Widodo Antonius
Widodo Antonius Guru

Hobi membaca menulis dan bermain musik

Selanjutnya

Tutup

Video

Video #2: Kelanjutan Praktik Norma Hukum

19 Oktober 2026   06:23 Diperbarui: 19 Oktober 2026   06:23 192 5 0

Tangkap layar dari video murid. Foto dokpri 
Tangkap layar dari video murid. Foto dokpri 


Video #2: Kelanjutan Praktik Norma Hukum

Murid yang Tertangkap Polisi, Belajar dari Kesalahan dan Bertobat

Belajar norma hukum tidak cukup hanya dengan membaca buku. Murid perlu memahami penerapannya melalui pengalaman, pengamatan, dan praktik nyata.

Pembelajaran Pendidikan Pancasila (PP) di kelas 5C SD Tarsisius Vireta kembali menghadirkan pengalaman belajar yang menarik. Kali ini, teman-teman melanjutkan tugas praktik penerapan norma hukum melalui sebuah video drama dengan adegan yang berbeda dari sebelumnya.

Kelompok 3 membagikan video berjudul "Murid yang Tertangkap Polisi". Ceritanya mengangkat perilaku seorang murid yang kedapatan mengonsumsi minuman keras di luar lingkungan sekolah. Seorang teman yang mengetahui kejadian tersebut kemudian melaporkannya. Peristiwa itu berlanjut pada proses penanganan oleh pihak yang berwenang hingga tokoh utama menyadari kesalahannya dan bertekad untuk bertobat.

Tentu saja, cerita ini merupakan simulasi untuk kepentingan pembelajaran. Namun, pesan moral yang disampaikan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dari Sebuah Adegan, Murid Belajar tentang Hukum

Dalam video tersebut, murid tidak sekadar berakting. Mereka belajar memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Kebebasan seseorang bukan berarti boleh melakukan apa saja tanpa memedulikan aturan dan keselamatan diri sendiri maupun orang lain.

Mengonsumsi minuman keras pada usia anak-anak juga bukan perilaku yang patut ditiru. Anak-anak perlu mendapatkan pendampingan agar mampu menolak ajakan yang berisiko dan berani mengambil keputusan yang benar.

Melalui adegan teman yang melaporkan kejadian, murid diajak memahami pentingnya kepedulian dan keberanian untuk mencari pertolongan ketika melihat perilaku yang membahayakan.

Tentu, melaporkan bukan berarti mempermalukan teman. Tujuannya adalah mencegah bahaya, meminta bantuan orang dewasa yang dapat dipercaya, dan memastikan persoalan ditangani dengan tepat.

Norma Hukum Bukan Sekadar Ancaman Hukuman

Sering kali, ketika mendengar kata hukum, yang terbayang adalah polisi, penangkapan, dan hukuman. Padahal, norma hukum memiliki tujuan yang lebih luas, yaitu menjaga ketertiban, melindungi masyarakat, serta memberikan kepastian mengenai perilaku yang diperbolehkan dan yang dilarang.

Dalam praktiknya, penanganan terhadap anak juga harus memperhatikan usia, kepentingan terbaik bagi anak, serta ketentuan hukum yang berlaku. Anak yang melakukan kesalahan perlu dibimbing dan dilindungi agar dapat memperbaiki perilakunya.

Dari video kelompok 3, murid dapat belajar bahwa melanggar aturan bukanlah hal yang patut dibanggakan. Sebaliknya, mengakui kesalahan dan bersedia memperbaiki diri merupakan sikap yang perlu ditumbuhkan.

Bertobat dan Berani Memperbaiki Diri

Bagian yang menarik dari cerita ini adalah ketika tokoh utama mulai menyadari kesalahannya dan bertobat.

Dalam kehidupan nyata, kesadaran tidak selalu muncul hanya karena seseorang mendapatkan teguran atau hukuman. Terkadang, seseorang perlu diajak berbicara, didengarkan, dan dibantu memahami akibat dari tindakannya.

Sebagai guru, saya percaya bahwa pendidikan bukan hanya tentang membuat murid mengetahui mana yang benar dan salah. Pendidikan juga membantu mereka belajar memilih tindakan yang benar, bahkan ketika tidak ada orang yang mengawasi.

Anak yang melakukan kesalahan bukan berarti kehilangan kesempatan untuk menjadi lebih baik. Ia tetap membutuhkan bimbingan, ketegasan, dan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya.

Guru sebagai Fasilitator Pembelajaran

Melalui tugas video ini, murid mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kreativitas, kemampuan bekerja sama, keberanian tampil, dan pemahaman terhadap materi Pendidikan Pancasila.

Guru tidak harus selalu menjadi satu-satunya sumber informasi. Murid pun dapat menjadi pembelajar aktif yang menyampaikan gagasan melalui drama dan media digital.

Tentu, setelah video ditayangkan, guru tetap perlu mengajak murid berdiskusi. Apa pelajaran yang dapat diambil? Mengapa kita perlu menaati norma hukum? Bagaimana sikap kita jika melihat teman melakukan tindakan yang membahayakan?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu dapat membantu murid menghubungkan cerita dengan kehidupan sehari-hari.

Belajar Hukum, Belajar Menjadi Manusia yang Bertanggung Jawab

Saya mengapresiasi kreativitas kelompok 3 kelas 5C yang telah menyajikan variasi praktik norma hukum melalui video. Semoga kegiatan ini bukan sekadar penyelesaian tugas, melainkan pengalaman belajar yang membekas dalam diri setiap murid.

Kita ingin anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang memahami aturan, menghormati hak orang lain, berani menolak perilaku negatif, dan bersedia bertanggung jawab atas tindakannya.

Sebab, tujuan pendidikan bukanlah sekadar membuat anak takut terhadap hukuman. Lebih dari itu, pendidikan membantu mereka memiliki kesadaran untuk melakukan hal yang benar.

Murid boleh melakukan kesalahan, tetapi jangan berhenti belajar menjadi lebih baik. Tegas terhadap perilaku yang salah, tetaplah memberi ruang bagi anak untuk berubah.

Salam berbagi.

Widodo Antonius

Guru SD Tarsisius Vireta Tangerang

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3