Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Kisah Omjay kali ini tentang Guru Gen Z dan Omjay guru jadul. Dua Generasi, Satu Pengabdian untuk Pendidikan Indonesia. Sebuah artikel yang sengaja dituliskan Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay Guru Blogger Indonesia).

Kisah guru-guru muda generasi Z yang dimuat dalam Kompas hari ini membuka mata kita bahwa dunia pendidikan Indonesia sedang berada dalam fase yang penuh tantangan.
Guru-guru muda seperti Miftahul dan Diki adalah potret nyata bagaimana profesi guru kini tidak lagi sederhana. Mereka harus menghadapi tekanan ekonomi, tuntutan profesional yang tinggi, serta dinamika murid masa kini yang tumbuh di era digital.
Namun, di balik kisah guru gen Z tersebut, saya Omjay yang telah mengabdi selama 34 tahun sebagai guru di SMP Labschool jakarta melihat benang merah yang sama: pengabdian yang tulus, meski zaman terus berubah.
https://youtu.be/5v9I8jC13v4?si=oVq_B_-HPX5BlrIV
Dari Kapur ke Keyboard: Perjalanan Panjang Seorang Guru
Ketika saya pertama kali mengajar pada awal tahun 1990-an, ruang kelas masih didominasi papan tulis hitam dan kapur. Tidak ada proyektor, apalagi gawai canggih seperti sekarang.
Sumber belajar terbatas pada buku paket dan catatan guru. Namun, satu hal yang tidak pernah berubah: semangat untuk mencerdaskan anak bangsa.
Selama lebih dari tiga dekade, saya menyaksikan transformasi besar dalam dunia pendidikan. Dari kurikulum yang berganti-ganti, hingga perubahan karakter siswa yang semakin kompleks.
Jika dulu tantangan guru adalah bagaimana membuat siswa memahami pelajaran, kini tantangannya jauh lebih luas: bagaimana membuat siswa fokus di tengah gempuran teknologi dan media sosial.
Apa yang dialami guru gen Z saat ini, sejatinya adalah "versi baru" dari perjuangan lama yang kami alami. Bedanya, medan tempurnya berbeda.
Guru Gen Z: Adaptif tapi Tertekan
Kisah ibu guru Miftahul yang hanya menerima honor Rp90.000 di awal kariernya mengingatkan saya pada masa-masa sulit guru honorer di Indonesia. Walau nominalnya berbeda, rasa yang dirasakan sama: antara idealisme dan kebutuhan hidup yang sering kali tidak sejalan.
Begitu pula dengan pak Guru Diki yang harus mengajar puluhan jam, menjadi wali kelas, hingga membina organisasi siswa. Beban kerja guru saat ini memang tidak ringan. Bahkan, sering kali guru muda harus mengerjakan tugas administrasi yang menyita waktu dan energi.
Saya pun pernah mengalami masa di mana tugas administratif begitu menumpuk. Mengisi laporan, membuat perangkat pembelajaran, hingga menghadiri berbagai rapat yang tak jarang mengurangi waktu untuk berinteraksi dengan siswa. Namun, satu hal yang selalu saya pegang adalah: guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa.
Murid Zaman Sekarang: Tantangan yang Berbeda
Jika dulu siswa cenderung patuh dan menghormati guru tanpa banyak bertanya, kini situasinya berubah. Murid masa kini lebih kritis, lebih ekspresif, tetapi juga lebih rentan terhadap pengaruh negatif teknologi.
Saya Omjay sering menemukan siswa yang lebih fokus pada layar ponsel daripada penjelasan guru. Bahkan, tidak jarang bahasa yang digunakan siswa di kelas sudah terpengaruh oleh konten digital yang kurang mendidik. Namun, apakah ini berarti generasi sekarang lebih buruk? Tidak.
Mereka hanya berbeda saja. Dan sebagai guru, kita dituntut untuk beradaptasi. Di sinilah eh di situlah saya belajar banyak dari guru gen Z. Mereka memanfaatkan media sosial, membuat pembelajaran lebih interaktif, dan mendekati siswa dengan cara yang lebih relevan dengan zaman.
Saya sendiri kemudian ikut belajar menulis blog, aktif di dunia digital, dan dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia dengan blog https://wijayalabs.com. Dengan mantra ajaib menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Bagi saya, belajar tidak mengenal usia. Jika guru gen Z belajar memahami karakter siswa, maka guru senior seperti saya juga harus belajar memahami teknologi.
Kolaborasi Antar Generasi: Kunci Masa Depan Pendidikan
Salah satu tantangan yang disinggung dalam artikel kompas tersebut adalah adanya "jarak" antara guru muda dan guru senior. Saya memahami hal ini. Perbedaan cara pandang, gaya kerja, hingga pendekatan pembelajaran sering kali menimbulkan gesekan. Namun, saya percaya bahwa pendidikan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.
Guru senior memiliki pengalaman panjang, sementara guru gen Z memiliki energi dan kreativitas. Jika keduanya bersinergi, maka akan lahir pembelajaran yang luar biasa.
Selama 34 tahun mengajar, saya telah bertemu banyak generasi guru. Dan saya selalu percaya bahwa setiap generasi membawa keunggulannya masing-masing.
Menjadi Guru: Antara Ideal dan Realitas
Apa yang disampaikan oleh ibu Prof. Dr. Unifah Rosyidi tentang rendahnya minat anak muda menjadi guru adalah kenyataan yang harus kita hadapi. Jika kesejahteraan guru tidak diperhatikan, maka profesi ini akan semakin ditinggalkan. Namun, di balik semua itu, saya masih melihat harapan.
Selama masih ada guru-guru seperti ibu guru Miftahul dan pak guru Diki yang bertahan, selama masih ada semangat untuk mengajar meski dalam keterbatasan, maka pendidikan Indonesia masih memiliki masa depan.
Saya sendiri telah melewati berbagai fase: dari menjadi guru biasa, menghadapi keterbatasan, hingga akhirnya menemukan passion dalam menulis dan berbagi. Semua itu tidak instan. Dibutuhkan waktu, kesabaran, dan ketulusan.
Penutup: Menyalakan Cahaya, Tak Peduli Zaman
Menjadi guru di era apa pun tidak pernah mudah. Dulu sulit, sekarang pun sulit juga hanya bentuknya yang berbeda.
Guru gen Z menghadapi tantangan digital, tekanan ekonomi, dan ekspektasi sosial yang tinggi. Sementara guru generasi saya menghadapi keterbatasan fasilitas dan sistem yang belum berkembang. Namun, satu hal yang tetap sama: guru adalah cahaya bagi generasi masa depan. Jadilah guru tangguh berhati cahaya.
Selama 34 tahun saya mengajar, saya Omjay menyadari bahwa keberhasilan seorang guru tidak diukur dari seberapa besar gajinya, tetapi dari seberapa banyak kehidupan yang berhasil ia sentuh. Nanti akan terasa bila muridnya sudah menjadi orang sukses.

Untuk para guru gen Z, teruslah bertahan. Untuk para guru senior, teruslah menjadi teladan. Dan untuk kita semua, mari bersama-sama memuliakan profesi guru. Hanya kita sendiri yang mampu memuliakan profesi guru dan murid akan tersentuh hatinya bila guru mempu memberikan pelayanan terbaiknya.
Karena di tangan guru, masa depan bangsa ini ditentukan. Menjadi guru bukan sekadar bertahan di tengah badai zaman, tetapi memilih untuk tetap menyalakan cahaya ketika banyak yang mulai redup.
Jika hari ini lelah terasa, ingatlah: setiap ilmu yang kita tanam akan tumbuh menjadi masa depan yang tak ternilai. Dan mungkin, puluhan tahun dari sekarang, ada satu anak yang berdiri tegak di puncak keberhasilan lalu dengan bangga berkata, "Saya bisa seperti ini karena guru saya."
Salam Blogger Persahabatan
Omjay
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com
