Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Mengapa Anak Di Bawah Usia 16 Tahun Dilarang Bermedia Sosial?

11 Maret 2026   17:48 Diperbarui: 11 Maret 2026   17:48 207 8 3

mengapa anak di bawah usia 16 tahun dilarang bermedia sosial? / ChatGPT
mengapa anak di bawah usia 16 tahun dilarang bermedia sosial? / ChatGPT

Kisah Omjay kali ini tentang Anak di Bawah Usia 16 Tahun Dilarang Bermedia Sosial: Melindungi Anak atau Membatasi Kreativitas? Mengapa Anak Di Bawah Usia 16 Tahun Dilarang Bermedia Sosial?

Dunia digital berkembang begitu cepat. Apa yang dulu hanya menjadi alat komunikasi kini berubah menjadi ruang hidup baru bagi manusia. Media sosial seperti YouTube, TikTok, Instagram, hingga berbagai platform lainnya telah menjadi bagian dari keseharian, bahkan bagi anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah.

Belakangan muncul wacana yang cukup ramai dibicarakan: anak di bawah usia 16 tahun tidak boleh memiliki akun media sosial. Tujuannya jelas, yaitu melindungi anak-anak dari berbagai dampak negatif dunia digital.

Namun pertanyaannya, apakah larangan ini benar-benar menjadi solusi? Atau justru menimbulkan tantangan baru bagi dunia pendidikan?


Generasi yang Lahir di Dunia Digital

Anak-anak zaman sekarang adalah generasi digital native. Sejak kecil mereka sudah akrab dengan gawai, internet, dan media sosial. Banyak anak bahkan sudah mampu membuat konten video, mengedit gambar, hingga berbagi cerita melalui platform digital.

Bagi mereka, media sosial bukan sekadar hiburan. Ia sudah menjadi ruang berekspresi, belajar, bahkan membangun mimpi.

Namun di balik kemudahan itu, ada juga sisi gelap yang tidak bisa diabaikan. Media sosial menyimpan berbagai risiko bagi anak-anak yang belum cukup matang secara emosional.

Konten yang tidak sesuai usia, cyberbullying, kecanduan gawai, hingga tekanan sosial menjadi beberapa ancaman nyata. Tidak sedikit anak yang mengalami gangguan kepercayaan diri hanya karena merasa hidupnya tidak "seindah" yang mereka lihat di media sosial.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6