
Di tengah semakin padatnya permukiman dan berkurangnya lahan terbuka hijau, masih ada beberapa sudut kampung yang menyimpan kesejukan alam. Ketika melihat kembali video yang direkam di rumah kedua kakakku, saya merasa ruang hijau yang mereka miliki bukan sekadar halaman rumah, melainkan sebuah berkah yang patut disyukuri.
Kakak pertamaku tinggal di Kampung Pabuaran, Cibinong, Bogor. Di sana masih terdapat ruang hijau yang cukup luas untuk menanam berbagai tanaman. Ada daun singkong yang tumbuh subur, kemangi yang harum, jagung yang berjajar rapi, serta pohon jambu air yang memberikan keteduhan. Saat melihat video yang menampilkan kebun kecil itu, saya merasa seperti kembali ke masa ketika halaman rumah menjadi sumber pangan sekaligus tempat bermain anak-anak.
Tanaman-tanaman tersebut bukan hanya mempercantik lingkungan. Daun singkong dapat dipanen untuk sayuran sehari-hari. Kemangi menjadi pelengkap hidangan yang segar. Jagung dapat dinikmati saat panen tiba, sedangkan jambu air sering menjadi rebutan anak-anak ketika buahnya mulai memerah.
Sementara itu, kakak keduaku tinggal di Kampung Narimbang Dalam, Rangkasbitung. Di sana terdapat ruang hijau yang unik karena berada di pinggir jalan dan menjadi milik bersama warga Gang Rajawali. Berbagai tanaman tumbuh di lahan tersebut, seperti pepaya, singkong, dan pohon mangga. Keberadaan tanaman bersama ini menunjukkan semangat gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat.
Saya masih ingat suasana ketika panen pepaya dilakukan. Buah-buah yang matang dipetik bersama dan hasilnya dapat dinikmati oleh warga sekitar. Tidak ada pagar tinggi yang membatasi. Yang ada justru rasa memiliki dan tanggung jawab bersama untuk merawat tanaman tersebut.

Hal yang paling saya sukai dari kedua tempat itu adalah suasana alamnya. Menjelang sore, suara jangkrik mulai terdengar dari sela-sela rerumputan. Burung-burung berkicau dan saling bersahutan dari dahan pohon. Suara alam itu menjadi musik yang menenangkan, sesuatu yang kini semakin sulit ditemukan di kawasan perkotaan.
Video ruang hijau di rumah kedua kakakku mengingatkan bahwa ruang terbuka hijau tidak harus luas seperti taman kota. Sebidang tanah yang ditanami sayuran, buah-buahan, dan pepohonan pun dapat memberikan manfaat besar. Selain menghasilkan pangan, ruang hijau juga menghadirkan udara yang lebih segar, menjaga keanekaragaman hayati, serta menjadi tempat berkumpul yang menyenangkan bagi keluarga dan warga.
Melalui video sederhana itu, saya belajar bahwa menjaga ruang hijau berarti menjaga kualitas hidup.
Semoga semakin banyak keluarga dan masyarakat yang tetap mempertahankan lahan ruang hijau ysng tersisa di sekitar rumah mereka, sehingga generasi mendatang masih dapat menikmati suara jangkrik, kicauan burung, dan hasil panen yang tumbuh dari tanah kampung sendiri.