Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Tulisanmu Sepi Pembaca? Jangan Menyerah! Belajarlah Dengan Pedagang Keliling yang Tak Kenal Putus Asa

16 April 2026   14:13 Diperbarui: 16 April 2026   14:13 136 6 3

Omjay guru blogger Indonesia/dokpri
Omjay guru blogger Indonesia/dokpri

Halo Tulisanmu Sepi Pembaca? Jangan Menyerah! Belajarlah Dengan Pedagang Keliling yang Tak Kenal Putus Asa. Menjadi Penulis harus Seperti Pedagang Keliling: Sabar, Ikhlas, dan Tetap Berjalan. "Tulisanmu Sepi Pembaca? Jangan Menyerah! Kisah Penulis yang Sukses karena Tak Pernah Berhenti Menulis". Itulah kisah Omjay kali ini di kompasiana tercinta.

Menjadi penulis itu sejatinya mirip dengan seorang pedagang keliling. Ia berjalan dari satu tempat ke tempat lain, membawa dagangannya dengan penuh harapan. Tidak setiap hari dagangannya laris. Kadang ramai pembeli, kadang sepi tanpa satu pun transaksi. Namun, ia tetap melangkah. Tetap tersenyum. Tetap menawarkan dengan sabar. Karena ia tahu, rezeki tidak akan tertukar.

https://youtu.be/zwpavVg6pyQ?si=a6RccYH2vksToV3F

Begitu pula dengan dunia menulis.

Seorang penulis setiap hari "menjajakan" pikirannya melalui tulisan. Ia merangkai kata demi kata, menyusun kalimat dengan penuh perasaan, lalu mempublikasikannya dengan harapan ada yang membaca, memahami, bahkan terinspirasi. Namun realitanya tidak selalu indah. Ada hari di mana tulisan kita dibaca ribuan orang, dibagikan ke mana-mana, bahkan menuai banyak komentar. Tapi ada juga hari ketika tulisan kita seperti "hilang di lautan", sepi pembaca, tanpa respons.

Apakah itu berarti kita harus berhenti menulis? Tentu tidak.

Justru di situlah letak keindahan menjadi penulis. Kita belajar tentang kesabaran, keikhlasan, dan konsistensi. Kita belajar bahwa menulis bukan sekadar soal dilihat atau tidak, dibaca atau tidak, viral atau tidak. Menulis adalah tentang proses. Tentang perjalanan. Tentang bagaimana kita setia pada panggilan hati.

Bayangkan seorang pedagang keliling yang hanya mau berjualan ketika yakin akan ramai pembeli. Ia mungkin tidak akan pernah berangkat dari rumah. Sebaliknya, pedagang yang tangguh akan tetap berkeliling, meski cuaca panas, meski hujan, meski jalanan sepi. Ia percaya, selama ia terus berjalan, akan ada saja yang membutuhkan dagangannya.

Penulis pun demikian.

Tulisan yang kita buat hari ini mungkin belum menemukan pembacanya. Tapi bukan berarti tidak berharga. Bisa jadi, suatu hari nanti, tulisan itu akan dibaca oleh seseorang yang sangat membutuhkannya. Bisa jadi, tulisan yang hari ini sepi, justru menjadi penyelamat bagi orang lain di masa depan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4