Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Kisah Omjay: TPG Setengah Hati

15 April 2026   16:32 Diperbarui: 15 April 2026   18:18 169 2 0

Omjay guru blogger indonesia/dokpri
Omjay guru blogger indonesia/dokpri

Kisah Omjay kali ini tentang tunjangan profesi guru atau TPG yang masih setengah hati. Kita berharap GTK kemdikdasmen "Bukan Setengah Hati, Tapi Sedang Berbenah: Suara Hati Guru untuk Negeri"
Sebuah opini yang dituliskan Oleh: Dr. Wijaya Kusumah (Terinspirasi dari pemikiran Nunuk Suryani di Kompas.id).

https://youtu.be/xz-qf995HEI?si=X-aSCnxguDw3FMCQ

Di ruang-ruang kelas yang kadang panas tanpa pendingin udara, di pelosok desa yang jauh dari gemerlap kota, hingga di sudut-sudut sekolah swasta yang sering luput dari sorotan, para guru Indonesia tetap berdiri tegak. Mereka mengajar bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi menyalakan harapan. Maka ketika muncul opini tentang "Sertifikasi Guru Setengah Hati", hati para guru pun ikut terusik.

Benarkah negara hanya setengah hati?

Jika kita melihat lebih dalam, yang sedang terjadi bukanlah setengah hati, melainkan sebuah proses panjang untuk memperbaiki sistem yang selama ini belum sempurna. Dan proses itu seperti halnya mendidik manusia juga tidak pernah instan.

Program sertifikasi guru sejatinya adalah bentuk pengakuan negara atas profesionalitas guru. Sertifikat pendidik bukan sekadar kertas, melainkan simbol bahwa seorang guru telah memenuhi standar kompetensi tertentu. Bersamaan dengan itu, hadir pula tunjangan profesi guru (TPG) sebagai bentuk penghargaan nyata.

Namun, dalam praktiknya, perjalanan menuju kesejahteraan guru memang tidak selalu mulus. TPG sering hadir tidak tepat waktu dan tidak tepat jumlah. Hal ini yang banyak mengecewakan guru penerima sertifikasi.

Dulu, penyaluran TPG harus melewati jalur panjang: dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, lalu ke rekening guru. Proses ini seringkali memakan waktu, bahkan menimbulkan keresahan. Banyak guru yang harus menunggu berbulan-bulan, bahkan hingga akhir tahun, untuk menerima haknya.

Kini, nampaknya perubahan besar sedang dilakukan. Walaupun masih berjalan lambat karena sekarang eranya digital. Seharusnya TPG sangat mudah dan cepat ke rekwning guru.

Melalui kebijakan baru, tunjangan profesi ditransfer langsung ke rekening guru. Sebuah langkah yang bukan hanya teknis, tetapi juga simbol kepercayaan. Negara ingin memastikan bahwa hak guru sampai tanpa hambatan birokrasi. Bahkan, mulai tahun 2026, penyaluran dilakukan setiap bulan---bukan lagi per tiga bulan.

Bukankah ini bukti keseriusan?

Namun, di balik kemajuan ini, masih ada tantangan yang tidak sederhana: persoalan distribusi guru.

Di satu sisi, ada sekolah yang kekurangan guru. Di sisi lain, ada sekolah yang kelebihan guru hingga jam mengajar tidak terpenuhi. Ini bukan kesalahan guru, melainkan persoalan sistemik yang sudah lama terjadi.

Akibatnya, muncul kesan ketidakadilan. Ada guru yang merasa telah bekerja keras, tetapi tidak memenuhi syarat administratif karena kurangnya jam mengajar. Di sinilah letak dilema yang perlu disikapi dengan bijak.

Pemerintah tidak tinggal diam.

Melalui kebijakan redistribusi guru ASN, upaya pemerataan terus dilakukan. Tujuannya jelas: memastikan setiap sekolah memiliki jumlah guru yang sesuai, sekaligus memberi kesempatan bagi guru untuk memenuhi beban kerja secara adil.

Namun, kebijakan ini juga membutuhkan waktu, koordinasi, dan kesiapan semua pihak ya terutama pemerintah daerah.

Kita perlu jujur bahwa membenahi sistem pendidikan di negara sebesar Indonesia bukan pekerjaan sehari dua hari. Ini adalah kerja panjang yang membutuhkan kesabaran, kolaborasi, dan kepercayaan.

Di sinilah pentingnya melihat kebijakan tidak hanya dari hasil hari ini, tetapi juga dari arah yang sedang dituju.

Pemerintah juga tidak hanya fokus pada guru ASN. Guru non-ASN pun mulai mendapat perhatian melalui berbagai skema tunjangan dan insentif. Meskipun belum sempurna, langkah ini menunjukkan bahwa negara berusaha merangkul semua guru, tanpa terkecuali.

Karena sejatinya, kualitas pendidikan tidak ditentukan oleh status kepegawaian, tetapi oleh dedikasi.

Guru adalah profesi yang unik. Mereka tidak hanya bekerja dengan pikiran, tetapi juga dengan hati. Mereka mengajar dengan harapan, meski kadang harus menghadapi keterbatasan.

Maka ketika kebijakan belum terasa adil, wajar jika muncul kegelisahan.

Namun, alih-alih saling menyalahkan, mungkin inilah saatnya kita saling menguatkan.

https://www.facebook.com/share/v/1Ei1tBj5Ts/

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2