Pendidikan SD hingga SMA di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kuliah D3 IKIP Negeri Yogyakarta (sekarang UNY) dilanjutkan ke Universitas Terbuka (S1). Bekerja sebagai guru SMA (1987-2004), Kepsek (2004-2017), Pengawas Sekolah jenjang SMP (2017- 2024), dan pensiun PNS sejak 1 Februari 2024.

Pasar tumpah adalah pasar tidak resmi. Masyarakat mempunyai inisiatif berjualan karena ada lokasi yang strategis. Umumnya para pembeli adalah wwrga sekitar atau masyarakat umum yang melewati jalan di dekat lokasi berjualan tersebut.
Umumnya barang dagangan diletakkan di atas tanah atau pada lapak-lapak sederhana yang semi permanen. Pada saat menjelang hari raya (Idulfitri, misalnya) banyak pasar tumpah di berbagai daerah, khususnya wilayah yang dilalui para pemudik.
Pada area dekat persimpangan jalan, belokan jalan, atau lokasi yang sering dilalui banyak kendaraan (khususnya kendaraan roda dua) sering muncul pedagang seperti itu.
Untuk wilayah di dekat rumah kami, yaitu di Gunung Seteleng, belakang SD 003 Penajam, keberadaan pasar tumpah lain ceritanya. pasar itu tumbuh karena pasar lama dipoindahkan.
Tidak jauh dari lokasi pasar tumpah belakang SD 003 Penajam itu ada bekas pasar lama (dekat terminal darat Penajam). Dulunya, pasar lama itu cukup ramai pengunjung. Pasar itu resmi. Semakin lama pasar itu kelihatran kumuh dan kurang perawatan.
Selain itu, area pasar tergolong sempit. Pengunjung terkadang harus berdesak-desakan pada lorong-lorong pasar. Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara pun membuat pasar baru (kami menyebutnya pasar induk).
Lokasi pasar induk cukup jauh bagi warga Kelurahan Penajam dan Kelurahan Gunu8ng Seteleng yang sudah terbiasa berbelanja ke pasar lama (dekat terminal darat itu).
LOkasi pasar induk di Kelurahan Nenang, sekitar lima kilometer dari pasar lama. Masyarakat yang sudah terbiasa berbelanja di pasar lama merasa keberatan dengan kepindahah pasar tersebut.
Muncullah pasar tumpah di belakang SD 003 Penajam. Mengingat keberadaanya tidak resmi, sudah beberapa kali dirazia satpol PP. Namun, pasar tumpah beroperasi hingga saat tulisan ini dibuat.
Bahkan, lapak-lapak pedagang sudah mulai dipermanenkan. Ada penyewa lahan dan membuatkan lapak yang lebih nyaman. Para pedagang ikan laut, ayam potong, sayur-mayur, hingga sembako semakin banyak. Lapak yang dibangun pun agak ke belakang. Artinya tidak memakai badan jalan.
Hanya para pengunjung atau pembeli yang sering memarkir kendaraannya di pinggir jalan hingga terkadang memakan badan jalan yang tidak terlalu lebar tersebut.
Pada hari-hari tertentu, bulan Ramadan, misalnya, pasar tumpah tersebut selalu ramai. Khususnya menjelang berbuka puasa. Pada hari biasa pengunjung datang dan pergi. Umumnya pengunjung membeli keperluan dapur setelah itu pulang. Ada yang mengendarai sepeda motor. Ada pula yang cukup berjalan kaki pergi pulang.