Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
https://youtu.be/8sRtjz4ctrQ?si=3927zUbZP6YpZ54k
Kisah omjay kali ini tentang Belajar Pantun Bersama KBMN PGRI gelombang 34 bersama pak Miftah. Ketika Omjay Kembali Jatuh Cinta pada Pantun. Sebuah kisah nyata yang dituliskan Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) Guru Blogger Indonesia.

Pertemuan ke-20 KBMN PGRI Gelombang 34 menghadirkan tema yang unik, menarik, dan sangat dekat dengan budaya bangsa Indonesia, yaitu pantun. Setelah para peserta belajar berbagai teknik menulis, menulis buku, mengelola blog, hingga memanfaatkan AI untuk membantu menulis, kali ini mereka diajak kembali menengok kekayaan sastra lama yang ternyata masih sangat relevan di era digital.
Satu per satu resume peserta masuk ke grup WhatsApp KBMN 34. Omjay membacanya dengan penuh perhatian saat berada dalam perjalanan menuju sekolah menggunakan LRT dari Stasiun Cikunir menuju Dukuh Atas. Di tengah perjalanan, Omjay merasakan kebahagiaan tersendiri melihat semangat para peserta yang tidak pernah surut untuk belajar dan menulis.
Resume yang terkumpul antara lain:
1. Hayatunnufus judulnyanSaatnya Jatuh Cinta pada Pantun
2. Sa'diyah judulnya Kaidah Pantun
3. Hanifah judulnya Pantun Oh Pantun
4. Anis Solihah judulnyanMembuka Mata Melalui Pantun
5. Fauziah judulnya Kaidah Pantun
Meskipun judulnya berbeda-beda, semuanya mengarah pada satu pemahaman yang sama bahwa pantun bukan sekadar permainan kata, melainkan warisan budaya yang kaya nilai pendidikan, kreativitas, dan karakter.
Tulisan Hayatunnufus mengajak pembacanya untuk kembali mencintai pantun. Menurutnya, pantun merupakan cara yang indah untuk menyampaikan pesan. Omjay sangat setuju. Di tengah maraknya komunikasi yang serba cepat dan terkadang kasar di media sosial, pantun mengajarkan kita menyampaikan kritik, nasihat, bahkan candaan dengan bahasa yang santun.
Sementara itu, Sa'diyah menjelaskan tentang kaidah pantun. Pantun memiliki aturan yang khas, yaitu terdiri dari empat baris, memiliki sampiran dan isi, serta pola rima a-b-a-b. Dari resume tersebut Omjay semakin menyadari bahwa pantun sebenarnya melatih ketelitian dan kedisiplinan berpikir. Tidak sembarang kata dapat dimasukkan ke dalam pantun. Semua harus disusun dengan memperhatikan irama, jumlah suku kata, dan makna.
Hanifah melalui tulisannya Pantun Oh Pantun menunjukkan bahwa pantun adalah karya sastra yang menyenangkan. Pantun membuat belajar bahasa menjadi lebih menarik. Banyak orang yang awalnya merasa sulit menulis artikel panjang justru lebih mudah memulai dari membuat pantun.
Omjay teringat ketika mengajar siswa SMP Labschool Jakarta. Banyak siswa yang awalnya malu menulis. Namun ketika diminta membuat pantun lucu atau pantun persahabatan, mereka justru sangat antusias. Dari situlah kemampuan menulis mereka perlahan berkembang.
Tulisan Anis Solihah memberikan perspektif yang sangat menarik. Pantun tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan karakter. Sejak zaman dahulu, pantun digunakan untuk menyampaikan pesan moral, nasihat kehidupan, dan tuntunan bermasyarakat.
Masyarakat Melayu menjadikan pantun sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan dalam acara adat, pernikahan, dan berbagai kegiatan sosial, pantun selalu hadir sebagai media komunikasi yang elegan.
Tambahan resume dari Fauziah melalui tulisan Kaidah Pantun semakin memperkaya pemahaman peserta KBMN tentang pentingnya memahami aturan dasar pantun sebelum mulai membuatnya. Fauziah menekankan bahwa memahami struktur pantun akan memudahkan seseorang menghasilkan pantun yang baik dan bermakna.
Dari tulisan Fauziah, Omjay mendapatkan pelajaran bahwa kreativitas tidak lahir dari kebebasan tanpa batas. Justru kreativitas sering muncul ketika kita memahami aturan terlebih dahulu. Seorang pemain musik harus memahami nada sebelum berimprovisasi. Demikian pula penulis pantun harus memahami kaidah sebelum menghasilkan karya yang indah.
Semakin banyak resume yang dibaca, semakin Omjay merasa bahwa pembelajaran malam itu sangat penting. Di era kecerdasan buatan (AI), banyak orang khawatir budaya menulis akan hilang. Namun justru melalui pantun kita belajar bahwa kreativitas manusia tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh mesin.
AI mungkin dapat membuat pantun dalam hitungan detik. Namun AI tidak memiliki pengalaman hidup. AI tidak pernah merasakan kegembiraan seorang guru ketika muridnya berhasil. AI tidak pernah merasakan haru ketika melihat perjuangan orang tua membesarkan anak-anaknya. AI tidak pernah merasakan kehilangan, cinta, persahabatan, dan pengorbanan sebagaimana manusia.
Karena itulah pantun yang lahir dari pengalaman hidup manusia akan selalu memiliki nilai yang berbeda.
Omjay melihat bahwa tema pantun dalam KBMN bukan sekadar belajar sastra. Tema ini mengajarkan peserta untuk mengolah rasa, memilih kata dengan bijak, dan menyampaikan pesan dengan cara yang indah.
Pantun juga dapat menjadi media latihan menulis yang sangat efektif. Dari pantun seseorang belajar memilih diksi yang tepat. Dari pantun seseorang belajar menyampaikan pesan secara singkat namun bermakna. Dari pantun seseorang belajar berpikir kreatif.
Omjay berharap para peserta KBMN tidak berhenti sampai membuat resume saja. Akan sangat menarik jika setiap peserta mulai membiasakan diri membuat satu pantun setiap hari. Sama seperti kebiasaan menulis harian yang selalu Omjay lakukan, kebiasaan berpantun juga akan melatih kreativitas dan kemampuan berbahasa.
Di akhir perjalanan menuju rumah, Omjay pun mencoba membuat pantun sederhana sebagai bentuk apresiasi kepada seluruh peserta KBMN 34.
Pergi ke pasar membeli nangka,
Pulangnya singgah membeli ketan.
Terima kasih peserta yang setia berkarya,
Melestarikan budaya lewat pantun dan tulisan.
Kemudian Omjay menambahkan satu pantun lagi:
Naik LRT menuju kota,
Duduk nyaman sambil membaca.
Pantun lama tetap bermakna,
Menjadi warisan sepanjang masa.
Melalui pertemuan ke-20 ini, Omjay semakin yakin bahwa menulis bukan hanya soal menghasilkan karya, tetapi juga tentang menjaga budaya, merawat tradisi, dan mewariskan nilai-nilai kehidupan kepada generasi berikutnya.
Selamat kepada Hayatunnufus, Sa'diyah, Hanifah, Anis Solihah, dan Fauziah yang telah menyelesaikan resumenya dengan baik. Semoga semakin banyak peserta KBMN yang jatuh cinta pada pantun, sebagaimana mereka jatuh cinta pada dunia menulis.
Karena sesungguhnya, ketika pantun bertemu dengan literasi, lahirlah generasi yang tidak hanya cerdas berpikir, tetapi juga indah dalam bertutur kata.
Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com