Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Kisah Omjay: Guru Biasa Dengan Kisah Luar Biasa

19 Mei 2026   17:09 Diperbarui: 20 Mei 2026   10:19 136 5 7

Omjay guru blogger Indonesia/dokpri
Omjay guru blogger Indonesia/dokpri

Guru Biasa dengan Kisah Luar Biasa. Inilah kisah Omjay atau Dr. Wijaya Kusumah di Kompasiana tercinta. Semoga bermanfaat buat pembaca kompasiana tercinta.

Seorang guru di wa group PGRI curhat kepada Omjay.

"Omjay, saya bingung mau menulis apa. Hidup saya biasa saja."

Kalimat itu sering sekali saya dengar dari para guru. Mereka merasa tidak punya pengalaman hebat. Tidak pernah menjadi pembicara internasional. Tidak pernah viral di media sosial. Tidak punya penghargaan nasional. Bahkan ada yang berkata lirih kepada saya, "Saya hanya guru biasa."

Padahal justru di situlah letak keistimewaannya. Saya tersenyum setiap mendengar kalimat itu. Sebab saya tahu, banyak guru tidak sadar bahwa ruang kelas kecil yang setiap hari mereka masuki sesungguhnya menyimpan ribuan kisah luar biasa. Kisah yang mungkin sederhana, tetapi mampu menyentuh hati banyak orang.

Saya teringat seorang guru di daerah pinggiran yang pernah menghubungi saya lewat WhatsApp. Ia mengatakan ingin belajar menulis, tetapi merasa minder.

"Omjay, murid saya biasa saja. Sekolah saya juga kecil. Tidak ada cerita menarik."
Saya lalu bertanya sederhana.

"Apakah Ibu pernah membantu murid yang menangis?"

"Iya, sering."

"Apakah Ibu pernah membelikan makanan untuk siswa yang lupa membawa bekal?"

"Iya pernah."

"Apakah Ibu pernah merasa sedih ketika murid tidak masuk sekolah karena membantu orang tuanya bekerja?"

"Iya, pernah sekali sampai saya menangis."

Saya lalu berkata pelan kepadanya:

"Itulah tulisan yang paling berharga."

Tiba-tiba ia terdiam. Banyak guru mengira tulisan hebat harus penuh teori, data rumit, atau bahasa tinggi. Padahal tulisan yang paling kuat justru lahir dari kejujuran hati. Dari pengalaman nyata. Dari perjuangan sederhana yang manusiawi. Tulisan yang mampu membuat pembaca berkata, "Saya pernah merasakan itu."

Menjadi guru bukan hanya soal mengajar matematika, bahasa Indonesia, atau informatika. Menjadi guru adalah perjalanan emosi yang panjang. Ada tawa. Ada lelah. Ada kecewa. Ada harapan. Semua itu adalah bahan tulisan yang tidak akan pernah habis.

Saya sendiri belajar banyak dari ruang kelas. Dulu ketika mulai menulis blog, saya juga tidak merasa punya kisah istimewa. Saya hanya guru biasa yang setiap hari berangkat pagi, mengajar, lalu pulang sore. Namun ketika saya mulai menulis pengalaman sederhana, ternyata banyak orang merasa dekat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3