Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Tempat Healing Andalan Saat Libur Lebaran menjadi kisah omjay kali ini di kompasiana. Inilah Tempat Healing Andalan Omjay Saat Libur Lebaran setelah berpuasa selama sebulan penuh.
Libur Lebaran selalu menjadi momen yang sangat dinantikan. Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, Hari Raya Idulfitri hadir sebagai waktu yang penuh kebahagiaan, kehangatan keluarga, dan juga kesempatan untuk beristirahat dari rutinitas yang melelahkan.
Banyak orang memanfaatkan momen ini untuk mudik ke kampung halaman, bertemu orang tua, saudara, dan kerabat yang sudah lama tidak bertemu.
Namun bagi saya, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd yang lebih dikenal dengan panggilan Omjay, libur Lebaran tidak hanya menjadi waktu untuk bersilaturahmi, tetapi juga menjadi waktu yang tepat untuk melakukan healing.
Healing yang saya maksud bukanlah perjalanan mewah atau liburan mahal, tetapi cara sederhana untuk menenangkan hati, menjernihkan pikiran, dan mengisi kembali energi setelah menjalani aktivitas yang sangat padat sebagai guru, penulis, dan pembicara.

Bagi Omjay, tempat healing andalan saat libur Lebaran adalah kawasan pantai di Ancol, Jakarta. Tempatnya tidak jauh dari rumah Omjay dan di sanalah Omjay dibesarkan bersama orangtua.
Mengapa Ancol? Karena tempat ini memiliki kenangan yang panjang dalam perjalanan hidup saya. Sejak masih muda hingga sekarang, pantai Ancol selalu menjadi tempat yang menyenangkan untuk melepaskan penat.
Tidak perlu perjalanan jauh keluar kota, cukup menempuh perjalanan beberapa puluh menit dari rumah, saya sudah bisa menikmati suasana pantai yang menenangkan.
Biasanya saya datang ke Ancol pada pagi hari. Udara masih segar, angin laut bertiup lembut, dan suasana belum terlalu ramai oleh pengunjung. Saat matahari mulai terbit dari ufuk timur, langit berubah warna menjadi keemasan. Pemandangan itu selalu membuat hati terasa damai.
Saya sering duduk di pinggir pantai sambil memandang laut yang luas. Deburan ombak yang datang silih berganti seolah membawa pesan kehidupan. Kadang ombak datang dengan tenang, kadang datang dengan keras.
Begitu pula dengan kehidupan manusia. Ada masa tenang, ada masa sulit, dan semuanya adalah bagian dari perjalanan hidup.
Sebagai seorang guru yang telah mengabdikan diri puluhan tahun di dunia pendidikan, saya sering menggunakan waktu di pantai untuk merenung. Menjadi guru bukanlah pekerjaan yang ringan.
Seorang guru tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga membimbing, mendidik, dan menjadi teladan bagi para siswa.
Di era digital seperti sekarang, tantangan guru semakin besar. Teknologi berkembang sangat cepat, karakter siswa juga berubah, dan tuntutan masyarakat terhadap pendidikan semakin tinggi. Semua itu membutuhkan energi fisik, mental, dan juga spiritual yang kuat.
Karena itulah healing menjadi penting.
Healing bukan berarti lari dari tanggung jawab, tetapi memberikan waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat sejenak agar bisa kembali bekerja dengan lebih baik.
Saat duduk di tepi pantai Ancol, saya sering membawa buku kecil atau membuka ponsel untuk menuliskan ide-ide yang tiba-tiba muncul di kepala. Menariknya, banyak sekali ide tulisan lahir saat saya sedang menikmati suasana pantai.
Sebagai seorang yang dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia, menulis sudah menjadi bagian dari kehidupan saya. Hampir setiap hari saya menulis artikel di blog pribadi maupun di berbagai media seperti Kompasiana dan Melintas.id. Menulis bagi saya bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga terapi hati.
Ketika menulis, saya bisa menuangkan pengalaman hidup, kegelisahan, harapan, dan juga inspirasi yang ingin saya bagikan kepada orang lain. Banyak tulisan saya yang lahir dari perenungan sederhana saat melihat kehidupan di sekitar.
Di pantai Ancol, saya sering melihat keluarga yang datang bersama anak-anak mereka. Ada yang bermain pasir, ada yang berjalan santai di pinggir pantai, ada pula yang hanya duduk menikmati pemandangan laut.
Melihat kebahagiaan sederhana itu membuat saya semakin menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal besar. Kebahagiaan sering hadir dari hal-hal kecil yang kita nikmati dengan penuh rasa syukur.
Kadang saya juga membeli kopi dari pedagang kecil di sekitar pantai. Duduk sambil menikmati kopi hangat dan memandang laut adalah pengalaman yang sangat sederhana, tetapi sangat menenangkan.
Selain menjadi tempat refleksi pribadi, pantai Ancol juga sering menjadi tempat berkumpul bersama keluarga. Saya pernah mengajak keluarga berjalan santai di tepi pantai setelah Lebaran. Anak-anak terlihat sangat gembira bermain pasir dan berlari mengejar ombak kecil.
Momen seperti itu terasa sangat berharga. Kesibukan sehari-hari sering membuat kita jarang memiliki waktu berkualitas bersama keluarga. Libur Lebaran memberikan kesempatan untuk memperbaiki hubungan keluarga dan menciptakan kenangan indah bersama orang-orang yang kita cintai.
Setelah beberapa jam menikmati suasana pantai, biasanya saya pulang dengan perasaan yang jauh lebih segar. Pikiran terasa lebih ringan, hati terasa lebih tenang, dan semangat untuk kembali menjalani aktivitas pun muncul kembali.
Bagi saya, seorang guru harus memiliki energi positif. Guru yang bahagia akan lebih mudah menularkan semangat kepada para siswanya. Sebaliknya, guru yang lelah dan stres akan sulit memberikan pembelajaran yang menyenangkan.
Karena itulah saya selalu berusaha menjaga keseimbangan hidup. Bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi juga memberi waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat.
Libur Lebaran mengajarkan kita banyak hal. Selain mempererat silaturahmi, momen ini juga mengingatkan kita untuk kembali kepada kesederhanaan, keikhlasan, dan rasa syukur.
Healing sederhana di pantai Ancol membuat saya semakin menyadari bahwa hidup tidak perlu selalu terburu-buru. Kadang kita hanya perlu berhenti sejenak, menarik napas panjang, dan menikmati keindahan yang ada di sekitar kita.
Dari sana, kita bisa menemukan kembali semangat hidup yang mungkin sempat hilang di tengah kesibukan.
Bagi Omjay, pantai Ancol bukan hanya tempat wisata. Tempat itu adalah ruang refleksi, ruang inspirasi, dan ruang untuk mengisi ulang energi kehidupan.
Setiap kali libur Lebaran tiba, tempat itu selalu menjadi tujuan healing yang sederhana namun penuh makna.
Dan dari tempat sederhana itulah sering lahir ide-ide tulisan yang kemudian dibagikan kepada banyak orang, dengan harapan bisa memberi inspirasi bagi para pembaca di seluruh Indonesia.
Salam Blogger Persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia
