? Dan siapa guru dari gurunya?

Dalam tradisi keilmuan Islam, terdapat konsep yang sangat penting bernama sanad --- yaitu rantai periwayatan ilmu yang menyambung dari guru ke murid secara bersambung hingga kepada Rasulullah SAW. Sanad bukan sekadar formalitas; ia adalah jaminan keaslian dan kebenaran suatu ilmu. Para ulama terdahulu bahkan menegaskan bahwa ilmu tanpa sanad ibarat pohon tanpa akar yang mudah tumbang diterpa angin kebatilan.

"Ilmu tanpa sanad ibarat pohon tanpa akar --- mudah tumbang diterpa angin kebatilan."

Berbeda dengan belajar dari konten media sosial yang anonim dan tidak terverifikasi, belajar di majelis ilmu memberikan kepastian yang tidak bisa ditawarkan oleh platform digital mana pun. Di majelis ilmu, seorang pelajar tahu persis siapa gurunya, dari mana sang guru belajar, dan seterusnya hingga tersambung ke sumber keilmuan yang terpercaya. Inilah yang menjadikan majelis ilmu bukan sekadar tempat belajar, melainkan benteng penjaga kemurnian ajaran agama.

Tidak bisa dipungkiri, konten digital memiliki kelebihan tersendiri dalam hal jangkauan dan kemudahan akses. Namun kelebihan itu justru menjadi pisau bermata dua ketika digunakan untuk menyebarkan ilmu agama. Sebuah video yang ditonton jutaan orang belum tentu mengandung kebenaran. Bahkan, semakin viral sebuah konten, semakin besar potensinya untuk menyebarkan pemahaman yang keliru secara masif dan cepat.

Kasus-kasus penyebaran paham menyimpang di media sosial sudah cukup menjadi bukti nyata betapa berbahayanya belajar agama tanpa sanad yang jelas. Banyak orang dengan percaya diri menyampaikan fatwa, padahal mereka sendiri tidak pernah duduk di hadapan seorang guru yang kompeten. Inilah yang oleh para ulama disebut sebagai ilmu tanpa adab dan tanpa landasan --- yang buahnya bukan hidayah melainkan kesesatan.

"Semakin viral sebuah konten, semakin besar potensinya untuk menyebarkan pemahaman yang keliru secara masif dan cepat."

Oleh karena itu, sudah saatnya umat Islam kembali menghidupkan tradisi majelis ilmu yang selama ini mulai ditinggalkan. Bukan berarti menutup diri dari teknologi, tetapi menjadikan teknologi sebagai sarana penunjang --- bukan satu-satunya sumber utama dalam menimba ilmu agama. Carilah guru yang jelas sanadnya, duduklah di majelis ilmu yang terpercaya, dan jadikan proses belajar sebagai ibadah yang penuh kehati-hatian.

Ingat, ilmu agama bukan konten hiburan yang bisa dikonsumsi sembarangan. Ia adalah warisan para nabi yang wajib dijaga kemurniannya. Maka jangan biarkan agamamu hanya sebatas apa yang muncul di FYP-mu hari ini.