Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Tulisanmu Sepi Pembaca? Jangan Menyerah! Belajarlah Dengan Pedagang Keliling yang Tak Kenal Putus Asa

16 April 2026   14:13 Diperbarui: 16 April 2026   14:13 145 7 4

Karena itu, biarkan tulisanmu menemukan takdirnya.

Tidak semua tulisan harus viral. Tidak semua tulisan harus ramai komentar. Yang penting adalah kita terus menulis. Terus berkarya. Terus berbagi.

Seperti yang sering dilakukan oleh Omjay, Guru Blogger Indonesia, yang tidak pernah lelah menulis setiap hari. Beliau tidak menunggu inspirasi datang. Ia justru menciptakan inspirasi dari kebiasaan menulisnya. Dari hal-hal sederhana, dari pengalaman sehari-hari, dari refleksi kehidupan.

Menulis setiap hari bukan perkara mudah. Ada rasa malas, ada kebosanan, bahkan kadang merasa "untuk apa menulis kalau tidak ada yang membaca?" Tapi di situlah ujian sebenarnya. Apakah kita menulis hanya untuk dilihat orang, atau karena memang kita mencintai proses menulis itu sendiri?

Omjay telah membuktikan bahwa konsistensi adalah kunci. Menulis setiap hari ibarat menabung. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Tulisan yang kita buat hari ini mungkin hanya satu paragraf. Besok dua paragraf. Lusa satu halaman. Tanpa terasa, kita sudah memiliki ratusan tulisan.

Dan dari situlah keajaiban sering terjadi.

Tulisan-tulisan lama yang pernah kita buat, tiba-tiba kembali dibaca. Dibagikan. Diapresiasi. Bahkan mungkin membuka peluang baru dalam hidup kita. Semua itu tidak akan terjadi jika kita berhenti menulis hanya karena sepi pembaca.

Menjadi penulis juga mengajarkan kita untuk tidak bergantung pada validasi orang lain. Kita menulis bukan untuk dipuji, tetapi untuk berbagi. Kita menulis bukan untuk menjadi terkenal, tetapi untuk memberi manfaat.

Jika ada yang membaca dan terinspirasi, itu adalah bonus.

Jika tidak, kita tetap mendapatkan manfaatnya: hati menjadi lega, pikiran menjadi tertata, dan jiwa menjadi lebih tenang.

Menulis adalah terapi. Menulis adalah ibadah. Menulis adalah warisan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4