Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Inilah bagian yang sering dilupakan banyak orang. Omjay selalu menyisihkan sebagian THR untuk tabungan pendidikan anak dan dana darurat.
Omjay sadar, kebutuhan mendadak bisa datang kapan saja seperti biaya kesehatan, perbaikan rumah, atau kebutuhan sekolah.
Dengan adanya dana cadangan, keluarga tidak perlu panik atau berutang ketika situasi tak terduga muncul. Baginya, rasa tenang setelah Lebaran jauh lebih berharga daripada tas atau sepatu mahal.
4. Pos Kebutuhan Pasca-Lebaran
Banyak orang lupa bahwa kehidupan tetap berjalan setelah hari raya usai. Anak-anak kembali sekolah, kebutuhan dapur kembali normal, tagihan tetap datang.
Omjay secara khusus mengalokasikan dana untuk kebutuhan satu hingga dua bulan setelah Lebaran agar tidak terjadi "krisis keuangan Syawal".
Langkah ini membuat keluarganya tetap stabil secara finansial. Mereka tidak mengalami tekanan setelah euforia hari raya berlalu.
Melibatkan Keluarga dalam Perencanaan
Hal yang sangat menarik dari cara Omjay mengelola THR adalah keterbukaan. Omjay tidak menyimpan semua keputusan sendiri. Omjay berdiskusi dengan istri dan anak-anaknya.
Omjay menjelaskan jumlah dana yang tersedia, rencana pembagiannya, serta alasan di balik setiap keputusan. Anak-anak pun diberi kesempatan menyampaikan pendapat. Dengan cara ini, mereka belajar tentang prioritas dan tanggung jawab.
Diskusi ini bukan sekadar soal angka, tetapi pendidikan karakter. Anak-anak belajar bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi sekaligus. Mereka memahami arti menunda kesenangan demi tujuan yang lebih besar.