Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Banjir di Aceh Terasa Sampai Bekasi

30 Januari 2026   20:47 Diperbarui: 31 Januari 2026   09:42 109 6 3

Omjay guru blogger Indonesia/dokpri
Omjay guru blogger Indonesia/dokpri

Banjir Aceh kini terasa sampai Bekasi.

Aceh Terendam, Hati Kami Ikut Tenggelam
Kisah Omjay tentang banjir yang mengubah rasa aman menjadi ketakutan

Omjay masih ingat jelas pesan itu datang. Bukan pesan panjang, hanya sapaan yang pelan tapi berat: "Bagaimana sekarang Om Jay, apa di sana masih banjir?"
Pertanyaan sederhana, tapi di baliknya tersimpan trauma yang belum kering. Trauma yang tidak bisa dihapus hanya dengan surutnya air.

Banjir memang bukan cerita baru bagi negeri ini. Tapi bagi sebagian orang, banjir adalah tamu yang tak pernah diundang dan tak pernah dibayangkan datang. Begitulah yang terjadi di Aceh pada 26 November 2025. Daerah yang selama umur-umur tak pernah sekalipun terendam air hujan, tiba-tiba luluh lantak oleh air yang datang tanpa permisi.

Hari itu hujan turun tanpa jeda. Langit seperti lupa caranya cerah. Sekolah diliburkan, peserta didik tak ada, halaman sekolah kosong, tapi kekhawatiran justru penuh. Saat itu, beliau masih berada di sekolah. Tidak menyangka bahwa di rumah, air sedang menyiapkan kejutan terburuknya.

Begitu sampai rumah, air sudah masuk setinggi mata kaki. Masih ada harapan saat itu---ah, paling sebentar juga surut. Tapi banjir tidak kenal harapan. Tidak sampai lama, air naik menjadi selutut. Panik mulai mengambil alih pikiran. Tubuh gemetar, bukan karena dingin, tapi karena takut.


Dalam kepanikan itu, pikiran hanya tertuju pada satu hal: ijazah, SK, dan surat-surat penting. Bertahun-tahun mengabdi, berjuang sebagai guru, semua bukti hidup ada di kertas-kertas itu. Jika hilang, bukan hanya dokumen yang lenyap, tapi juga sejarah dan martabat.

Air terus naik. Hampir sepinggang. Tak ada waktu lagi untuk menyelamatkan apa pun selain nyawa. Akhirnya, dengan langkah tertatih dan hati berdebar, Omjay dan anak-anak keluar rumah untuk mengungsi. Di luar, pemandangan lebih mencekam. Air sudah setinggi dada orang dewasa. Jalanan hilang. Batas rumah dan sungai tak lagi jelas.

Tetangga di belakang rumah bahkan lebih dulu pasrah. Sejak malam mereka sudah mengungsi ke meunasah. Rumah mereka terendam hingga dua setengah meter. Dinding yang biasanya menjadi pelindung kini hanya saksi bisu bagaimana air mengambil alih segalanya.

Tiga hari mengungsi bukan waktu yang singkat. Tiga hari tidur dengan kecemasan, bangun dengan kabar air belum surut, dan berdoa agar rumah masih berdiri. Anak-anak belajar arti kehilangan lebih cepat dari seharusnya. Orang dewasa belajar bahwa rasa aman bisa runtuh dalam hitungan jam.

Hari keempat, air akhirnya surut. Tapi surutnya air bukan akhir penderitaan. Saat kembali ke rumah, Omjay berdiri terpaku. Barang-barang berjatuhan, lemari roboh, lumpur menempel di dinding, bau tak sedap memenuhi ruangan. Rumah yang dulu rapi berubah menjadi puing kenangan.

Membersihkan rumah pasca banjir bukan pekerjaan sehari dua hari. Bahkan sebulan berlalu pun rasanya belum benar-benar beres. Lumpur bisa dibersihkan, tapi trauma tinggal lebih lama. Setiap hujan deras datang, jantung berdegup lebih kencang dari biasanya.


Di Aceh, banjir ini bukan sekadar bencana alam. Ia adalah pelajaran pahit tentang rapuhnya hidup, tentang betapa kecilnya manusia di hadapan alam, dan tentang pentingnya empati. 

Banyak yang kehilangan harta, sebagian kehilangan harapan, tapi tidak sedikit yang justru menemukan kekuatan baru. Mereka bercerita kepada Omjay.

Omjay menulis kisah ini bukan untuk mengeluh, tapi untuk mengingatkan: di balik angka korban dan berita singkat di layar ponsel, ada cerita panjang tentang ketakutan, kehilangan, dan perjuangan bangkit. Ada guru yang tetap memikirkan muridnya meski rumahnya terendam. Ada orang tua yang mendahulukan anaknya meski dirinya sendiri gemetar.

Banjir Aceh mengajarkan satu hal penting: solidaritas adalah perahu terbaik saat air datang. Uluran tangan saudara, pintu rumah yang dibuka tanpa banyak tanya, dan doa yang dipanjatkan bersama---itulah yang membuat kami bertahan.

Air boleh datang dan pergi. Tapi kisah ini akan tinggal lama, mengalir di ingatan, agar kita tidak lupa bahwa di negeri ini, bencana bisa datang kapan saja, dan satu-satunya yang bisa kita andalkan adalah kemanusiaan.

Kalau Omjay mau, saya bisa menyesuaikan gaya untuk Melintas.id, menambahkan judul viral + teaser, atau membuat versi lebih emosional dan menggugat negara. Tinggal bilang.

Salam blogger persahabatan 

Omjay/Kakek Jay

Guru blogger Indonesia 

Blog https://wijayalabs.com

Omjay guru blogger Indonesia/dokpri
Omjay guru blogger Indonesia/dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3