Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Kisah omjay di Tanah Suci Bersama Istri

12 April 2026   15:36 Diperbarui: 12 April 2026   16:26 132 4 1

Ada malam-malam panjang yang mereka lewati dengan doa. Ada kelelahan bekerja yang mereka sembunyikan di balik senyum. Ada keinginan yang sempat terasa mustahil. Bahkan, ada masa ketika mereka hanya bisa berkata, "Ya Allah, kalau belum sekarang, jangan hilangkan harapan kami."

Dan hari itu... Allah menjawab semuanya.

Langkah pertama mereka menuju thawaf terasa begitu berat, seolah kaki ini membawa seluruh beban masa lalu. Tapi di saat yang sama, terasa ringan. Hal ini karena hati mulai belajar melepaskan.

Di antara lautan manusia yang berputar mengelilingi Ka'bah, Omjay dan istrinya hanyalah dua titik kecil. Tidak ada gelar. Tidak ada jabatan. Tidak ada kebanggaan duniawi. Yang ada hanya dua hamba... dan Tuhannya.

Pada putaran pertama, Omjay mulai berdoa dengan suara lirih. Pada putaran kedua, suaranya mulai tercekat. Pada putaran ketiga, air matanya tak bisa lagi ditahan.

Omjay teringat masa-masa sulit dalam hidupnya. Kegagalan. Kesalahan. Janji yang pernah ia langgar. Waktu-waktu ketika ia lebih sibuk mengejar dunia dibanding mendekat kepada Allah.

"Ya Allah... ampuni aku..." bisiknya.

Di sampingnya, sang istri juga larut dalam doa. Ia mengingat pengorbanannya selama ini. Kesabarannya menghadapi kehidupan. Doa-doanya yang sering ia panjatkan diam-diam, tanpa diketahui siapa pun bahkan oleh suaminya sendiri.

Mereka tidak saling bicara. Tapi hati mereka saling memahami.

Saat sampai di Multazam---tempat di mana langit terasa begitu dekat---mereka berhenti. Om Jay menempelkan dahinya, sementara tangannya terangkat tinggi.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak tahu harus meminta apa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5