Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Ketika Omjay Menyambut Era Koding dan AI dengan Hati Seorang Guru

18 Maret 2026   13:40 Diperbarui: 18 Maret 2026   14:06 91 8 2

Omjay guru blogger indonesia/dokpri
Omjay guru blogger indonesia/dokpri

Ketika Omjay Menyambut Era Koding dan AI dengan Hati Seorang Guru

Di sebuah pagi yang tenang, Omjay duduk di depan laptopnya. Secangkir kopi hangat menemani, sementara pikirannya melayang jauh ke masa lalu---ketika ia pertama kali mengajar, 34 tahun silam.

Saat itu, kapur dan papan tulis adalah "teknologi" paling canggih yang dimiliki guru. Tidak ada internet, tidak ada coding, apalagi kecerdasan buatan (AI). Namun hari ini, dunia berubah begitu cepat.

Dan Omjay tahu... ia tidak boleh tertinggal.

Ketika kabar tentang penetapan sekolah model untuk pembelajaran koding dan AI mulai beredar, hati Omjay bergetar. Ia merasa ini bukan sekadar program baru dari pemerintah, tetapi sebuah panggilan zaman.

"Apakah aku masih mampu mengikuti ini semua?" bisiknya dalam hati.

Sebagai guru yang sudah puluhan tahun mengabdi, Omjay bukan tidak pernah merasa lelah. Tubuhnya kadang tak lagi sekuat dulu. Penyakit yang ia derita---darah tinggi, diabetes---sering menjadi pengingat bahwa usia tak bisa dilawan.

Namun satu hal yang tak pernah berubah: cintanya pada dunia pendidikan.

Omjay percaya, guru bukan hanya pengajar. Guru adalah pembelajar sepanjang hayat.

Ketika banyak guru muda mulai berbicara tentang coding, algoritma, dan AI, Omjay tidak memilih untuk diam. Ia justru membuka YouTube, membaca artikel, bahkan mengikuti pelatihan daring dengan penuh semangat.

Mungkin gerakannya tidak secepat guru-guru muda. Tapi tekadnya... jauh lebih kuat.

"Kalau anak-anak bisa belajar, kenapa saya tidak?" katanya suatu hari.

Bagi Omjay, coding bukan sekadar barisan kode. Itu adalah cara berpikir. Cara memecahkan masalah. Cara melatih logika siswa agar siap menghadapi dunia yang semakin kompleks.

Sementara AI, baginya, adalah tantangan sekaligus peluang.

Ia sering merenung, bagaimana kecerdasan buatan bisa membantu guru, bukan menggantikannya. Bagaimana AI bisa menjadi alat untuk memperkuat pembelajaran, bukan melemahkan peran manusia.

Dalam setiap kesempatan mengajar, Omjay mulai menyisipkan nilai-nilai baru. Ia tidak langsung mengajarkan coding tingkat tinggi. Ia mulai dari hal sederhana: logika, pola, dan cara berpikir sistematis.

Omjay mengajak siswa memahami bahwa teknologi hanyalah alat. Yang paling penting tetap manusia yang menggunakannya.

Namun perjalanan itu tidak selalu mudah.

Ada hari-hari ketika Omjay merasa tertinggal. Ketika istilah-istilah baru terdengar asing di telinganya. Ketika ia harus mengulang materi berkali-kali hanya untuk memahami satu konsep sederhana.

Tapi ia tidak menyerah.

Karena ia tahu, di balik semua kesulitan itu, ada masa depan anak-anak Indonesia yang sedang dipertaruhkan.

Suatu hari, salah satu siswanya berkata:

"Pak, saya ingin jadi programmer."

Omjay terdiam sejenak. Matanya berkaca-kaca.

Ia teringat masa kecilnya dulu, yang bahkan tidak pernah bermimpi tentang dunia digital. Kini, di hadapannya, generasi baru mulai bermimpi lebih tinggi.

Dan Omjay merasa... perjuangannya tidak sia-sia.

Program sekolah model koding dan AI ini, bagi Omjay, bukan sekadar kebijakan. Ini adalah jembatan menuju masa depan. Sebuah kesempatan bagi siswa untuk bersaing di dunia global.

Namun lebih dari itu, ini adalah ujian bagi para guru.

Apakah mereka siap berubah?

Apakah mereka mau belajar lagi?

Apakah mereka masih memiliki semangat yang sama seperti saat pertama kali mengajar?

Omjay memilih untuk menjawab semua pertanyaan itu dengan tindakan.

Ia terus belajar. Terus menulis. Terus berbagi.

Karena baginya, guru yang berhenti belajar adalah guru yang perlahan kehilangan makna.

Di malam hari, ketika semua sudah terlelap, Omjay sering kembali membuka laptopnya. Menulis pengalaman, membagikan cerita, menginspirasi guru lain.

Ia ingin mengatakan pada dunia:

"Tidak ada kata terlambat untuk belajar."

Dan di balik semua itu, ada satu harapan sederhana yang selalu ia panjatkan dalam doa:

Semoga anak-anak didiknya kelak menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga memiliki hati yang baik.

Karena bagi Omjay, teknologi tanpa hati... hanyalah kehampaan.


https://youtu.be/goA9D7J97DY?si=GezB-0bMdO73Qn9h

Penutup (yang menyentuh hati)

Di usia yang tak lagi muda, Omjay tidak mengejar penghargaan, tidak mencari pujian. Ia hanya ingin memastikan satu hal---bahwa ketika ia nanti berhenti mengajar, akan ada jejak kebaikan yang tertinggal.

Jejak seorang guru... yang tak pernah berhenti belajar.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika murid-muridnya sukses di dunia koding dan AI, mereka akan mengingat satu sosok sederhana...

Seorang guru tua yang pernah berkata dengan mata berkaca-kaca:

"Bapak mungkin tidak sepintar kalian dalam teknologi... tapi Bapak akan selalu belajar, demi kalian."

Dan di saat itulah, tanpa disadari, air mata pun jatuh...

Karena cinta seorang guru... memang tak pernah selesai.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indinesia
Blog https://wijayalabs.com

Omjay guru blogger Indonesia/dokpri
Omjay guru blogger Indonesia/dokpri