Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Allah SWT berfirman:
"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (QS. At-Talaq: 2-3)
Ayat ini sering kita dengar, tetapi jarang kita resapi maknanya. Rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka bukan hanya uang mendadak, tetapi bisa berupa ketenangan hati, kemudahan dalam urusan, atau dipertemukan dengan orang-orang baik.
Saya teringat pengalaman ketika pertama kali aktif menulis di blog. Awalnya tidak ada yang membaca. Bahkan, mungkin hanya saya sendiri yang membuka tulisan itu. Namun, saya terus menulis. Hingga suatu hari, tanpa saya duga, tulisan saya mulai dikenal, dibaca banyak orang, dan bahkan menginspirasi guru-guru lain di seluruh Indonesia.
Apakah itu rezeki? Tentu saja.
Bahkan lebih dari sekadar uang, itu adalah rezeki ilmu dan kebermanfaatan. Sering kali kita lupa bersyukur karena kita hanya menghitung rezeki dalam bentuk angka. Padahal, jika kita mau menghitung nikmat Allah yang lain---keluarga yang sehat, sahabat yang setia, ilmu yang bermanfaat---maka kita akan sadar bahwa kita sebenarnya sangat kaya.
Allah SWT berfirman:
"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya..." (QS. Ibrahim: 34)
Ayat ini seperti menampar kesadaran kita. Betapa selama ini kita sering mengeluh kekurangan, padahal kita tenggelam dalam lautan nikmat. Dalam kehidupan modern yang serba cepat ini, kita sering terjebak dalam perlombaan materi.
Kita lupa bahwa kebahagiaan tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah uang yang kita miliki. Banyak orang kaya yang gelisah, dan banyak orang sederhana yang justru hidup dengan penuh ketenangan.