Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Pinjol Itu Madu atau Racun? Kisah Omjay di Tengah Godaan Pinjaman Online
Oleh: Omjay (Dr. Wijaya Kusumah)
“Madu di tangan kananmu, racun di tangan kirimu…”
Lirik lagu legendaris Madu dan R⁹acun seakan hidup kembali di era digital hari ini. Bedanya, kini bukan lagi soal cinta yang membingungkan, tetapi tentang pinjaman online—atau yang akrab disebut pinjol—yang kian merajalela.
Saya, Omjay, seorang guru yang sehari-hari berinteraksi dengan siswa dan masyarakat, menyaksikan langsung bagaimana pinjol hadir dalam kehidupan banyak orang. Ia tidak sekadar angka dalam laporan ekonomi. Ia adalah cerita. Ia adalah air mata. Ia juga, di sisi lain, harapan.
Suatu sore, setelah selesai mengajar, saya didatangi seorang wali murid. Wajahnya tampak lelah. Matanya sembab, seolah semalam tak tidur.
“Pak Guru,” katanya pelan, “saya butuh cerita ke seseorang.”
Kami duduk di bangku kayu di depan kelas. Ia mulai bercerita. Suaminya baru saja kehilangan pekerjaan. Sementara anaknya—yang juga murid saya—harus tetap sekolah. Biaya hidup terus berjalan.
Dalam keadaan terdesak, ia menemukan solusi instan: pinjaman online.
“Cuma lima menit, Pak. Uangnya langsung masuk,” ujarnya.
Awalnya, ia merasa tertolong. Seperti menemukan oase di tengah padang pasir. Uang itu digunakan untuk kebutuhan mendesak. Bahkan sempat merasa, “Ternyata mudah ya.”
Namun, dua minggu kemudian, segalanya berubah.
Telepon berdering tanpa henti. Pesan masuk siang dan malam. Nada bicara penagih tidak lagi ramah. Ia diancam. Lebih menyakitkan lagi, kontak di ponselnya ikut dihubungi.
“Pak, saya malu sekali. Tetangga jadi tahu semua.”
Di titik itu, saya terdiam. Apa yang awalnya madu, perlahan berubah menjadi racun.
Namun, cerita tidak selalu berakhir pahit.
Beberapa bulan sebelumnya, saya bertemu seorang alumni. Ia datang dengan senyum lebar. Ia bercerita bagaimana ia memulai usaha kecil-kecilan menjual makanan ringan secara online.
Modalnya? Pinjaman online.
“Tapi saya pakai dengan perhitungan, Pak,” katanya.
Ia mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran. Ia memastikan bahwa pinjaman itu benar-benar digunakan untuk hal produktif. Dan yang paling penting, ia disiplin membayar.
Kini, usahanya berkembang. Ia bahkan sudah mempekerjakan dua orang tetangganya.
Di matanya, pinjol bukan jebakan. Ia adalah jembatan.
Dua kisah ini terus berputar di kepala saya.
Sebagai guru, saya mulai menyadari satu hal penting: masalahnya bukan hanya pada pinjol itu sendiri, tetapi pada literasi—pada pemahaman kita dalam mengelola keuangan.
Kita hidup di zaman serba cepat. Uang bisa datang hanya dengan satu sentuhan layar. Tapi sayangnya, pemahaman tidak datang secepat itu.
Banyak orang tergoda oleh kemudahan, tanpa benar-benar memahami konsekuensinya.
Saya pun mulai memasukkan topik ini dalam diskusi di kelas. Saat mengajar Informatika, saya tidak hanya bicara soal teknologi, tetapi juga dampaknya.
Saya bertanya kepada siswa:
“Kalau ada aplikasi yang bisa kasih uang dalam lima menit, apakah itu selalu baik?”
Mereka terdiam. Lalu satu per satu mulai menjawab.
“Kalau tidak hati-hati, bisa jadi bahaya, Pak.”
Di situlah saya merasa, pendidikan memiliki peran besar. Bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk kesadaran.
Fenomena pinjaman online ini juga mengingatkan saya pada pemikiran Shoshana Zuboff. Dalam bukunya, ia menjelaskan bagaimana data pribadi menjadi komoditas di era digital.
Aplikasi pinjol tidak hanya meminjamkan uang. Ia juga “meminjam” data kita—kontak, lokasi, bahkan kebiasaan.
Ketika terjadi masalah, data itu bisa menjadi alat tekanan.
Ini bukan lagi sekadar utang-piutang. Ini sudah masuk ke ranah martabat manusia.
Di sisi lain, pemikiran Chris Skinner juga relevan. Ia menyebut bahwa masa depan keuangan adalah digital, cepat, dan tanpa batas.
Namun ia juga mengingatkan: tanpa kepercayaan, inovasi akan runtuh.
Dan di Indonesia hari ini, kita sedang berada di persimpangan itu.
Sebagai Omjay, saya tidak ingin hanya menjadi penonton.
Saya mulai menulis. Saya berbagi kisah. Saya mengajak guru lain untuk ikut menyuarakan pentingnya literasi keuangan.
Di forum-forum pendidikan, saya sering mengatakan:
“Anak-anak kita perlu diajarkan bukan hanya cara mendapatkan uang, tetapi juga cara mengelolanya.”
Karena kenyataannya, banyak korban pinjol justru berasal dari generasi muda. Mereka akrab dengan teknologi, tetapi belum cukup matang dalam mengambil keputusan finansial.
https://youtu.be/83_1A_JZGFc?si=aSf3h828VIklkXqC
Pinjol tidak bisa kita tolak sepenuhnya. Ia bagian dari perkembangan zaman.
Namun kita juga tidak boleh menutup mata terhadap risikonya.
Ia seperti pisau.
Di tangan seorang koki, ia menjadi alat untuk menciptakan hidangan lezat.
Di tangan yang salah, ia bisa melukai.
Akhirnya, saya kembali pada lirik lagu tadi.
“Madu di tangan kananmu, racun di tangan kirimu…”
Pinjaman online adalah keduanya.
Ia bisa menjadi penyelamat. Ia juga bisa menjadi penghancur.
Dan kita, sebagai manusia, sebagai guru, sebagai orang tua, berada di titik memilih.
Apakah kita akan mengambil madunya, dengan penuh kesadaran dan perhitungan?
Atau tanpa sadar, meneguk racunnya?
Sebagai guru, saya memilih untuk terus mengingatkan.
Karena di balik setiap angka triliunan rupiah itu, ada manusia. Ada keluarga. Ada masa depan.
Dan tugas kita adalah memastikan, teknologi tidak menghilangkan kemanusiaan.***
Tag: pinjaman online, literasi keuangan, fintech Indonesia, utang digital, edukasi finansial, kisah inspiratif