Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Kisah omjay di Tanah Suci Bersama Istri

12 April 2026   15:36 Diperbarui: 12 April 2026   16:26 140 4 1

https://youtube.com/shorts/LeYr9K9DnEY?si=TKU-A3d5xie66H5u

Air Mata di Depan Ka'bah: Kisah Cinta Omjay dan Istri di Tanah Suci Mekah. Inilah kisah omjay kali ini setelah menonton video sebuah kisah di tanah suci. https://youtube.com/shorts/LeYr9K9DnEY?si=TKU-A3d5xie66H5u

Hari itu, langit di Mekah tampak begitu bersih. Cahaya matahari perlahan menyapu halaman Masjidil Haram, menghadirkan kehangatan yang berbeda. Siang itu bukan sekadar hangat di kulit, tetapi juga di hati.

Omjay dan istri pakai aplikasi dola/dokpri
Omjay dan istri pakai aplikasi dola/dokpri

Di antara ribuan manusia yang bergerak perlahan menuju pusat ibadah, berdirilah dua insan yang tak kuasa menahan air mata. Wijaya Kusumah yang akrab disapa OmJay menggenggam tangan istrinya erat. Tangan itu bukan sekadar genggaman biasa. Di dalamnya ada perjalanan panjang, ada doa yang tak pernah putus, ada harapan yang dipupuk bertahun-tahun.

"Bu... kita benar-benar sampai di sini..." ucapnya lirih.

Kalimat itu sederhana, tapi suaranya bergetar. Ada sesuatu yang pecah di dalam dadanya. Ada sebuah rasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Di hadapan mereka berdiri Ka'bah. Bangunan yang selama ini hanya mereka lihat di layar televisi, di buku, atau dalam doa-doa panjang di sepertiga malam. Kini, nyata. Dekat. Sangat dekat.

Istrinya tidak menjawab dengan kata-kata. Air mata yang jatuh perlahan di pipinya sudah menjadi jawaban paling jujur. Ia hanya mengangguk, sambil memejamkan mata sejenak.

Omjay dan istri Hari ini/dokpri
Omjay dan istri Hari ini/dokpri

Perjalanan menuju titik itu bukan perjalanan singkat. Kami baru bisa mewujudkannya di tahun 2017. Omjay dan istri rajin menabung setiap hari. Tak terasa sudah semakin banyak untuk berangkat ke tanah suci.

Ada malam-malam panjang yang mereka lewati dengan doa. Ada kelelahan bekerja yang mereka sembunyikan di balik senyum. Ada keinginan yang sempat terasa mustahil. Bahkan, ada masa ketika mereka hanya bisa berkata, "Ya Allah, kalau belum sekarang, jangan hilangkan harapan kami."

Dan hari itu... Allah menjawab semuanya.

Langkah pertama mereka menuju thawaf terasa begitu berat, seolah kaki ini membawa seluruh beban masa lalu. Tapi di saat yang sama, terasa ringan. Hal ini karena hati mulai belajar melepaskan.

Di antara lautan manusia yang berputar mengelilingi Ka'bah, Omjay dan istrinya hanyalah dua titik kecil. Tidak ada gelar. Tidak ada jabatan. Tidak ada kebanggaan duniawi. Yang ada hanya dua hamba... dan Tuhannya.

Pada putaran pertama, Omjay mulai berdoa dengan suara lirih. Pada putaran kedua, suaranya mulai tercekat. Pada putaran ketiga, air matanya tak bisa lagi ditahan.

Omjay teringat masa-masa sulit dalam hidupnya. Kegagalan. Kesalahan. Janji yang pernah ia langgar. Waktu-waktu ketika ia lebih sibuk mengejar dunia dibanding mendekat kepada Allah.

"Ya Allah... ampuni aku..." bisiknya.

Di sampingnya, sang istri juga larut dalam doa. Ia mengingat pengorbanannya selama ini. Kesabarannya menghadapi kehidupan. Doa-doanya yang sering ia panjatkan diam-diam, tanpa diketahui siapa pun bahkan oleh suaminya sendiri.

Mereka tidak saling bicara. Tapi hati mereka saling memahami.

Saat sampai di Multazam---tempat di mana langit terasa begitu dekat---mereka berhenti. Om Jay menempelkan dahinya, sementara tangannya terangkat tinggi.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak tahu harus meminta apa.

Karena semua terasa kecil dibanding rasa syukur yang ia rasakan.

Akhirnya ia hanya berkata,
"Ya Allah... jadikan aku lebih baik... bukan hanya hari ini, tapi sampai aku mati nanti."

Istrinya di sampingnya menangis lebih dalam. Ia tidak meminta harta. Tidak meminta kemewahan.

Ia hanya berdoa,
"Ya Allah... jangan pisahkan kami... kecuali Engkau pisahkan kami dalam keadaan Engkau ridha."

Malam harinya, mereka duduk di pelataran masjid. Di tangan mereka, segelas air dari Sumur Zamzam.

Air itu terasa berbeda.

Bukan hanya segar di tenggorokan, tapi juga menenangkan hati yang selama ini gelisah.

"Bu... perjalanan kita tidak mudah ya..." kata Omjay pelan.

Istrinya tersenyum, meski matanya masih sembab.
"Iya, Pak... tapi semua terasa indah kalau kita jalani bersama."

Kalimat itu sederhana, tapi mengandung makna yang dalam. Bahwa cinta sejati bukan tentang hidup tanpa masalah. Tapi tentang tetap bertahan, saling menggenggam, dan saling menguatkan di tengah badai.

Hari-hari di Mekah berlalu seperti mimpi. Setiap sujud terasa lebih lama. Setiap doa terasa lebih dalam. Setiap langkah terasa lebih bermakna.

Namun, seperti semua pertemuan, perpisahan pun tak bisa dihindari.

Saat waktu pulang tiba, hati mereka terasa berat. Langkah kaki terasa enggan meninggalkan Masjidil Haram. Om Jay menoleh berkali-kali ke arah Ka'bah, seolah ingin merekamnya dalam-dalam di hatinya.

"Bu... kita pasti kembali lagi ya..." katanya penuh harap.

Istrinya mengangguk, meski dalam hatinya ia tahu---tidak semua orang diberi kesempatan kedua.

Namun mereka sepakat satu hal.

Bahwa pulang dari tanah suci bukanlah akhir perjalanan. Justru awal dari perubahan.

Mereka pulang bukan hanya membawa oleh-oleh. Tapi membawa hati yang telah dibersihkan oleh air mata. Jiwa yang telah disentuh oleh keikhlasan. Dan iman yang, insya Allah, lebih kuat dari sebelumnya.

Di tanah air, kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Tapi Om Jay dan istrinya tidak lagi sama.

Mereka lebih mudah bersyukur. Lebih sabar menghadapi ujian. Lebih ringan memaafkan. Dan lebih sering mengingat bahwa dunia ini hanya sementara.

Karena mereka pernah berdiri di depan Ka'bah...
dan menangis tanpa malu di hadapan Tuhan mereka.

Kisah ini bukan hanya tentang perjalanan ke Mekah.

Ini adalah kisah tentang cinta---antara suami dan istri.
Tentang kesabaran---yang diuji waktu.
Dan tentang doa---yang akhirnya menemukan jalannya.

Semoga kita semua, suatu hari nanti, juga dipanggil ke sana.
Bukan hanya untuk melihat Ka'bah...
tetapi untuk menemukan kembali diri kita yang telah lama hilang.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah -- Omjay
Guru Blogger Indonesia
Blog: https://wijayalabs.com

Omjay guru blogger Indonesia/dokpri
Omjay guru blogger Indonesia/dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5