Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Kisah Omjay kali ini tentang Rezeki Itu Tak Selalu Uang. Sebuah Catatan Pagi Omjay Tentang Makna Kehidupan yang Lebih Luas
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Pagi itu, seperti biasa, saya duduk di teras rumah sambil menyeruput kopi hangat. Burung-burung berkicau, udara terasa segar, dan hati pun terasa lapang. Namun, di tengah ketenangan itu, pikiran saya melayang pada satu pertanyaan sederhana yang sering disalahpahami banyak orang: Apa sebenarnya rezeki itu?

Sebagian besar dari kita, mungkin termasuk saya di masa lalu, sering menyempitkan makna rezeki hanya pada satu hal: uang. Ketika gaji masuk, kita merasa mendapat rezeki. Ketika dompet menipis, kita merasa seolah rezeki sedang menjauh. Padahal, jika kita mau merenung lebih dalam, pemahaman ini terlalu dangkal dan bisa menyesatkan cara kita memandang hidup.
Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman:
"Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya..." (QS. Hud: 6)
Ayat ini menegaskan bahwa rezeki bukan hanya milik manusia, tetapi seluruh makhluk hidup. Dan tentu saja, bentuknya tidak selalu berupa materi.
Sebagai seorang guru, saya sering menemukan pelajaran berharga dari kehidupan sehari-hari. Suatu ketika, saya bertemu dengan seorang rekan guru yang secara ekonomi tidak terlalu berkecukupan. Namun, ia selalu tampak bahagia, sehat, dan dikelilingi oleh murid-murid yang mencintainya. Saya sempat bertanya dalam hati, "Apa rahasianya?"
Ternyata, ia memahami rezeki dengan cara yang berbeda. Baginya, kesehatan adalah rezeki. Murid yang menghormatinya adalah rezeki. Bahkan, kesempatan untuk mengajar setiap hari pun ia anggap sebagai rezeki luar biasa.
Dari situ saya mulai tersadar, bahwa rezeki itu sangat luas. Rasulullah SAW juga bersabda:
"Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik baginya..." (HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa setiap kondisi, baik senang maupun susah, bisa menjadi rezeki jika kita menyikapinya dengan iman.
Dalam perjalanan hidup saya sebagai Omjay, saya juga merasakan banyak bentuk rezeki yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Ketika tulisan saya dibaca orang, itu rezeki. Ketika ada pembaca yang terinspirasi, itu rezeki. Bahkan ketika tulisan saya sepi pembaca, itu pun rezeki---karena di situ saya belajar sabar, belajar ikhlas, dan belajar memperbaiki diri.
Rezeki bukan hanya tentang apa yang kita terima, tetapi juga tentang apa yang mendekatkan kita kepada Allah SWT.
Para ulama menjelaskan bahwa rezeki yang sejati adalah segala sesuatu yang bermanfaat untuk kehidupan akhirat. Maka, jika kita memiliki teman yang selalu mengingatkan kita untuk shalat, itu adalah rezeki. Jika kita diberi kesempatan untuk belajar ilmu yang mendekatkan diri kepada Allah, itu adalah rezeki.