Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Sustainability Pilihan

Jangan Berhenti Menulis Omjay

17 Maret 2026   14:43 Diperbarui: 17 Maret 2026   18:00 247 5 3


Jangan berhenti menulis Omjay. BEGITULAH seorang guru memyampaikan kepada Omjay ketika Omjay akan berhentu menulis di saat sakit dan dirawat di 5 rumah sakit.

Omjay guru blogger indonesia/dokpri
Omjay guru blogger indonesia/dokpri

“Jangan Berhenti Menulis, Pak Jay…”: Tangisan Guru-Guru Indonesia untuk Omjay yang Bertahan Menulis di Tengah Sakit. Omjay sudah tak mampu lagi menulis setiap hari seperti dulu lagi.

"Saya Menulis Agar Tidak Mati Perlahan": Tangis Sunyi Omjay di Kompasiana yang Menguatkan Hati Guru Indonesia. Inilah kisah Omjay di kompasiana tercinta.

Kata kunci: Omjay, Wijaya Kusumah, Kompasiana, guru menulis, inspirasi guru, kisah guru Indonesia, menulis dari hati

Pagi itu, langit masih gelap. Sebagian orang masih terlelap, menikmati sisa mimpi yang belum selesai. Namun di sudut rumah sederhana, seorang guru sudah terbangun.

Perlahan ia membuka laptopnya.

Tangannya sedikit gemetar. Bukan karena dingin, tetapi karena tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Vertigo masih sering datang, tekanan darah kadang naik tanpa permisi, dan diabetes membuatnya harus lebih berhati-hati menjalani hari.

Namun satu hal yang tidak pernah ia tinggalkan:

Menulis.

Ia adalah Dr. Wijaya Kusumah---atau yang lebih akrab kita kenal sebagai Omjay.

Dan pagi itu, seperti pagi-pagi sebelumnya, ia kembali menulis... bukan karena ingin terkenal, tetapi karena ia takut---jika ia berhenti menulis, ia akan "mati" perlahan... dalam diam.

Ketika Menjadi Guru Tidak Selalu Baik-Baik Saja

Selama puluhan tahun menjadi guru, Omjay telah menyaksikan banyak hal.

Ia melihat bagaimana guru dituntut sempurna, tetapi sering dilupakan.
Ia merasakan bagaimana pengabdian tidak selalu sebanding dengan penghargaan.
Ia menjalani hari-hari panjang dengan tumpukan administrasi yang melelahkan.

Namun yang paling berat bukan itu semua.

Yang paling berat adalah... merasa tidak didengar.

Di ruang-ruang rapat, suara guru sering tenggelam.
Di balik kebijakan, ada banyak cerita yang tak pernah sampai ke atas.

Dan di situlah Omjay menemukan jalannya.

Ia tidak berteriak.
Ia tidak marah.
Ia menulis.

Kompasiana: Tempat Omjay Menitipkan Luka dan Harapan

Di tengah sunyinya perjuangan, Omjay menemukan rumah: Kompasiana.

Di sana, ia tidak perlu menjadi siapa-siapa.
Tidak perlu jabatan.
Tidak perlu panggung.

Cukup menjadi dirinya sendiri... seorang guru yang jujur.

Ia menulis tentang murid-muridnya yang ia cintai.
Ia menulis tentang kebijakan yang membuatnya gelisah.
Ia menulis tentang rasa lelah yang sering ia sembunyikan.

Dan tanpa ia sadari, tulisannya mulai mengetuk banyak hati.

Sepasang Sepatu dan Harga Sebuah Perjuangan

Suatu hari di Garut, Omjay berdiri cukup lama di depan sebuah toko sepatu.

Matanya tertuju pada satu pasang sepatu sederhana.

Ia terdiam... lalu bertanya dalam hati:

"Apakah saya bisa membeli sepatu ini dari hasil menulis?"

Pertanyaan itu bukan soal uang.

Itu tentang harga diri.

Tentang apakah perjuangan seorang guru... lewat tulisan... benar-benar dihargai.

Dan ketika akhirnya ia bisa membeli sepatu itu dari hasil menulis, ada sesuatu yang pecah di dalam hatinya.

Bukan tawa.

Tetapi haru.

Karena di balik sepatu itu, ada ratusan tulisan...
Ada ratusan pagi yang ia lawan dengan rasa lelah...
Ada ratusan malam yang ia isi dengan kata-kata...

Sepatu itu menjadi saksi---bahwa ia tidak sia-sia.

Menulis di Tengah Sakit: Antara Bertahan dan Menyerah

Tidak banyak yang tahu...

Bahwa di balik konsistensinya menulis setiap hari, ada perjuangan yang tidak terlihat.

Ada hari ketika dunia terasa berputar karena vertigo.
Ada malam ketika tubuhnya lemah karena penyakit yang dideritanya.
Ada momen ketika ia ingin berhenti... menyerah... dan beristirahat saja.

Namun setiap kali ia mencoba berhenti, ada satu suara kecil di hatinya yang berkata:

"Kalau kamu berhenti... siapa lagi yang akan menulis untuk mereka?"

Dan ia pun kembali membuka laptopnya.

Menulis... meski pelan.
Menulis... meski air mata kadang jatuh tanpa suara.

Tulisan yang Menyelamatkan Orang Lain

Omjay mungkin tidak pernah tahu...

Bahwa di luar sana, ada seorang guru yang membaca tulisannya sambil menangis.
Ada seorang guru yang hampir menyerah... lalu menemukan kekuatan dari kata-katanya.
Ada seseorang yang merasa tidak sendirian... hanya karena membaca tulisannya.

Tulisan-tulisan itu telah menjadi pelukan bagi mereka yang lelah.
Menjadi cahaya kecil di tengah gelapnya perjuangan.
Menjadi pengingat... bahwa mereka tidak sendiri.

Dan mungkin... tanpa disadari... Omjay telah menyelamatkan banyak hati.

Perlawanan Paling Sunyi: Menulis dengan Hati

Apa yang dilakukan Omjay bukan sekadar menulis.

Ini adalah perlawanan.

Perlawanan terhadap ketidakadilan.
Perlawanan terhadap rasa lelah.
Perlawanan terhadap diamnya sistem.

Namun ia melakukannya dengan cara yang paling sunyi:

Dengan hati.

Ia tidak butuh panggung.
Tidak butuh sorotan.

Ia hanya butuh satu hal:

Kejujuran dalam setiap kata.

Penutup: Jika Suatu Hari Omjay Tak Lagi Menulis...

Bayangkan suatu hari...

Laptop itu tertutup.
Tulisan itu berhenti.
Dan Omjay tak lagi menulis.

Mungkin dunia tidak akan langsung berubah.
Mungkin tidak semua orang akan menyadari kehilangannya.

Namun di suatu sudut kecil negeri ini...

Akan ada seorang guru yang membuka Kompasiana...
Mencari tulisan Omjay...
Dan tidak menemukannya lagi...

Lalu perlahan ia menunduk...
Air matanya jatuh...

Dan ia berbisik lirih:

"Pak... jangan berhenti menulis... kami masih butuh tulisan Bapak..."

Karena bagi mereka...

Tulisan Omjay bukan sekadar tulisan.

Ia adalah harapan.
Ia adalah kekuatan.
Ia adalah alasan untuk tetap bertahan... hari ini.

Deskripsi (140 karakter)

Kisah haru Omjay di Kompasiana. Menulis di tengah sakit, menguatkan guru lain, dan membuktikan kata-kata bisa menyelamatkan.

Tag SEO Kompasiana

Omjay, Wijaya Kusumah, guru Indonesia, kisah inspiratif guru, Kompasiana, menulis dari hati, guru menulis, motivasi guru, pendidikan Indonesia, kisah haru

Salam blogger persahabatan

Omjay/Kakek jay

Guru blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

Buku pgri abadi karya omjay/dokpri
Buku pgri abadi karya omjay/dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8