Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Sejak Kapan Omjay Mulai Tertarik Menulis?

1 Mei 2026   17:15 Diperbarui: 1 Mei 2026   17:15 141 8 4


Sejak Kapan Omjay Mulai Tertarik Menulis? Sebuah Kisah Perjalanan Literasi

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)

Sejak kapan Omjay mulai tertarik menulis?

Pertanyaan sederhana ini sering sekali ditujukan kepada Omjay, baik oleh guru, siswa, maupun para pegiat literasi. Jawabannya tidak sesederhana yang dibayangkan. Menulis bukanlah sesuatu yang tiba-tiba hadir dalam hidup Omjay. Ia tumbuh perlahan, seperti benih yang ditanam, disiram, lalu dirawat dengan kesabaran.

Omjay mulai mengenal dunia menulis sejak masih duduk di bangku sekolah. Saat itu, Omjay bukanlah siswa yang menonjol dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Bahkan, jujur saja, Omjay lebih sering merasa kesulitan ketika diminta menulis karangan. Kata-kata terasa sulit dirangkai, ide sering buntu di tengah jalan.

Namun, ada satu hal yang membuat Omjay terus mencoba: dorongan dari guru.

Guru-guru Omjay tidak pernah lelah menyemangati. Mereka berkata, "Menulis itu bukan bakat, tapi kebiasaan." Kalimat sederhana itu terus terngiang dalam benak Omjay hingga hari ini.

Perjalanan menulis Omjay mulai menemukan arah ketika menjadi seorang guru. Di sinilah titik balik itu terjadi. Omjay mulai menyadari bahwa menulis bukan hanya tentang merangkai kata, tetapi tentang berbagi pengalaman, menyampaikan gagasan, dan meninggalkan jejak pemikiran.

Awalnya, Omjay menulis karena tuntutan. Laporan, administrasi, bahan ajar---semua itu memaksa untuk terbiasa menulis. Tapi lama-kelamaan, Omjay mulai menemukan kenikmatan di dalamnya. Ada kepuasan tersendiri ketika tulisan selesai. Ada rasa bahagia ketika tulisan dibaca orang lain.

Perkenalan Omjay dengan dunia digital semakin menguatkan minat dalam menulis. Blog menjadi ruang baru untuk mengekspresikan diri. Omjay mulai menulis apa saja: pengalaman mengajar, kisah kehidupan, refleksi diri, hingga motivasi untuk sesama guru.

Dari situlah julukan "Guru Blogger Indonesia" mulai melekat.

Omjay ingat betul, di awal menulis blog, pembaca hanya hitungan jari. Tidak ada komentar, tidak ada apresiasi. Tapi Omjay tidak berhenti. Omjay terus menulis. Karena percaya, menulis itu seperti menanam. Kita tidak selalu langsung melihat hasilnya, tapi suatu saat ia akan tumbuh.

Dan benar saja.

Perlahan tapi pasti, tulisan mulai dibaca. Mulai ada yang berkomentar. Mulai ada yang menghubungi, mengatakan bahwa tulisan memberi inspirasi. Di situlah keyakinan semakin kuat, bahwa menulis adalah jalan yang harus terus dijalani.

Menulis telah mengubah hidup Omjay.

Ia mempertemukan dengan banyak orang hebat. Ia membuka kesempatan untuk berbagi di berbagai forum. Ia bahkan mengantarkan ke berbagai pengalaman berharga yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Namun, perjalanan ini tentu tidak selalu mulus.

Omjay pernah mengalami masa sulit. Sakit, kelelahan, bahkan hampir menyerah. Tapi justru di saat-saat itulah menulis menjadi tempat bersandar. Menulis menjadi terapi. Menulis menjadi cara untuk menguatkan diri.

Omjay belajar bahwa menulis dengan hati jauh lebih bermakna daripada sekadar menulis dengan logika.

Karena tulisan yang lahir dari hati akan sampai ke hati pembaca.

Hari ini, ketika banyak orang bertanya bagaimana cara mulai menulis, jawabannya tetap sama: mulai saja dulu.

Tidak perlu menunggu sempurna. Tidak perlu menunggu pandai. Tulislah apa yang dirasakan, apa yang dipikirkan, apa yang dialami. Karena setiap orang punya cerita, dan setiap cerita layak untuk dituliskan.

Omjay sering mengatakan kepada para guru:

"Kalau kita tidak menulis, maka kita akan hilang dari sejarah."

Menulis adalah cara kita mengabadikan diri. Menulis adalah warisan terbaik yang bisa kita tinggalkan.

Kini, menulis bukan lagi sekadar hobi. Ia telah menjadi bagian dari hidup. Ia telah menjadi jalan pengabdian. Dan ia akan terus dijalani, selama masih diberi kesempatan oleh Allah SWT.

Jadi, sejak kapan Omjay mulai tertarik menulis?

Jawabannya: sejak menyadari bahwa menulis adalah panggilan jiwa.

Dan panggilan itu terus memanggil... hingga hari ini.

Salam Blogger Persahabatan, Kunjungi blog Omjay di: https://wijayalabs.com

Omjay guru Blogger Indonesia/dokpri
Omjay guru Blogger Indonesia/dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3