Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Naik Kendaraan Pribadi atau Umum? Kisah Omjay Menemukan Jawaban dari Perjalanan Hidup
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd
Pagi itu, seperti biasa, Omjay berdiri di depan rumah sambil memandangi jalanan yang mulai ramai. Motor dan mobil berlalu lalang, suara klakson bersahutan, dan angkot sesekali berhenti menunggu penumpang. Di tangan Omjay ada dua pilihan: kunci mobil pribadi atau kartu uang elektronik untuk naik kendaraan umum.
Pertanyaan sederhana itu kembali muncul, "Lebih enak mana, ya? Naik kendaraan pribadi atau kendaraan umum?"
Pertanyaan ini mungkin juga sering terlintas di benak kita. Terlihat sepele, tetapi ternyata menyimpan banyak makna, bahkan pelajaran hidup.

Kenyamanan vs Kebersamaan
Suatu hari, Omjay memutuskan menggunakan mobil pribadi untuk pergi mengajar. Rasanya nyaman. AC sejuk, musik favorit mengalun, dan tidak perlu berdesakan. Omjay bebas berangkat kapan saja tanpa menunggu siapa pun.
Namun, di tengah perjalanan, macet panjang menghadang. Waktu terasa berjalan lambat. Omjay mulai berpikir, "Nyaman sih, tapi kok jadi stres ya?"
Berbeda ketika Omjay mencoba naik kendaraan umum. Memang, terkadang harus berdiri, berdesakan, bahkan menunggu cukup lama. Tapi ada satu hal yang tidak didapatkan di kendaraan pribadi: kebersamaan.
Di angkot atau bus, Omjay bertemu berbagai macam orang. Dari pekerja kantoran, pedagang, hingga pelajar. Ada yang bercerita, ada yang bercanda, bahkan ada yang berbagi pengalaman hidup.
Dari situ Omjay belajar, perjalanan bukan hanya soal sampai tujuan, tetapi juga tentang siapa yang kita temui di sepanjang jalan.
https://www.youtube.com/watch?v=0qSMf5BRWME&t=16s
Hemat vs Gengsi
Naik kendaraan pribadi sering dianggap lebih "keren" dan prestisius. Tidak bisa dipungkiri, ada rasa bangga saat mengendarai mobil sendiri. Namun, Omjay mulai menyadari bahwa gengsi kadang membuat kita lupa pada realitas.
Biaya bensin, tol, parkir, dan perawatan kendaraan tidaklah sedikit. Sementara itu, naik kendaraan umum jauh lebih hemat. Dengan biaya yang relatif kecil, kita bisa sampai tujuan tanpa harus memikirkan banyak hal.
Omjay tersenyum sendiri ketika menyadari satu hal: "Kadang kita bukan butuh kendaraan yang mahal, tapi perjalanan yang berkah."

Fleksibilitas vs Ketergantungan
Kendaraan pribadi memberikan kebebasan. Mau berangkat jam berapa saja, mau berhenti di mana saja, semua bisa diatur sendiri. Ini adalah kelebihan yang tidak bisa dipungkiri.
Namun, kendaraan umum mengajarkan disiplin. Kita harus menyesuaikan dengan jadwal, rute, dan aturan yang ada. Dari sini, Omjay belajar tentang kesabaran dan manajemen waktu.
Menariknya, justru dari keterbatasan itu, muncul kekuatan karakter. Kita belajar untuk lebih sabar, lebih menghargai waktu, dan lebih menghormati orang lain.
Lingkungan dan Kepedulian
Di era sekarang, isu lingkungan menjadi semakin penting. Kendaraan pribadi yang semakin banyak berkontribusi pada polusi udara dan kemacetan.
Ketika Omjay memilih naik kendaraan umum, ada rasa kecil namun berarti: ikut berkontribusi menjaga lingkungan. Mungkin tidak besar, tapi setidaknya ada langkah nyata.
Omjay teringat satu kalimat bijak, "Perubahan besar dimulai dari langkah kecil."