Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Cerdas dalam ilmu. Karena ilmu adalah bekal untuk menghadapi masa depan. Namun ilmu saja tidak cukup. Karena banyak orang pintar tetapi gagal menjadi manusia yang baik. Maka lahirlah kalimat kedua: Kuat dalam karakter.
Karakter adalah fondasi kehidupan. Karakter adalah kejujuran ketika tidak ada yang melihat. Karakter adalah tanggung jawab ketika menghadapi kesulitan. Karakter adalah keberanian untuk berkata benar.
Karakter adalah kemampuan untuk tetap rendah hati ketika berada di puncak prestasi. Lalu tema itu ditutup dengan kalimat: Gemilang dalam prestasi.
Prestasi bukan hanya nilai rapor. Prestasi bukan hanya piala. Prestasi bukan hanya medali. Prestasi terbesar adalah ketika seorang anak mampu menjadi pribadi yang lebih baik dari dirinya kemarin.
Saya kembali memandang layar besar di depan panggung. Tiba-tiba ingatan saya melayang kepada para orang tua. Mungkin saat ini mereka sedang bersiap datang ke Balai Sudirman.
Mereka akan mengenakan pakaian terbaik. Mereka akan duduk dengan bangga menyaksikan putra-putrinya berjalan menuju masa depan. Tetapi siapa yang tahu berapa banyak perjuangan yang mereka sembunyikan?
Ada ayah yang setiap pagi berangkat bekerja sebelum matahari terbit. Ada ibu yang rela mengurangi kebutuhannya demi biaya pendidikan anak. Ada orang tua yang diam-diam menangis ketika anaknya sakit.
Ada yang berjuang membayar sekolah di tengah kesulitan ekonomi. Ada yang terus mendoakan anaknya setiap selesai salat. Hari ini adalah hari mereka juga. Hari ini bukan hanya pelepasan siswa. Hari ini adalah pelepasan sebagian rasa cemas para orang tua. Hari ini adalah bukti bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia.
Sebagai guru, saya sering melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh banyak orang. Saya melihat bagaimana seorang ibu menunggu anaknya selesai lomba. Saya melihat bagaimana seorang ayah datang diam-diam menyaksikan anaknya tampil di panggung.
Saya melihat bagaimana orang tua menahan lelah demi masa depan buah hatinya. Karena itu, setiap kali acara pelepasan berlangsung, saya selalu yakin bahwa yang paling banyak menangis biasanya bukan siswa. Melainkan para ibu.
Mengapa? Karena seorang ibu selalu mengingat perjalanan anaknya sejak kecil. Ia ingat saat pertama kali menggendong. Ia ingat saat pertama kali mengantar sekolah. Ia ingat saat anaknya jatuh lalu menangis. Ia ingat saat anaknya belajar membaca. Ia ingat saat anaknya demam semalaman. Dan hari ini ia melihat anak itu berdiri tegak di atas panggung sebagai seorang lulusan SMP.