Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Sekolah Rakyat dan Harapan Baru Pendidikan bagi Anak-anak dari Keluarga Miskin
Ketika pendidikan menjadi barang mahal, kemiskinan pun diwariskan. Kalimat ini mungkin terdengar pahit, tetapi itulah realitas yang masih dihadapi jutaan keluarga di Indonesia. Banyak anak cerdas terpaksa berhenti sekolah bukan karena malas belajar, melainkan karena keterbatasan ekonomi. Di tengah kenyataan itulah, peresmian 166 Sekolah Rakyat oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menghadirkan secercah harapan baru.
Pada Senin, 12 Januari 2026, Presiden meresmikan 166 Sekolah Rakyat yang tersebar di 34 provinsi. Peresmian dipusatkan di Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 9 Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya agenda kenegaraan biasa. Namun bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem, Sekolah Rakyat adalah tiket kehidupan yang mengubah masa depan.
Pendidikan yang Tidak Lagi Menyisihkan
Sekolah Rakyat dirancang sebagai pendidikan gratis dan berasrama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, terutama yang masuk kategori Desa Tertinggal, Sangat Miskin, dan Ekstrem (DTSEN). Negara tidak hanya membiayai sekolahnya, tetapi juga tempat tinggal, makan, seragam, hingga pendampingan sosial.
Inilah yang membedakan Sekolah Rakyat dengan sekolah pada umumnya. Pendidikan tidak lagi setengah-setengah. Anak-anak tidak perlu memikirkan apakah besok bisa makan atau tidak. Mereka cukup fokus belajar, tumbuh, dan bermimpi.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang bangsa, bukan proyek populis sesaat. Negara harus hadir secara nyata bagi rakyat yang paling membutuhkan, bukan hanya lewat bantuan sosial, tetapi melalui pendidikan yang memerdekakan.
Ketika Sekolah Menjadi Rumah Kedua
Model berasrama dalam Sekolah Rakyat bukan tanpa alasan. Banyak anak dari keluarga miskin hidup dalam lingkungan yang tidak kondusif untuk belajar: rumah sempit, orang tua bekerja seharian, bahkan sebagian harus ikut mencari nafkah. Sekolah Rakyat menjawab problem ini dengan menyediakan lingkungan aman, sehat, dan terstruktur.
Di Sekolah Rakyat, siswa tidak hanya diajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Mereka juga dibekali pendidikan karakter, kedisiplinan, kerja sama, dan kepercayaan diri. Sekolah menjadi rumah kedua yang menumbuhkan harapan dan rasa percaya bahwa mereka juga berharga sebagai warga negara.
Menyasar Akar Masalah Kemiskinan
Data menunjukkan bahwa sekitar 8,57 persen penduduk Indonesia atau lebih dari 24 juta jiwa masih hidup di bawah garis kemiskinan. Selama ini, kemiskinan sering diwariskan dari orang tua ke anak. Pendidikan rendah, pekerjaan terbatas, dan siklus itu terus berulang.
Sekolah Rakyat hadir sebagai upaya memutus rantai kemiskinan secara struktural. Anak-anak dari keluarga miskin diberi kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan berkualitas. Bukan tidak mungkin, dari Sekolah Rakyat kelak lahir guru, perawat, insinyur, bahkan pemimpin bangsa.
Sebaran Luas, Harapan Merata
Sebanyak 166 Sekolah Rakyat telah beroperasi sejak 2025 melalui beberapa tahap. Persebarannya mencakup seluruh wilayah Indonesia:
Pulau Jawa
Sumatera
Sulawesi
Kalimantan
Maluku
Bali dan Nusa Tenggara
Papua
Saat ini, sekitar 16.000 siswa telah mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat, didampingi oleh ribuan guru dan tenaga kependidikan. Angka ini mungkin belum besar jika dibandingkan jumlah penduduk miskin nasional, tetapi ini adalah awal yang sangat berarti.
Tantangan yang Tidak Bisa Diabaikan
Sebagai sebuah program besar, Sekolah Rakyat tentu tidak bebas tantangan. Ketersediaan guru berkualitas, pembangunan fasilitas permanen, serta keberlanjutan pendanaan menjadi pekerjaan rumah yang serius. Jangan sampai Sekolah Rakyat hanya bagus di awal, lalu melemah di tengah jalan.
Selain itu, kualitas pembelajaran harus terus dijaga. Anak-anak dari keluarga miskin tidak membutuhkan sekolah "kelas dua". Mereka justru berhak atas pendidikan terbaik, karena dari merekalah masa depan bangsa diuji.
Harapan Seorang Warga Pendidikan
Sebagai bagian dari masyarakat pendidikan, saya melihat Sekolah Rakyat bukan sekadar program pemerintah, melainkan cermin keberpihakan negara. Ketika negara berani berinvestasi pada anak-anak miskin, sejatinya negara sedang menyelamatkan masa depannya sendiri.
Harapan saya, Sekolah Rakyat tidak berhenti pada angka 166. Target pemerintah untuk membangun Sekolah Rakyat permanen di setiap kabupaten/kota patut didukung bersama. Pemerintah pusat, daerah, dunia usaha, dan masyarakat harus bergandengan tangan.
Menuju Indonesia yang Lebih Adil
Pendidikan sejatinya adalah alat paling ampuh untuk menciptakan keadilan sosial. Sekolah Rakyat menunjukkan bahwa anak miskin bukan anak gagal, mereka hanya belum diberi kesempatan. Ketika kesempatan itu datang, tugas kita bersama adalah memastikan mereka tidak berjalan sendirian.
Jika Sekolah Rakyat dikelola dengan sungguh-sungguh, kelak kita tidak hanya mengenang program ini sebagai kebijakan, tetapi sebagai sejarah ketika negara benar-benar hadir untuk rakyatnya. Sebuah langkah kecil yang bisa membawa Indonesia menuju Indonesia Emas 2045, dengan generasi yang cerdas, berkarakter, dan berkeadilan.
Salam Blogger Persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia
