Widodo Antonius
Widodo Antonius Guru

Hobi membaca menulis dan bermain musik

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Oyen di Sekolahku Kuadopsi

26 April 2026   06:00 Diperbarui: 26 April 2026   10:17 166 19 5


Oyen pasca melahirkan di tempat parkir. Foyo dokumentasi pribadi.
Oyen pasca melahirkan di tempat parkir. Foyo dokumentasi pribadi.

Oyen di Sekolahku Kuadopsi

Pagi itu, langit masih setengah gelap ketika saya memarkir motor di halaman sekolah. Udara terasa sejuk, sunyi, dan belum tampak aktivitas seperti biasanya. Namun, di sudut dekat taman, saya menemukan pemandangan yang tak biasa---seekor kucing berwarna oranye, yang biasa disebut "oyen," sedang berjuang melahirkan.

Saya terdiam sejenak. Antara iba dan kagum. Di tempat yang sederhana itu, kehidupan baru sedang dimulai.

"Oyen, kamu kuat ya..." gumam saya pelan.

Sejak saat itu, pikiran saya tidak tenang. Ada dorongan kuat untuk mengadopsinya, juga anak-anaknya yang mungil. Namun, kenyataan segera menyadarkan. Rumah saya sempit. Istri pun sudah berulang kali menyatakan keberatan dengan bau bulu kucing.

Lalu, bagaimana caranya?

Akhirnya saya mengambil keputusan sederhana: saya mengadopsi, tetapi tidak membawanya pulang. Saya memilih merawat Oyen di lingkungan sekolah. Di pojok taman yang agak sepi, saya dan tukang kebun sepakat menjadikannya tempat tinggal sementara.

Hari-hari berikutnya menjadi pengalaman baru bagi saya. Setiap pagi sebelum mengajar, saya menyempatkan diri membawa makanan. Kadang hanya nasi dengan lauk sederhana, kadang membeli pakan kucing. Saya juga sering menyapanya.

"Pagi, Oyen... sehat hari ini?"

Seolah mengerti, ia mengeong pelan.

Namun, merawat kucing liar tidak semudah yang dibayangkan. Salah satu tantangan terbesar adalah kebiasaan buang hajat. Oyen belum terbiasa menggunakan tempat yang bersih. Ia sering buang kotoran sembarangan tanpa menutupnya kembali.

Maklum, ia kucing jalanan.

Kami mencoba mengajarinya. Pasir disiapkan, tempat khusus dibuat. Butuh waktu dan kesabaran. Tidak langsung berhasil, tetapi sedikit demi sedikit ada perubahan. Ia mulai mengenali tempatnya.

Di tengah kesibukan mengajar, kehadiran Oyen menjadi hiburan tersendiri. Murid-murid pun mulai memperhatikannya. Mereka belajar tentang kepedulian, tentang kasih sayang kepada makhluk hidup.

Sayangnya, cerita ini tidak berakhir dengan saya.

Suatu hari, tukang kebun berkata, "Pak, Oyen dan anaknya saya bawa pulang saja ya. Biar lebih terurus."

Saya terdiam sejenak, lalu mengangguk. Ada rasa lega, sekaligus haru.

Kini, Oyen tidak lagi di pojok sekolah. Ia sudah memiliki rumah yang lebih layak. Saya hanya bisa menengok sesekali, menanyakan kabarnya, dan tersenyum ketika mendengar bahwa ia baik-baik saja.

Saya mungkin tidak memeliharanya sepenuhnya. Tapi setidaknya, saya pernah menjadi bagian kecil dari kisah hidupnya.

Kisahku dari Oyen, saya belajar, bahwa kepedulian tidak selalu harus sempurna. Kadang, cukup hadir... dan berbuat sebisanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2