Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

PGRI Abadi dan Hikmah Dari Puncak HUT ke-80 di Britama Arena yang Ramai dan Meriah

29 November 2025   20:49 Diperbarui: 29 November 2025   21:07 75 0 1


PGRI Abadi: Hikmah dari Puncak HUT ke-80 di Britama Arena yang ramai dan meriah.

Opini yang ditulisnoleh Dr. Wijaya Kusumah (Omjay) -- Guru Blogger Indonesia. Sebuah kisah Omjay yang dituliskan dari liputan langsung HUT PGRI di Britama Arena.

Britama Arena Kelapa Gading menjadi lautan manusia pada puncak perayaan HUT ke-80 PGRI dan Hari Guru Nasional 2025. Ribuan guru dari seluruh penjuru Nusantara berkumpul dalam satu semangat: menjaga marwah organisasi profesi tertua yang lahir pada 25 November 1945 itu. Dari pintu luar arena, rombongan guru terlihat datang berkelompok, mengenakan batik PGRI Kusuma Bangsa yang menjadi simbol persatuan. Mereka datang dari segala arah---Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Papua---dengan sebuah tekad sederhana: menunjukkan bahwa PGRI tetap hidup, tetap kuat, dan tetap dicintai anggotanya.

Sebagai seorang guru blogger, saya, Omjay, meliput langsung dari lokasi. Dan jujur, saya merasakan getaran batin yang sulit disembunyikan. Ketika lagu Mars PGRI dan Hymne PGRI menggema di dalam gedung megah itu, banyak guru meneteskan air mata. Saya pun tak kuasa menahan haru. Lagu itu bukan sekadar nyanyian; ia adalah penanda perjuangan panjang guru Indonesia yang tidak pernah padam, sejak masa penjajahan hingga era digital hari ini.

Sambutan ibu ketua umum pb pgri/dokpri
Sambutan ibu ketua umum pb pgri/dokpri

Pesan Tegas Bunda Ketua Umum PB PGRI: "Di Mana Ada Guru, Di Situ Ada PGRI"

Dalam pidatonya, Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd, menyampaikan pesan kuat yang disambut tepuk tangan panjang:

 "Di mana ada guru, di situ ada PGRI. Biarkan guru bangga mengenakan Batik PGRI Kusuma Bangsa di seluruh Indonesia. Itu identitas kita. Itu keberanian kita."

Pernyataan ini bukan hanya slogan, melainkan pengingat agar guru tidak pernah merasa berjalan sendirian. PGRI adalah rumah, payung, sekaligus perisai.

Bunda Unifah juga menegaskan bahwa PGRI akan terus memperjuangkan guru agar terlindungi, profesional, dan sejahtera, termasuk melalui berbagai program seperti lomba pembelajaran mendalam (deep learning) untuk meningkatkan kompetensi guru di era teknologi.

Hadir Wakil Mendikdasmen: Penghormatan untuk Guru

Acara ini juga dihadiri Wakil Mendikdasmen, Bapak Fajar, sebagai bentuk penghormatan pemerintah terhadap keberadaan PGRI. Kehadiran beliau memberi pesan bahwa suara PGRI tetap diperhitungkan dalam dinamika kebijakan pendidikan nasional.

Namun, para guru tetap menitipkan harapan besar:
Tunjangan profesi guru dan dosen jangan dihapus.
Guru negeri dan swasta jangan terus dibedakan hanya karena status kepegawaian.

Guru swasta yang mengabdi sepenuh hati, mengajar hingga larut malam, bahkan menanggung biaya operasional sendiri, seharusnya tidak diperlakukan sebagai warga pendidikan kelas dua. Jika perlu, berikan 1 kali gaji pokok seperti yang diterima guru PNS. Keadilan harus dirasakan semua pendidik tanpa kecuali.

Guru Jangan Dipersulit Administrasi

Keluhan tentang administrasi yang menumpuk, verifikasi yang berlapis, sistem digital yang sering berubah tanpa pelatihan memadai---semua masih menjadi beban mental guru. Padahal guru seharusnya fokus pada mendidik, bukan mengurus berkas tanpa henti.

Demikian juga nasib guru honorer, guru swasta, dan guru 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Mereka berdiri di garis depan tetapi sering kali berada dalam kondisi paling sulit. PGRI harus terus menyuarakan keadilan untuk mereka.

Doa untuk Korban Bencana dan Kabar Baik dari Porsenijar Jabar

Di tengah kemeriahan acara, seluruh hadirin diminta menundukkan kepala untuk mendoakan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah bencana alam di berbagai daerah. Suasana hening, sayup terdengar isak beberapa guru. Sebuah momen spiritual yang mengingatkan kita bahwa solidaritas adalah nafas PGRI.

Sementara itu, kabar gembira datang dari Jawa Barat. Porsenijar berjalan dengan baik, dan para panitia dijamu langsung oleh Gubernur Jawa Barat sebagai bentuk penghargaan terhadap dedikasi guru. Ini bukti bahwa di banyak daerah, sinergi antara pemerintah dan guru masih terjaga dengan hangat.

Komentar Pak Prameswara: "Jika PGRI Tak Dikembalikan ke Semangat 1945..."

Salah satu komentar paling menyentuh datang dari Pak Prameswara, tokoh PGRI yang hadir dalam acara:

"Kalau organisasi guru tidak dikembalikan semangatnya seperti lahirnya PGRI 25 November 1945---satu tekad bersatu dalam satu wadah---maka perjuangan membela guru akan semakin sulit."

Beliau juga memberi peringatan keras:

"Melupakan sejarah lahirnya Hari Guru dari PGRI dan tidak mau menyandingkannya adalah upaya... dengan dalih apa pun."

Dan sebuah refleksi mendalam yang membuat banyak guru mengangguk:

"Pengurus yang sudah dibaiat harus benar-benar paham sejarah PGRI agar tidak mudah flu dan masuk angin."

Sebuah analogi yang tepat---jika pengurus tak memahami akar perjuangan, maka mereka akan mudah goyah oleh angin kebijakan dan kepentingan sesaat.

Komentar Akhmad Juhana: "Kembalikan Hari Guru-ku ke Pangkuan PGRI"

Tokoh lainnya, Akhmad Juhana, menambahkan pesan penting:

"Kembalikan Hari Guru-ku ke pangkuan PGRI... pangkuan induk semangnya."

Kalimat pendek tapi tajam, menegaskan bahwa Hari Guru Nasional harus tetap terkait erat dengan lahirnya PGRI sebagai induk yang mempersatukan perjuangan guru.

Pesan dari Lereng Gunung Lawu

Pak Prameswara kembali menambahkan cerita:

> "Saya punya sahabat dari lereng Gunung Lawu yang mendengar ada punggawa usulan PGRI...
Mereka minta agar PGRI tetap seperti maunya."

Pesan ini mengingatkan bahwa guru di pelosok pun peduli dengan arah organisasi. PGRI tidak boleh kehilangan jati dirinya, tidak boleh kehilangan kecintaan anggotanya.

PGRI Abadi: Karena Guru Tidak Pernah Mati Semangatnya

Delapan puluh tahun adalah usia panjang bagi sebuah organisasi profesi. Banyak organisasi mati di umur belasan. Banyak perkumpulan bubar di umur tiga puluhan. Tapi PGRI tetap berdiri, tetap hidup, dan tetap berdetak di dada jutaan guru.

Mengapa?
Karena PGRI bukan hanya organisasi. PGRI adalah cinta, pengabdian, dan warisan sejarah yang tak boleh dipalsukan.

Tugas guru hari ini adalah menjaga PGRI tetap kuat, tetap bersuara, dan tetap menjadi rumah besar.

Tugas pemerintah adalah mendengarkan.

Dan tugas kita semua adalah memastikan bahwa profesi guru tetap bermartabat, terlindungi, dihargai, serta mendapat hak yang layak---bukan hanya janji-janji manis setiap peringatan Hari Guru.

HUT ke-80 PGRI telah selesai. Lampu panggung telah padam. Namun api perjuangan guru tidak boleh padam.

PGRI abadi.
Guru abadi.
Perjuangan abadi.
Hidup PGRI
Solidaritas yes!

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com