Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Tiga hari mengungsi bukan waktu yang singkat. Tiga hari tidur dengan kecemasan, bangun dengan kabar air belum surut, dan berdoa agar rumah masih berdiri. Anak-anak belajar arti kehilangan lebih cepat dari seharusnya. Orang dewasa belajar bahwa rasa aman bisa runtuh dalam hitungan jam.
Hari keempat, air akhirnya surut. Tapi surutnya air bukan akhir penderitaan. Saat kembali ke rumah, Omjay berdiri terpaku. Barang-barang berjatuhan, lemari roboh, lumpur menempel di dinding, bau tak sedap memenuhi ruangan. Rumah yang dulu rapi berubah menjadi puing kenangan.
Membersihkan rumah pasca banjir bukan pekerjaan sehari dua hari. Bahkan sebulan berlalu pun rasanya belum benar-benar beres. Lumpur bisa dibersihkan, tapi trauma tinggal lebih lama. Setiap hujan deras datang, jantung berdegup lebih kencang dari biasanya.
Di Aceh, banjir ini bukan sekadar bencana alam. Ia adalah pelajaran pahit tentang rapuhnya hidup, tentang betapa kecilnya manusia di hadapan alam, dan tentang pentingnya empati.
Banyak yang kehilangan harta, sebagian kehilangan harapan, tapi tidak sedikit yang justru menemukan kekuatan baru. Mereka bercerita kepada Omjay.
Omjay menulis kisah ini bukan untuk mengeluh, tapi untuk mengingatkan: di balik angka korban dan berita singkat di layar ponsel, ada cerita panjang tentang ketakutan, kehilangan, dan perjuangan bangkit. Ada guru yang tetap memikirkan muridnya meski rumahnya terendam. Ada orang tua yang mendahulukan anaknya meski dirinya sendiri gemetar.
Banjir Aceh mengajarkan satu hal penting: solidaritas adalah perahu terbaik saat air datang. Uluran tangan saudara, pintu rumah yang dibuka tanpa banyak tanya, dan doa yang dipanjatkan bersama---itulah yang membuat kami bertahan.
Air boleh datang dan pergi. Tapi kisah ini akan tinggal lama, mengalir di ingatan, agar kita tidak lupa bahwa di negeri ini, bencana bisa datang kapan saja, dan satu-satunya yang bisa kita andalkan adalah kemanusiaan.
Kalau Omjay mau, saya bisa menyesuaikan gaya untuk Melintas.id, menambahkan judul viral + teaser, atau membuat versi lebih emosional dan menggugat negara. Tinggal bilang.
Salam blogger persahabatan