Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Ibuku Tukang Bohong

4 Maret 2026   16:08 Diperbarui: 4 Maret 2026   16:08 249 10 4

Omjay guru blogger Indonesia/dokpri
Omjay guru blogger Indonesia/dokpri

Almarhum Ibuku Tukang Bohong, Tapi Kebohongannya Menyelamatkanku. Aku bisa jadi guru tangguh berhati cahaya.

(Kisah Omjay yang Tak Pernah Selesai di Hati)

Orang-orang mungkin akan marah jika ibunya disebut pembohong.
Tapi tidak dengan Omjay.

Karena bagi Dr. Wijaya Kusumah, ibunya memang "tukang bohong". Dan ia bangga akan kebohongan itu.

Kebohongan yang tidak lahir dari niat jahat.
Kebohongan yang tidak merugikan siapa pun.
Kebohongan yang justru membuat anak-anaknya bisa tidur dalam keadaan kenyang.

"Ibu Sudah Makan, Nak..."

Suatu malam, nasi di meja hanya cukup untuk tiga piring.
Padahal anaknya empat.

Ibunya tersenyum.
"Sudah, kalian makan saja. Ibu tadi sudah makan di dapur."

Omjay kecil percaya.

Ia makan lahap. Tanpa rasa bersalah. Tanpa rasa curiga.

Baru bertahun-tahun kemudian ia tahu...
Tak ada sepiring nasi pun yang masuk ke perut ibunya malam itu.

Ibunya hanya minum air putih.
Meneguknya perlahan agar bunyinya terdengar seperti orang yang sedang makan.
Lalu tidur dengan perut kosong.

Dan esok paginya, tetap tersenyum.
Seolah tidak terjadi apa-apa.

Bohong Demi Bahagia Anak

"Tidak apa-apa, Ibu tidak lapar."
"Itu lauknya Ibu tidak suka."
"Ibu sudah kenyang duluan."

Kalimat-kalimat itu berulang seperti doa.

Omjay kecil tidak tahu bahwa itu bukan sekadar kalimat.
Itu adalah perisai.

Perisai agar anak-anaknya tidak merasa kekurangan.
Perisai agar mereka tumbuh tanpa luka kemiskinan.
Perisai agar mereka tidak minder di sekolah ketika teman-temannya membawa bekal lebih mewah.

Pernah suatu pagi, Omjay mengeluh karena tidak punya uang jajan lebih.
Ibunya tersenyum dan berkata, "Anak pintar tidak butuh jajan mahal."

Padahal uang di dompetnya tinggal recehan.
Ia memilih berjalan kaki lebih jauh ke pasar demi selisih harga seratus dua ratus rupiah.

Ibunya tidak punya gelar.
Tidak pernah berdiri di mimbar seminar.
Tidak pernah memegang mikrofon.

Tapi ia memiliki universitas kehidupan.
Dan dari sanalah Omjay belajar tentang arti keteguhan, kesabaran, dan cinta tanpa syarat.

Saat Omjay Menjadi Guru

Bertahun-tahun kemudian, Omjay berdiri di depan kelas.
Ia menjadi guru. Ia menjadi penulis. Ia dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia.

Setiap kali ia berbicara tentang pendidikan, tentang literasi, tentang masa depan anak bangsa...
Bayangan ibunya selalu hadir di sudut hatinya.

Ia teringat bagaimana ibunya berbohong agar ia bisa membeli buku.
Ia ingat bagaimana ibunya berkata, "Buku itu mahal ya? Tidak apa-apa, nanti Ibu atur."

Dan "mengatur" bagi ibunya berarti mengurangi lauk di meja makan.
Berarti menunda membeli kebutuhan sendiri.
Berarti menahan lapar diam-diam.

Ketika Omjay pertama kali menerima honor menulis, yang terlintas di pikirannya bukan membeli barang mewah.
Ia hanya ingin pulang dan berkata, "Bu, sekarang Ibu tidak perlu bohong lagi."

Namun hidup tidak selalu memberi waktu sepanjang yang kita mau.

Ada penyesalan yang tidak bisa diulang.
Ada pelukan yang tidak sempat diberikan lebih lama.
Ada ucapan terima kasih yang terasa terlambat.

Kebohongan yang Paling Jujur

Ibunya memang berbohong.

Tapi kebohongan itu adalah bentuk kejujuran paling murni:
Kejujuran cinta.

Ia tidak pernah berkata, "Ibu berkorban untukmu."
Ia hanya tersenyum.

Tidak pernah menuntut balasan.
Tidak pernah menghitung jasa.
Tidak pernah mengungkit pengorbanan.

Dan kini, setiap kali Omjay makan bersama keluarganya, ada rasa yang mengganjal di dada.
Ia teringat piring yang dulu tidak pernah terisi untuk ibunya.

Kadang ia menatap nasi di hadapannya cukup lama.
Air matanya jatuh pelan.

Ia sadar...
Di masa kecilnya ada seseorang yang pura-pura kenyang agar ia bisa tumbuh menjadi lelaki yang kuat.

Warisan yang Tak Ternilai

Ibunya tidak mewariskan harta.
Tidak meninggalkan rumah besar.
Tidak menyimpan tabungan emas.

Yang ia wariskan adalah karakter.
Adalah keteguhan.
Adalah prinsip bahwa pendidikan harus diperjuangkan meski perut kosong.

Itulah sebabnya Omjay menulis setiap hari.
Itulah sebabnya ia terus berbagi ilmu tanpa lelah.
Karena ia tahu, di balik setiap tulisannya, ada doa seorang ibu yang dulu sering menahan lapar.

Ia ingin kebohongan ibunya tidak sia-sia.
Ia ingin setiap kalimat yang ia tulis menjadi sedekah ilmu.
Ia ingin setiap murid yang ia ajar merasakan cinta yang sama seperti yang pernah ia rasakan di rumah sederhana itu.

Untuk Ibu yang Pernah Berbohong

Banyak dari kita mungkin punya cerita yang sama.

Ibu yang berkata tidak haus padahal tenggorokannya kering.
Ibu yang bilang tidak ingin beli baju baru padahal bajunya sudah lusuh.
Ibu yang tersenyum padahal hatinya penuh kekhawatiran.

Mereka tidak tercatat dalam sejarah.
Tidak viral di media sosial.
Tidak mendapat penghargaan.

Tapi mereka membesarkan pahlawan-pahlawan kecil di rumahnya masing-masing.

Dan Omjay adalah salah satunya.

Hari ini, jika Anda masih punya ibu...
Peluklah ia.
Tanyakan apakah ia benar-benar sudah makan.
Duduklah lebih lama di sampingnya.
Dengarkan ceritanya yang mungkin diulang-ulang, karena suatu hari nanti kita akan merindukan pengulangan itu.

Jangan tunggu sampai kursi di meja makan terasa kosong.
Jangan tunggu sampai dapur itu sunyi.
Jangan tunggu sampai kita hanya bisa mengenang senyumnya lewat doa.

Karena suatu hari nanti, kita akan rindu pada kebohongan-kebohongan kecil itu.

Kebohongan yang membuat kita tumbuh.
Kebohongan yang membuat kita kuat.
Kebohongan yang membuat kita menjadi manusia.

Dan Omjay tahu...
Tanpa kebohongan ibunya, mungkin ia tidak akan pernah menjadi dirinya hari ini.

Air mata itu akhirnya jatuh.

Bukan karena sedih.
Tapi karena cinta yang terlalu besar untuk ditahan.

Ibuku memang tukang bohong. Ia selalu berkata sudah makan, sudah kenyang, tidak lapar. Padahal nasi di meja hanya cukup untuk kami, anak-anaknya. 

Ia minum air putih dan tersenyum, lalu tidur dengan perut kosong demi memastikan kami bisa berangkat sekolah tanpa rasa khawatir. Bertahun-tahun kemudian, Omjay baru menyadari bahwa kebohongan itu adalah bentuk cinta paling jujur. 

Dari dapur sederhana dan piring yang tak pernah terisi untuknya, lahirlah seorang guru dan penulis yang tak lelah berbagi ilmu. Setiap keberhasilan yang diraih hari ini ternyata dibangun di atas pengorbanan seorang ibu yang diam-diam menahan lapar. 

Kisah Omjay ini bukan sekadar tentang kemiskinan, tetapi tentang cinta yang rela berbohong agar anaknya bisa bermimpi setinggi langit. Bacalah, dan siapkan hati Anda—karena mungkin Anda akan menemukan wajah ibu Anda sendiri di dalamnya.

Salam blogger persahabatan,

Wijaya Kusumah -- Omjay
Guru Blogger Indonesia
Blog: https://wijayalabs.com


HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6