Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Kolaborasi Antar Generasi: Kunci Masa Depan Pendidikan
Salah satu tantangan yang disinggung dalam artikel kompas tersebut adalah adanya "jarak" antara guru muda dan guru senior. Saya memahami hal ini. Perbedaan cara pandang, gaya kerja, hingga pendekatan pembelajaran sering kali menimbulkan gesekan. Namun, saya percaya bahwa pendidikan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.
Guru senior memiliki pengalaman panjang, sementara guru gen Z memiliki energi dan kreativitas. Jika keduanya bersinergi, maka akan lahir pembelajaran yang luar biasa.
Selama 34 tahun mengajar, saya telah bertemu banyak generasi guru. Dan saya selalu percaya bahwa setiap generasi membawa keunggulannya masing-masing.
Menjadi Guru: Antara Ideal dan Realitas
Apa yang disampaikan oleh ibu Prof. Dr. Unifah Rosyidi tentang rendahnya minat anak muda menjadi guru adalah kenyataan yang harus kita hadapi. Jika kesejahteraan guru tidak diperhatikan, maka profesi ini akan semakin ditinggalkan. Namun, di balik semua itu, saya masih melihat harapan.
Selama masih ada guru-guru seperti ibu guru Miftahul dan pak guru Diki yang bertahan, selama masih ada semangat untuk mengajar meski dalam keterbatasan, maka pendidikan Indonesia masih memiliki masa depan.
Saya sendiri telah melewati berbagai fase: dari menjadi guru biasa, menghadapi keterbatasan, hingga akhirnya menemukan passion dalam menulis dan berbagi. Semua itu tidak instan. Dibutuhkan waktu, kesabaran, dan ketulusan.
Penutup: Menyalakan Cahaya, Tak Peduli Zaman
Menjadi guru di era apa pun tidak pernah mudah. Dulu sulit, sekarang pun sulit juga hanya bentuknya yang berbeda.
Guru gen Z menghadapi tantangan digital, tekanan ekonomi, dan ekspektasi sosial yang tinggi. Sementara guru generasi saya menghadapi keterbatasan fasilitas dan sistem yang belum berkembang. Namun, satu hal yang tetap sama: guru adalah cahaya bagi generasi masa depan. Jadilah guru tangguh berhati cahaya.