Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Saat Omjay Terpaksa Membatalkan Puasa

18 Maret 2026   04:43 Diperbarui: 18 Maret 2026   04:43 225 8 7

Saat Omjay umroh bersama pak Ismet/dokpri
Saat Omjay umroh bersama pak Ismet/dokpri

Kisah Omjay kali ini tentang Momen Tak Terlupakan di Ramadan Tahun Ini: Ketika Sakit Mengajarkan Omjay Makna Ikhlas dan Syukur. Omjay menjadi teringat ketika menunaikan ibadah Umroh tahun 2017 ke tanah suci Mekah. Omjay menangis di tanah suci dan berharap bisa kembali ke sana lagi. Namun, kali ini Omjay menangis.

. "Aku Menangis di Hari Pertama Ramadan: Saat Omjay Terpaksa Membatalkan Puasa, Justru di Situlah Aku Menemukan Cinta Allah yang Sesungguhnya" 

Ramadan tahun ini terasa berbeda bagi Omjay. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang penuh semangat menjalankan ibadah puasa dari sahur hingga berbuka tanpa hambatan, kali ini tubuhnya memberi isyarat yang tak bisa diabaikan. Vertigo yang tiba-tiba kambuh di pagi hari membuat dunia seakan berputar, bukan hanya secara fisik, tetapi juga dalam batin.


Pagi itu, Omjay terbangun dengan niat kuat untuk menunaikan ibadah puasa seperti biasa. Suara adzan Subuh masih terngiang, dan doa-doa panjang telah ia panjatkan agar dikabulkan. 

Namun, beberapa saat kemudian, kepalanya terasa berat, pandangan berkunang-kunang, dan tubuhnya kehilangan keseimbangan. Omjay berusaha bangkit, tetapi langkahnya goyah.

Di situlah, untuk pertama kalinya dalam Ramadan tahun ini, Omjay harus mengambil keputusan yang berat: membatalkan puasanya. Dokter memintanya untuk segera minum obat vertigonya.

Air matanya jatuh. Bukan karena lapar atau haus, tetapi karena rasa sedih yang sulit dijelaskan. Bagi Omjay, puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi sebuah perjalanan spiritual yang ia nantikan setiap tahun. 

Dan hari itu, ia merasa seperti tertinggal dari rombongan orang-orang yang berlari menuju ridha-Nya. Namun, di tengah kelemahan itu, Omjay justru menemukan pelajaran yang begitu dalam.

Omjay teringat bahwa dirinya bukan lagi anak muda. Usianya telah membawa berbagai ujian kesehatan: tekanan darah tinggi, diabetes, dan kini vertigo yang datang tanpa diundang. Tubuhnya, yang selama ini setia menemaninya mengabdi sebagai guru selama puluhan tahun, kini meminta untuk lebih diperhatikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4