Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Kisah Omjay: Kompasiananya Makin Kaya, Penulisnya Makin Lelah Tak Berdaya

27 Februari 2026   17:41 Diperbarui: 27 Februari 2026   18:51 147 3 4

Platform tumbuh dengan iklan dan trafik, tapi penulis merasa makin tak dihargai. Ini bukan amarah, ini jeritan sunyi yang minta keadilan/chagpt
Platform tumbuh dengan iklan dan trafik, tapi penulis merasa makin tak dihargai. Ini bukan amarah, ini jeritan sunyi yang minta keadilan/chagpt

Kisah Omjay kali ini tentang Kompasiananya Makin Kaya, Penulisnya Makin Lelah Tak Berdaya. "Kompasiananya Makin Kaya, Penulisnya Makin Lelah: Jeritan Sunyi yang Tak Lagi Bisa Disembunyikan!"

Kompasiananya Untung, Penulisnya Buntung? Jeritan Sunyi dari Rumah yang Pernah Hangat Sekali. "Kompasiananya untung, penulisnya buntung." Begitulah salah seorang penulis memberikan komentarnya.

Kalimat itu pendek. Terasa seperti candaan. Tapi bagi banyak penulis, ia bukan lelucon. Ia adalah ringkasan dari kegelisahan panjang yang dipendam dalam diam. Pada akhirnya harus Omjay sampaikan di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.

Di layar, angka-angka mungkin terlihat baik-baik saja. Trafik naik. Iklan berseliweran. Brand masuk. Platform berkembang.
Namun di balik itu, ada penulis yang menatap layar sampai larut malam, mengetik dengan mata lelah, berharap karyanya dihargai---bukan sekadar dipublikasikan.


Rumah yang Pernah Hangat

Dulu, Kompasiana terasa seperti rumah.

Rumah tempat kita belajar menulis.
Rumah tempat kita berdebat dengan santun.
Rumah tempat tulisan sederhana bisa mendapat apresiasi tulus.

Banyak penulis lahir di sana. Tumbuh di sana. Menemukan jati diri literasinya di sana.

Namun hari ini, sebagian mulai bertanya pelan:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7