Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Saat Hati Terasa Sempit, Mungkin Kita Lupa Istighfar

15 April 2026   10:25 Diperbarui: 16 April 2026   04:51 220 5 3

Menariknya, istighfar bukan hanya untuk mereka yang merasa banyak berbuat dosa. Justru, istighfar adalah kebutuhan semua manusia, tanpa terkecuali. Bahkan Rasulullah , manusia paling mulia dan dijamin surga, tetap beristighfar lebih dari 70 kali dalam sehari. Ini menunjukkan bahwa istighfar bukan hanya tentang dosa, tetapi tentang menjaga hati agar tetap hidup.

Bayangkan jika kita jarang beristighfar. Dosa-dosa kecil yang kita anggap sepele akan menumpuk. Ucapan yang menyakiti orang lain, pikiran negatif, prasangka buruk, kelalaian dalam ibadah---semua itu perlahan mengotori hati. Lama-kelamaan, hati menjadi berat, sulit menerima nasihat, dan kehilangan kepekaan terhadap kebaikan.

Sebaliknya, ketika istighfar menjadi kebiasaan, sesuatu yang luar biasa mulai terjadi. Hati yang semula gelisah perlahan menjadi tenang. Pikiran yang kusut mulai menemukan kejernihan. Masalah yang terasa besar menjadi lebih ringan. Bukan karena masalah itu hilang, tetapi karena hati kita diperkuat oleh kedekatan dengan Allah.

Allah sendiri menjanjikan ampunan dan kebaikan bagi mereka yang beristighfar. Dalam Al-Qur'an disebutkan:

"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun." (QS. Nuh: 10)

Ayat ini sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk beristighfar, tetapi juga menegaskan bahwa Dia Maha Pengampun. Artinya, tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni selama kita mau kembali.

Lebih dari itu, istighfar juga menjadi pembuka pintu rezeki. Banyak ulama menjelaskan bahwa istighfar dapat melapangkan kehidupan. Rezeki bukan hanya tentang uang, tetapi juga kesehatan, ketenangan, keluarga yang harmonis, dan kemudahan dalam urusan.

Sering kali kita mencari solusi ke mana-mana ketika hidup terasa sempit. Kita mencari cara, strategi, bahkan bantuan dari berbagai pihak. Itu semua tidak salah. Namun, kita sering lupa bahwa ada solusi yang sangat dekat dan mudah dilakukan---yaitu memperbanyak istighfar.

Istighfar tidak membutuhkan waktu khusus. Ia bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Saat berjalan, saat menunggu, saat bekerja, bahkan saat hati sedang resah. Justru di saat itulah istighfar menjadi paling bermakna.

Kebiasaan kecil ini, jika dilakukan secara konsisten, akan membawa perubahan besar. Hati menjadi lebih lembut. Emosi lebih terkendali. Pikiran lebih jernih. Dan yang paling penting, kita merasa tidak sendirian dalam menjalani hidup, karena ada Allah yang selalu dekat.

Namun, satu hal yang perlu diingat: jangan menunggu hati terasa lapang untuk beristighfar. Justru, istighfar adalah jalan menuju kelapangan itu. Banyak orang berkata, "Nanti kalau sudah tenang, saya mau lebih dekat kepada Allah." Padahal yang benar adalah sebaliknya. Bila dekat kepada Allah-lah yang membuat hati menjadi tenang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3