Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Banjir Datang Lagi di Jatibening Bekasi

29 Januari 2026   16:28 Diperbarui: 29 Januari 2026   16:42 70 3 1

Astaghfirullah banjir di depan rumah omjay pagi tadi. Banjir Datang Lagi di Jatibening: Ketika Omjay Terjebak Air, Tapi Hatinya Tetap di Sekolah. Inilah kisah Omjay di kompasiana.

Banjir di depan rumah Omjay/dokpri
Banjir di depan rumah Omjay/dokpri

Pagi itu, Jatibening kembali basah oleh luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh. Hujan semalam tak hanya meninggalkan genangan, tetapi juga kecemasan yang sudah terlalu akrab bagi warganya. Air merambat pelan, lalu tiba-tiba berkuasa. Jalan utama menuju keluar rumah Omjay berubah menjadi sungai dadakan. Air setinggi selutut orang dewasa menutup akses, menenggelamkan niat, dan memaksa langkah berhenti.

Omjay berdiri di balik pagar rumahnya. Tas kerja sudah siap sejak subuh. Kemeja sudah rapi. Sepatu sudah dipoles. Seperti hari-hari biasa, ia bersiap berangkat ke sekolah---tempat ia merasa paling hidup sebagai guru. Namun pagi itu, yang menyambut bukan jalanan, melainkan air keruh yang diam tapi mengancam. Tidak deras, tapi cukup dalam untuk membuat siapa pun berpikir ulang.

Bagi sebagian orang, tidak masuk kerja karena banjir mungkin terdengar wajar. Tapi bagi Omjay, keputusan itu tidak pernah mudah. Menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati. Ada rasa bersalah yang mengendap ketika ia harus mengirim pesan singkat ke sekolah: "Mohon izin, hari ini saya tidak bisa hadir. Jalan keluar rumah terendam banjir."

Kalimat itu singkat, tapi berat.

Air selutut orang dewasa bukan sekadar ukuran fisik. Ia adalah simbol keterbatasan, ketidakberdayaan, dan ironi. Di negeri yang saban tahun diterpa banjir, seorang guru yang ingin mengajar justru terhenti oleh masalah yang sama, berulang, dan seolah tak pernah benar-benar diselesaikan. Jalan yang seharusnya menjadi penghubung menuju masa depan, justru berubah menjadi penghalang.

Omjay memandang air itu lama. Di permukaannya, terpantul langit kelabu, kabel listrik, dan bayangan rumah-rumah yang lelah. Tapi yang paling jelas terpantul adalah wajah kegelisahan. Ia membayangkan murid-muridnya di sekolah: apakah mereka juga terhambat banjir? Apakah ada yang tidak bisa datang? Apakah ada yang datang dengan sepatu basah dan seragam setengah kering?

Sebagai guru, Omjay terbiasa menguatkan orang lain. Tapi pagi itu, ia harus belajar menerima kenyataan bahwa dirinya pun rapuh. Banjir tidak hanya menggenangi jalan, tetapi juga menguji kesabaran dan keteguhan hati. Ia tahu, memaksakan diri menerobos air berisiko besar---terpeleset, tersengat listrik, atau jatuh sakit. Namun hati kecilnya tetap memberontak: "Anak-anak menunggu."

Di ruang tamu rumahnya, Omjay duduk sambil menatap ponsel. Grup WhatsApp sekolah ramai. Ada guru yang terlambat, ada siswa yang izin, ada kabar genangan di beberapa titik. Di sana, Omjay menemukan penghiburan kecil: ia tidak sendiri. Banjir adalah musuh bersama, yang menyerang tanpa pandang profesi, usia, atau niat baik.

Namun tetap saja, rasa sedih itu ada. Guru sering diminta hadir sepenuh hati di kelas, menjadi teladan kedisiplinan, ketekunan, dan pengabdian. Tapi jarang ada yang bertanya: bagaimana perasaan guru ketika ingin hadir, tapi tak bisa? Bagaimana rasanya ketika panggilan tugas kalah oleh genangan air?

Omjay memilih melakukan yang bisa ia lakukan. Ia mengirim pesan penyemangat ke murid-muridnya. Ia berdiskusi singkat dengan rekan guru tentang materi yang bisa disesuaikan. Ia membaca, menulis, dan merenung. Dari balik rumah yang terkurung banjir, ia tetap menjadi guru---meski tanpa papan tulis dan bangku kelas.

Banjir di Jatibening bukan cerita baru. Ia datang hampir setiap tahun, seperti tamu tak diundang yang selalu tahu jalan. Setiap kali datang, ia membawa cerita serupa: aktivitas terhenti, rencana berantakan, dan harapan yang kembali diuji. Tapi di balik semua itu, ada keteguhan orang-orang biasa---termasuk guru seperti Omjay---yang tetap ingin berbuat terbaik di tengah keterbatasan.

Menjelang siang, air belum juga surut. Omjay kembali menatap jalan yang masih tak bersahabat. Ia menarik napas panjang. Ada pasrah, tapi bukan menyerah. Ia tahu, esok atau lusa, ia akan kembali melangkah. Mengajar lagi. Menyapa murid-muridnya dengan senyum, mungkin sambil bercanda, "Bapak kemarin kalah sama banjir."

Dan murid-murid itu mungkin akan tertawa, tanpa tahu betapa beratnya hari ini bagi gurunya.

Banjir hari ini mengajarkan satu hal penting: pengabdian tidak selalu harus hadir secara fisik. Kadang, ia hadir dalam kesabaran, dalam doa diam-diam, dan dalam keinginan kuat untuk tetap setia pada peran, meski keadaan belum berpihak. Omjay mungkin terjebak di rumah, tapi jiwanya tetap sampai ke sekolah.

Karena guru sejati, seperti Omjay, tidak pernah benar-benar absen. Bahkan ketika jalan terendam air selutut orang dewasa.

Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

omjay guru blogger Indonesia/dokpi
omjay guru blogger Indonesia/dokpi