
Oyen di Sekolahku Kuadopsi
Pagi itu, langit masih setengah gelap ketika saya memarkir motor di halaman sekolah. Udara terasa sejuk, sunyi, dan belum tampak aktivitas seperti biasanya. Namun, di sudut dekat taman, saya menemukan pemandangan yang tak biasa---seekor kucing berwarna oranye, yang biasa disebut "oyen," sedang berjuang melahirkan.
Saya terdiam sejenak. Antara iba dan kagum. Di tempat yang sederhana itu, kehidupan baru sedang dimulai.
"Oyen, kamu kuat ya..." gumam saya pelan.
Sejak saat itu, pikiran saya tidak tenang. Ada dorongan kuat untuk mengadopsinya, juga anak-anaknya yang mungil. Namun, kenyataan segera menyadarkan. Rumah saya sempit. Istri pun sudah berulang kali menyatakan keberatan dengan bau bulu kucing.
Lalu, bagaimana caranya?
Akhirnya saya mengambil keputusan sederhana: saya mengadopsi, tetapi tidak membawanya pulang. Saya memilih merawat Oyen di lingkungan sekolah. Di pojok taman yang agak sepi, saya dan tukang kebun sepakat menjadikannya tempat tinggal sementara.
Hari-hari berikutnya menjadi pengalaman baru bagi saya. Setiap pagi sebelum mengajar, saya menyempatkan diri membawa makanan. Kadang hanya nasi dengan lauk sederhana, kadang membeli pakan kucing. Saya juga sering menyapanya.
"Pagi, Oyen... sehat hari ini?"
Seolah mengerti, ia mengeong pelan.