Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Labschool Rumah Keduaku

6 April 2026   14:02 Diperbarui: 6 April 2026   18:21 153 4 3


Labschool: Rumah Keduaku yang Penuh Kenangan dan Makna. Inilah kisah Omjay kali ini di kompasiana tercinta. Semoga Labschool di bawah yayasan pembina UNJ semakin sukses danmenjadi tempat pendidikan terbaik di Indonesia.

Bagi sebagian orang, sekolah hanyalah tempat menuntut ilmu. Datang pagi, belajar, lalu pulang sore. Namun, bagi saya---dan mungkin juga bagi banyak alumni serta guru di Labschool---sekolah ini jauh lebih dari sekadar ruang kelas. Labschool adalah rumah kedua. Tempat di mana mimpi dirajut, karakter dibentuk, dan kenangan indah tercipta sepanjang hayat.

Omjay di depan taman SMP Labschool Jakarta/dokpri
Omjay di depan taman SMP Labschool Jakarta/dokpri

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Labschool, ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan. Lingkungan yang ramah, guru-guru yang penuh dedikasi, serta suasana belajar yang hidup menjadikan sekolah ini berbeda. Di sinilah kita tidak hanya diajarkan untuk menjadi pintar secara akademik, tetapi juga menjadi manusia yang berkarakter, beretika, dan peduli terhadap sesama.

Sebagai bagian dari keluarga besar Labschool, saya merasakan betul bagaimana nilai-nilai kebersamaan begitu kuat tertanam. Hubungan antara guru dan siswa bukan sekadar formalitas, tetapi seperti orang tua dan anak. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing, mengarahkan, bahkan menjadi tempat curhat saat siswa menghadapi berbagai persoalan hidup.

Salah satu sosok inspiratif yang selalu dikenang di dunia pendidikan adalah Dr. Wijaya Kusumah, atau yang akrab disapa Omjay. Beliau adalah contoh nyata bagaimana seorang guru bisa menjadikan sekolah sebagai rumah kedua, bahkan rumah pertama bagi dedikasi dan pengabdian. Semangat beliau dalam menulis, berbagi ilmu, dan menginspirasi siswa serta guru lain menjadi bukti bahwa Labschool melahirkan insan-insan hebat yang tidak hanya mengajar, tetapi juga memberi makna dalam kehidupan.

Labschool juga dikenal dengan berbagai kegiatan yang mengembangkan potensi siswa secara menyeluruh. Tidak hanya fokus pada pelajaran di kelas, tetapi juga kegiatan ekstrakurikuler yang beragam, mulai dari olahraga, seni, hingga kegiatan ilmiah. Semua ini memberikan ruang bagi siswa untuk menemukan jati diri mereka, mengeksplorasi bakat, dan mengasah kemampuan yang mungkin tidak ditemukan dalam buku pelajaran.

Hal yang membuat Labschool terasa seperti rumah adalah rasa memiliki yang begitu kuat. Setiap sudut sekolah menyimpan cerita. Dari ruang kelas tempat pertama kali belajar, lapangan tempat bercanda bersama teman, hingga ruang guru yang menjadi saksi berbagai diskusi dan inspirasi. Semua itu membentuk ikatan emosional yang tidak mudah dilupakan, bahkan setelah bertahun-tahun meninggalkan bangku sekolah.

Di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, Labschool tetap berupaya beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Teknologi dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran, tetapi nilai-nilai dasar seperti kejujuran, kerja keras, dan tanggung jawab tetap menjadi fondasi utama. Inilah yang membuat Labschool tidak hanya mencetak siswa yang cerdas, tetapi juga berintegritas.

Lebih dari itu, Labschool juga mengajarkan arti kebersamaan dalam keberagaman. Siswa datang dari berbagai latar belakang, tetapi disatukan dalam satu tujuan: belajar dan berkembang bersama. Perbedaan bukan menjadi penghalang, melainkan kekuatan yang memperkaya pengalaman belajar. Di sinilah toleransi, empati, dan rasa saling menghargai tumbuh dengan alami.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2