Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

EPILOG: Jika Suatu Hari Saya Harus Pergi
Nama saya Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Banyak yang mengenal saya sebagai Omjay. Guru. Penulis. Guru Blogger Indonesia. Anggota PGRI yang bangga dengan Persatuan Guru Republik Indonesia.
Namun di balik panggilan itu, saya hanyalah manusia biasa. Tubuh saya tidak selalu sekuat semangat saya. Beberapa tahun terakhir, saya belajar satu pelajaran penting: waktu adalah sesuatu yang sangat berharga, dan sehat adalah nikmat yang sering kali baru kita sadari ketika ia mulai berkurang.
Saya hidup dengan darah tinggi dan diabetes. Dua penyakit yang sering dianggap biasa, tetapi perlahan-lahan menggerogoti daya tahan tubuh. Saya sudah merasakan keluar masuk rumah sakit. Sudah lima rumah sakit yang menjadi saksi perjalanan fisik dan batin saya.
Saya pernah dirawat di Rumah Sakit Immanuel Bandung.
Saya pernah terbaring lemah di Rumah Sakit Antam Medika.
Saya pernah menjalani perawatan di Rumah Sakit Masmitra.
Saya juga pernah dirawat di Rumah Sakit Harum.
Dan terakhir, saya menjalani perawatan di Rumah Sakit Siloam.
Setiap kamar rumah sakit itu bukan hanya tempat tidur dan infus. Ia menjadi ruang perenungan. Tempat saya berbicara dengan diri sendiri. Tempat saya berdialog dengan Tuhan.
Ketika Tubuh Melemah, Pikiran Justru Menguat
Ada malam-malam panjang ketika suara mesin medis menjadi teman setia. Jarum infus menempel di tangan. Tekanan darah naik turun. Gula darah tak stabil. Dokter dan perawat datang silih berganti.
Di saat seperti itu, saya tidak lagi memikirkan jabatan, tidak memikirkan popularitas, tidak memikirkan penghargaan. Saya hanya memikirkan satu hal: apakah hidup saya sudah cukup berarti?
Saya memikirkan murid-murid saya. Saya memikirkan tulisan-tulisan saya. Saya memikirkan perjuangan bersama teman-teman PGRI. Saya memikirkan apakah apa yang saya lakukan selama ini benar-benar memberi dampak.
Di atas ranjang rumah sakit, saya sadar bahwa yang abadi bukanlah tubuh. Yang abadi adalah karya dan kebaikan.
Lima Rumah Sakit, Lima Babak Kehidupan
Setiap rumah sakit memberi saya pelajaran.
Di Bandung, saya belajar menerima bahwa tubuh saya tidak lagi muda.
Di Jakarta Timur, saya belajar bahwa dukungan keluarga adalah obat paling mujarab.
Di Bekasi, saya belajar bahwa sahabat seperjuangan tidak pernah meninggalkan.
Ketika kabar saya dirawat menyebar, pesan-pesan doa berdatangan. Guru-guru dari berbagai daerah mengirimkan kalimat sederhana: "Semoga lekas sembuh, Omjay."
Ada yang mungkin tidak pernah bertemu saya secara langsung, tetapi merasa dekat karena tulisan. Ada yang mengenal saya dari seminar, dari pelatihan, dari grup diskusi PGRI.
Di saat saya lemah, saya justru merasakan betapa luasnya keluarga ini.

Buku Ini Adalah Warisan
Saat terbaring di rumah sakit terakhir, saya berkata dalam hati:
"Jika suatu hari saya harus pergi, apa yang akan saya tinggalkan?"
Saya bukan pejabat besar. Saya bukan tokoh nasional. Saya hanyalah guru yang menulis. Maka saya memutuskan, buku ini harus selesai. Buku ini harus menjadi warisan.
Bukan warisan harta.
Bukan warisan materi.
Tetapi warisan pemikiran dan semangat.
Saya ingin ketika suatu hari nanti nama saya hanya tinggal kenangan, tulisan-tulisan ini masih bisa dibaca. Masih bisa menguatkan guru yang sedang lelah. Masih bisa mengingatkan bahwa perjuangan tidak boleh berhenti.
Jika ajal benar-benar datang menjemput, saya ingin pergi dengan tenang. Karena saya tahu, ada jejak yang saya tinggalkan.
Untuk Saudara-Saudaraku di PGRI
Kepada sahabat-sahabat seperjuangan di PGRI, izinkan saya berbicara dari hati terdalam.
Jika suatu hari saya tidak lagi hadir dalam forum-forum diskusi, tidak lagi aktif menulis di grup, tidak lagi berdiri di depan kelas untuk berbagi, jangan kenang saya sebagai orang yang sakit.
Kenang saya sebagai guru yang berusaha tidak menyerah.
Saya percaya PGRI bukan sekadar organisasi. Ia adalah rumah besar yang dibangun dengan air mata, perjuangan, dan doa. Saya merasa terhormat menjadi bagian kecil dari perjalanan panjang itu.
Jika buku ini sampai ke tangan Anda, bacalah bukan sebagai kisah tentang penyakit. Bacalah sebagai kisah tentang keteguhan hati.
Saya ingin anggota PGRI yang membacanya menyadari satu hal: waktu kita terbatas. Jangan tunda berbuat baik. Jangan tunda berkarya. Jangan tunda bersatu.
Penyakit Mengajarkan Kerendahan Hati
Darah tinggi dan diabetes membuat saya belajar banyak tentang kerendahan hati. Tubuh yang dulu terasa kuat kini mudah lelah. Aktivitas yang dulu ringan kini perlu jeda.
Namun saya tidak ingin penyakit menjadi alasan untuk berhenti berkarya.
Justru di sela-sela kontrol kesehatan, di antara jadwal minum obat, saya semakin terdorong untuk menulis lebih banyak. Karena saya tidak tahu berapa lama lagi waktu yang diberikan.
Setiap tulisan adalah doa.
Setiap kalimat adalah napas.
Setiap buku adalah jejak kehidupan.
Jika Air Mata Itu Jatuh
Mungkin ketika Anda membaca bagian ini, air mata mulai jatuh. Jika iya, izinkan saya mengatakan sesuatu: jangan menangis karena saya sakit.
Menangislah jika suatu hari guru-guru kehilangan semangat.
Menangislah jika persatuan mulai retak.
Menangislah jika pendidikan kehilangan arah.
Tetapi jika yang kita jaga adalah kebersamaan dan semangat perjuangan, maka tidak ada yang perlu ditangisi.
Saya tidak takut mati. Saya hanya takut tidak sempat meninggalkan sesuatu yang berarti.
Sebelum Ajal Menjemput
Kematian adalah kepastian. Tidak ada yang tahu kapan waktunya tiba. Saya pun tidak tahu apakah saya akan diberi umur panjang atau tidak.
Namun satu hal yang saya yakini: hidup yang bermakna lebih penting daripada hidup yang lama.
Jika suatu hari kabar itu datang, saya ingin teman-teman PGRI berdiri tegak. Lanjutkan perjuangan. Lanjutkan semangat literasi. Lanjutkan kebersamaan.
Jangan biarkan buku ini hanya menjadi kenangan. Jadikan ia pengingat bahwa guru harus terus bersuara, terus menulis, terus bersatu.
Penutup Terakhir dari Seorang Guru
Saya, Omjay, menulis ini bukan dengan rasa takut, tetapi dengan rasa syukur. Saya bersyukur pernah menjadi guru. Bersyukur pernah mengenal PGRI. Bersyukur pernah menulis dan dibaca.
Jika buku ini menjadi warisan terakhir saya, maka saya titipkan satu pesan sederhana:
Cintailah profesi ini.
Jagalah persatuan.
Dan jangan pernah berhenti berkarya.
Karena ketika tubuh kita tidak lagi kuat berdiri di kelas, tulisan dan kebaikanlah yang akan tetap hidup.
Dan jika suatu hari saya benar-benar harus pergi, saya ingin pergi dengan keyakinan bahwa keluarga besar PGRI akan terus melangkah.
Dengan air mata yang mungkin jatuh, tetapi dengan semangat yang tidak pernah padam.
Salam hormat dan cinta dari saya,
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia
