Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Mengapa Omjay Masih Bertahan Menulis di Kompasiana, Saat yang Lain Pergi?

1 April 2026   07:16 Diperbarui: 1 April 2026   11:20 204 14 4

https://www.youtube.com/watch?v=zwpavVg6pyQ&t=1248s

Mengapa Omjay Masih Bertahan Menulis di Kompasiana, Saat yang Lain Pergi? Inilah kisah Omjay di kompasiana yang dituliskan setiap hari oleh Omjay tanpa ada beban dan apa adanya. Tulisan sederhana yang ditubuat oleh guru blogger Indonesia.

Di tengah derasnya arus perubahan dunia digital, banyak penulis memilih berpindah platform. Mereka mencari tempat yang lebih ramai, lebih cepat viral, atau mungkin lebih menjanjikan dari sisi materi. Namun tidak demikian dengan Omjay. 

Di saat banyak rekannya melangkah pergi, Omjay justru tetap bertahan. Bukan karena tidak mampu berpindah, tetapi karena hatinya telah tertambat di sana. Kompasiana adalah tempat dimana Omjay belajar menulis.

Bagi sebagian orang, menulis hanyalah aktivitas. Tapi bagi Omjay, menulis adalah panggilan jiwa. Omjay masih ingat betul hari pertama menekan tombol "publish" di Kompasiana. 

Jantungnya berdebar, pikirannya dipenuhi keraguan. "Apakah tulisan ini layak dibaca?" "Apakah ada yang peduli?" Pertanyaan itu terus menghantui. Namun satu hal yang membuatnya berani: keinginan untuk berbagi.

Tulisan pertamanya sederhana. Tentang guru, tentang kehidupan, tentang kegelisahan yang sering kali tak terucap. Tidak langsung viral. Tidak juga banjir komentar. Tapi ada satu komentar yang mengubah segalanya.

"Terima kasih, Pak. Tulisan ini seperti mewakili perasaan saya."

Kalimat sederhana itu menancap dalam-dalam di hati Omjay. Sejak saat itu, Omjay sadar bahwa menulis bukan tentang seberapa banyak yang membaca, tetapi tentang siapa yang tersentuh. Bukan tentang angka, tetapi tentang makna.

Waktu berlalu. Platform demi platform bermunculan. Banyak yang menawarkan fitur lebih canggih, jangkauan lebih luas, bahkan peluang penghasilan yang lebih nyata. Satu per satu, teman-temannya mulai berpindah. Mereka mengajak Omjay ikut.

"Sudah, pindah saja. Di sana lebih ramai."
"Di sini sudah sepi."
"Kamu akan lebih dikenal kalau di tempat lain."

Omjay hanya tersenyum. Bukan karena Omjay tidak tergoda. Omjay hanya manusia biasa. Omjay juga ingin tulisannya dibaca banyak orang. Omjay juga ingin dihargai. Namun setiap kali ia hendak melangkah pergi, hatinya selalu tertarik kembali. Kompasiana selalu saja ada di hati ini.

Kompasiana bukan sekadar platform bagi Omjay. Kompasiana adalah rumah yang membuat Omjay betah dengan segala inovasinya. Ketika diajak Kang Pepeih Nugraha untuk menulis di kompasiana, rasanya ada yang berbeda dari blog pada umumnya.

Di sanalah Omjay tumbuh. Dari penulis yang ragu-ragu menjadi penulis yang percaya diri. Dari tulisan yang sederhana menjadi tulisan yang mampu menyentuh hati banyak orang. Di sanalah ia menemukan jati dirinya.

Lebih dari itu, Kompasiana telah menjadi saksi perjalanan hidupnya.

Setiap tulisan adalah jejak. Tentang kebahagiaan, kesedihan, perjuangan, bahkan air mata yang tak terlihat. Ia menulis bukan hanya untuk orang lain, tetapi juga untuk dirinya sendiri. Untuk menguatkan dirinya saat lemah, untuk mengingatkan dirinya saat lupa arah.

Ketika dunia terasa bising, menulis adalah caranya untuk kembali tenang. Ada satu momen yang tidak pernah Omjay lupakan. Suatu hari, Omjay menerima pesan dari seorang pembaca.

"Omjay, saya hampir menyerah menjadi guru. Tapi setelah membaca tulisan Omjay, saya jadi kuat lagi."

blog omjay di kompasiana tercinta/dokpri
blog omjay di kompasiana tercinta/dokpri

Omjay terdiam. Matanya berkaca-kaca. Omjay tidak pernah menyangka bahwa tulisannya bisa menyelamatkan seseorang dari keputusasaan. Di situlah Omjay benar-benar memahami arti dari bertahan.

Bertahan bukan karena tidak ada pilihan, tetapi karena ada alasan yang kuat. Bertahan bukan karena tidak mampu pergi, tetapi karena tahu di mana hatinya berada. Omjay mulai bergabung di kompasiana dari 22 November 2008 hingga hari ini.

Banyak orang berpikir bahwa kesuksesan diukur dari seberapa luas jangkauan, seberapa banyak pengikut, atau seberapa besar penghasilan. Tapi bagi Omjay, kesuksesan adalah ketika tulisannya bisa menjadi cahaya di tengah kegelapan seseorang.

Omjay tidak menolak perubahan. Omjay juga tidak menutup diri dari peluang. Namun Omjay percaya bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Bagi Omjay, jalannya adalah tetap menulis di tempat yang telah membesarkannya.

Omjay sangat percaya bahwa kesetiaan adalah nilai yang mulai langka. Di saat banyak orang mudah berpindah demi keuntungan, Omjay memilih untuk tetap tinggal demi makna. Dan justru dari situlah kekuatannya lahir.

Menulis di Kompasiana bukan lagi tentang platform. Ini tentang perjalanan. Tentang cinta yang tumbuh perlahan. Tentang kenangan yang tak tergantikan.

Setiap kali Omjay membuka halaman tulisannya yang lama, Omjay seperti melihat dirinya di masa lalu. Ada versi dirinya yang pernah rapuh, pernah jatuh, pernah hampir menyerah. Dan semua itu tersimpan rapi dalam tulisan-tulisannya di kompasiana.

Omjay tidak ingin meninggalkan itu semua begitu saja. Karena bagi Omjay, menulis adalah tentang jejak. Dan Kompasiana adalah tempat di mana jejak itu dimulai. Jejak digital yang tak akan hilang dihapus zaman kecerdasan buatan.

Kini, ketika banyak orang bertanya, "Mengapa Omjay masih bertahan?", Omjay tidak lagi ragu menjawab. Karena di sinilah Omjay menemukan dirinya. Karena di sinilah Omjay belajar bahwa tulisan bisa menguatkan.

Karena di sinilah Omjay menyadari bahwa satu tulisan bisa mengubah hidup seseorang. Dan karena di sinilah Omjay merasa pulang. Omjay menemukan rumah yang dialamnya ada sebuah keluarga yang dirindukan walaupun jarak memisahkan kami.

Di dunia yang terus berubah, Omjay memilih untuk tetap. Bukan karena takut melangkah, tetapi karena tahu bahwa tidak semua hal harus ditinggalkan. Ada hal-hal yang justru harus dijaga. Dan bagi Omjay, Kompasiana adalah salah satunya.

Mungkin tulisan Omjay tidak selalu menjadi yang paling ramai dibaca. Mungkin tulisannya tidak selalu viral. Tapi selama masih ada satu hati yang tersentuh, satu jiwa yang tergerak, dan satu orang yang merasa tidak sendirian setelah membaca tulisan Omjay, hal itu sudah lebih dari cukup.

Karena pada akhirnya, menulis bukan tentang pergi ke tempat yang lebih ramai. Tetapi tentang tetap tinggal di tempat yang membuat hati kita hidup. Dan Omjay telah memilih---untuk tetap hidup melalui tulisannya, di rumah yang bernama Kompasiana.

Dan jika suatu hari nanti jemari ini tak lagi mampu mengetik, dan mata ini tak lagi kuat menatap layar, biarlah tulisan-tulisan itu tetap tinggal... menjadi saksi bahwa pernah ada seorang guru sederhana yang menulis bukan untuk terkenal, tetapi untuk menguatkan hati yang hampir patah. 

Jika kelak namanya dilupakan, tak apa... asalkan ada satu saja jiwa yang pernah diselamatkan oleh kata-katanya. Karena bagi Omjay, itu sudah lebih dari cukup dan bahkan ketika dunia berhenti mengingatnya.

Demikianlah kisah Omjay tentang Mengapa Omjay atau Kakek Jay Masih Bertahan Menulis di Kompasiana, Saat yang Lain Pergi? Semoga bermanfaat dan memberikan motivasi buat para penulis baru kompasiana tercinta.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay/Kakek Jay

Guru Blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

Omjay Guru Blogger Indonesia/dokpri
Omjay Guru Blogger Indonesia/dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4