Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Omjay Menonton Film Netflix Keluarga Yang Tak Dirindukan

15 Februari 2026   05:48 Diperbarui: 15 Februari 2026   13:58 372 12 2


Serial itu seperti cermin.

Ada satu adegan ketika sang anak memendam kecewa pada ayahnya, bukan karena tidak cinta, tetapi karena merasa hidupnya ikut terhenti. Padahal semua uang ayahnya sudah diberikan semuanya untuk kedua anaknya. 

Anak tertua menipu sertifikat rumah dan menipu pembelian emas ibunya dengan emas palsu. Sementara adiknya memakai uang naik haji bapak ibunya untuk usaha yang ternyata bangkrut di Semarang.

Omjay menatap layar lebih dalam. Betapa sering dalam keluarga, luka tidak datang dari kebencian, tetapi dari harapan yang tak terpenuhi. Kedua anaknya jahat. Ayah dan ibunya keluar dari rumah yang dibangunnya.

"Keluarga yang Tak Dirindukan."

Judulnya seperti paradoks. Siapa yang tidak merindukan keluarga? Namun Omjay mulai memahami maknanya. Ada kalanya keluarga menjadi tempat paling nyaman, tapi juga tempat paling menyakitkan. Tempat kita pulang, sekaligus tempat kita diuji.

Sebagai guru yang setiap hari berinteraksi dengan siswa, Omjay menyadari satu hal penting: banyak anak di sekolah membawa beban rumah ke ruang kelas. 

Mereka tampak biasa saja, tetapi hatinya mungkin sedang retak. Ada yang orang tuanya bercerai. Ada yang ayahnya sakit. Ada yang harus membantu ekonomi keluarga. Tidak semua luka terlihat. Guru harus jeli melihatnya.

Film itu menyadarkan Omjay kembali tentang pentingnya empati.

Omjay teringat pesan yang sering ia sampaikan kepada murid-muridnya: "Sekolah bukan hanya tempat belajar pelajaran, tapi tempat belajar kehidupan." Dan malam itu, Netflix justru menjadi ruang belajar bagi dirinya sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5