Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
https://youtu.be/_mbyXtOEa2k?si=0NW7QDPqeV0Nj_qH
Omjay dan Harapan Baru Pendidikan di Era Kecerdasan Artifisial. Inilah kisah Omjay kali ini di kompasiana tercinta.
Perubahan zaman selalu datang tanpa mengetuk pintu. Ia hadir perlahan, lalu tiba-tiba terasa begitu dekat dalam kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang dirasakan oleh Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd, yang akrab disapa Omjay, seorang guru yang telah puluhan tahun mengabdikan dirinya di dunia pendidikan.
Di usia pengabdian yang tidak lagi muda, Omjay menyadari bahwa dunia pendidikan sedang memasuki babak baru: era teknologi digital dan kecerdasan artifisial.
Namun bagi Omjay, teknologi bukanlah musuh. Ia adalah sahabat baru yang harus dipahami dengan bijak.
Ketika Teknologi Mengubah Cara Belajar
Suatu pagi, Omjay membaca sebuah kebijakan nasional baru tentang pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial dalam pendidikan. Kebijakan tersebut disusun oleh tujuh kementerian untuk memastikan teknologi digunakan secara etis, aman, dan bertanggung jawab dalam dunia pendidikan.
Omjay tersenyum kecil.
Ia tahu betul bahwa teknologi memang memiliki dua sisi. Di satu sisi, teknologi dapat membuka akses ilmu pengetahuan tanpa batas. Di sisi lain, jika tidak digunakan dengan bijak, teknologi justru bisa merusak karakter dan melemahkan daya pikir siswa.
Data yang dibacanya cukup mengejutkan. Sebagian besar anak Indonesia kini telah memiliki akses ke telepon genggam dan internet sejak usia dini. Bahkan banyak anak menghabiskan berjam-jam di depan layar setiap hari.
"Kalau guru tidak siap, anak-anak akan belajar sendiri dari internet," gumam Omjay dalam hati.
Ia sadar bahwa peran guru kini semakin penting. Guru bukan lagi satu-satunya sumber ilmu, tetapi menjadi pembimbing yang menuntun siswa agar tidak tersesat di dunia digital.
Guru Tetap Menjadi Pengendali
Dalam kebijakan tersebut dijelaskan bahwa teknologi, termasuk kecerdasan artifisial, harus tetap berada di bawah kendali manusia. Teknologi hanyalah alat bantu, bukan pengganti akal dan nurani manusia.
Omjay sangat setuju dengan prinsip itu.
Selama puluhan tahun menjadi guru, ia percaya bahwa pendidikan bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran. Pendidikan adalah membentuk karakter, menanamkan nilai, dan menumbuhkan rasa kemanusiaan.
Hal-hal itu tidak bisa digantikan oleh mesin.
Ia pernah melihat bagaimana siswa begitu cepat mencari jawaban dengan bantuan teknologi. Tugas selesai dalam hitungan menit. Tetapi ketika ditanya mengapa jawabannya demikian, banyak yang tidak mampu menjelaskan.
"Ini yang disebut utang kognitif," pikir Omjay.
Teknologi membuat pekerjaan cepat selesai, tetapi bisa melemahkan kemampuan berpikir jika digunakan tanpa bimbingan.
Di sinilah peran guru menjadi sangat penting.
Mengajarkan Etika Digital kepada Siswa
Omjay kemudian mencoba mengubah cara mengajarnya.
Ia tidak melarang siswa menggunakan teknologi. Sebaliknya, ia mengajarkan cara menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Ia sering berkata kepada murid-muridnya:
"Teknologi itu seperti pisau. Bisa digunakan untuk memasak, tapi juga bisa melukai orang. Semua tergantung siapa yang memegangnya."
Omjay mulai mengajak siswa berdiskusi tentang berbagai hal:
bagaimana membedakan berita benar dan hoaks
bagaimana menjaga privasi di internet
bagaimana menghormati orang lain di media sosial
bagaimana menggunakan kecerdasan artifisial untuk belajar, bukan untuk menyontek
Ia ingin murid-muridnya tidak hanya pintar menggunakan teknologi, tetapi juga bijak dalam memanfaatkannya.
Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat Harus Bersama
Dalam kebijakan tersebut juga dijelaskan bahwa pendidikan digital tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Keluarga memiliki peran besar dalam mendampingi anak menggunakan teknologi.
Omjay sangat memahami hal itu.
Ia sering melihat siswa yang kecanduan gawai karena tidak ada pengawasan di rumah. Banyak anak bermain ponsel hingga larut malam, bahkan saat jam belajar.
Karena itu, Omjay sering mengajak orang tua untuk berdiskusi.
Ia mengingatkan bahwa pendidikan anak bukan hanya tugas guru.
"Sekolah hanya bertemu anak beberapa jam. Selebihnya mereka bersama keluarga," kata Omjay kepada para orang tua.
Ia mendorong keluarga untuk menciptakan waktu tanpa gawai, agar anak-anak tetap memiliki kehidupan sosial yang sehat.
Menjadi Guru di Tengah Perubahan Zaman
Sebagai guru yang telah mengajar lebih dari tiga dekade, Omjay telah melewati banyak perubahan.
Ia pernah mengajar dengan kapur dan papan tulis.
Lalu datang komputer.
Kemudian internet.
Sekarang kecerdasan artifisial.
Setiap perubahan selalu menghadirkan tantangan baru.
Namun Omjay tidak pernah menyerah.
Ia percaya bahwa guru harus terus belajar.
"Guru yang berhenti belajar, sebenarnya sudah berhenti mengajar," katanya suatu hari kepada rekan-rekan guru.
Karena itulah ia tetap menulis, membaca, dan berbagi pengalaman kepada banyak guru di seluruh Indonesia.
Harapan Omjay untuk Masa Depan Pendidikan
Di penghujung hari, Omjay duduk di ruang kerjanya sambil memandang layar laptop.
Ia melihat masa depan pendidikan Indonesia sedang berubah.
Teknologi akan terus berkembang. Kecerdasan artifisial akan semakin canggih. Dunia akan bergerak semakin cepat.
Namun satu hal yang tidak boleh hilang adalah nilai kemanusiaan dalam pendidikan.
Bagi Omjay, teknologi hanyalah alat.
Yang paling penting tetaplah manusia.
Guru yang penuh kasih.
Orang tua yang peduli.
Dan anak-anak yang tumbuh dengan karakter kuat.
Omjay percaya bahwa jika teknologi digunakan dengan bijak, pendidikan Indonesia justru akan menjadi lebih baik.
Ia tersenyum sambil menutup laptopnya.
Di dalam hatinya ia berdoa:
Semoga di tengah derasnya arus teknologi, anak-anak Indonesia tetap tumbuh menjadi manusia yang berakhlak, cerdas, dan berkarakter.
Karena pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan sekadar membuat anak pintar.
Tetapi membuat mereka menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.
Dan selama masih ada guru yang mengajar dengan hati seperti Omjay, harapan itu akan selalu hidup.
Berikut beberapa pilihan kalimat penutup yang sangat menyentuh hati dan bisa membuat pembaca terharu untuk kisah Omjay.
Malam semakin larut. Lampu ruang kerja Omjay masih menyala. Di hadapannya terbuka buku, laptop, dan catatan kecil berisi ide-ide untuk murid-muridnya.
Ia sadar, usianya tidak lagi muda. Rambutnya mulai memutih, tubuhnya tak lagi sekuat dulu. Namun cintanya kepada dunia pendidikan tidak pernah pudar.
Omjay tahu, mungkin suatu hari nanti ia akan berhenti mengajar di kelas. Tapi satu hal yang ia yakini, ilmu yang ia tanamkan akan terus hidup di hati murid-muridnya.
Mungkin murid-murid itu akan menjadi dokter, guru, insinyur, pemimpin, atau orang-orang biasa yang bekerja dengan jujur.
Namun setiap kali mereka berbuat baik kepada sesama, di situlah sesungguhnya jejak seorang guru tetap hidup.
Omjay menutup laptopnya perlahan.
Di dalam hatinya ia berbisik pelan,
"Jika suatu hari nanti murid-muridku lupa namaku, tak apa.
Asal mereka tidak lupa menjadi manusia yang baik."
Dan di situlah air mata seorang guru jatuh diam-diam---
bukan karena lelah,
tetapi karena cinta yang begitu besar kepada generasi masa depan.
Omjay mungkin hanyalah seorang guru sederhana yang mengajar di ruang kelas yang biasa saja.
Namun setiap hari ia menyalakan lilin kecil bernama harapan.
Ia tahu lilin itu mungkin tak terlihat oleh banyak orang.
Tetapi dari lilin kecil itulah kelak akan lahir cahaya-cahaya besar yang menerangi negeri ini.
Dan ketika suatu hari nanti Omjay tidak lagi berada di kelas,
murid-muridnya akan tetap berjalan membawa cahaya itu.
Karena begitulah cara seorang guru hidup selamanya---
bukan dalam jabatan,
bukan dalam penghargaan,
tetapi dalam hati murid-muridnya.
Penutup
Banyak orang mengenang pahlawan dengan patung dan monumen.
Tetapi seorang guru sering kali pergi tanpa meninggalkan tanda apa pun.
Namanya mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah.
Namun di hati murid-muridnya, ia tetap hidup sebagai orang yang pernah menyalakan mimpi.
Omjay memahami itu.
Karena bagi seorang guru, kebahagiaan terbesar bukanlah ketika dirinya dikenang.
Tetapi ketika murid-muridnya berhasil melampaui dirinya.
Dan saat itulah, tanpa disadari, seorang guru telah menulis sejarahnya sendiri---
di dalam kehidupan banyak orang.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com
