Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Biarlah Dikenal Langit Meski Tak Dikenal di Bumi

15 Juni 2026   04:45 Diperbarui: 15 Juni 2026   14:12 84 4 1

Ilustrasi artikel/chatgpt
Ilustrasi artikel/chatgpt

Biarlah Dikenal di Langit Meski Tak Terkenal di Bumi. Inilah kisah Omjay di Kompasiana. Sebuah kisah nyata yang dituliskan Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) -- Guru Blogger Indonesia.

Pagi itu saya membaca sebuah renungan yang sangat menampar hati. Tulisan tersebut dikirimkan oleh pak Umedi. 

Kalimat demi kalimatnya sederhana, tetapi maknanya begitu dalam. Saya membacanya perlahan sambil menyeruput secangkir teh hangat di teras rumah. Udara pagi Bekasi masih terasa sejuk setelah hujan semalam. Burung-burung berkicau seolah ikut mengajak saya merenungkan kehidupan yang sering kali terlalu sibuk mengejar pengakuan manusia.

Dalam renungan itu tertulis bahwa Allah merahasiakan diterimanya sebuah amalan agar hati kita selalu khawatir. Allah juga membuka pintu taubat agar kita selalu memiliki harapan. Dan Allah menjadikan amalan penutup hidup sebagai penentu akhir perjalanan manusia agar tidak ada seorang pun yang tertipu oleh amalnya sendiri.

Kalimat itu membuat saya terdiam cukup lama.

Selama ini manusia sering sibuk menghitung amalnya sendiri. Ada yang bangga karena sering bersedekah, ada yang bangga karena rajin beribadah, ada yang bangga karena sering tampil di depan publik. Padahal tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar tahu apakah amal itu diterima oleh Allah atau tidak.

pena, doa, dan Jejak Digital Omjay

Saya teringat seorang guru senior yang pernah saya kenal. Beliau bukan orang terkenal. Tidak pernah tampil di televisi. Tidak pernah menjadi narasumber seminar nasional. Tidak memiliki ribuan pengikut di media sosial. Namun setiap pagi beliau datang paling awal ke sekolah. Beliau menyapa semua orang dengan senyum tulus. Beliau membantu siswa yang kesulitan tanpa berharap pujian. Bahkan ketika sakit pun beliau tetap mendoakan murid-muridnya agar sukses di masa depan.

Ketika beliau meninggal dunia, saya melihat sesuatu yang luar biasa. Ratusan murid datang melayat. Banyak di antara mereka menangis. Ada yang sudah menjadi dokter, guru, tentara, polisi, bahkan pengusaha sukses. Mereka semua mengaku pernah merasakan kebaikan hati beliau.

Saat itu saya sadar bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu terlihat dari sorotan kamera atau banyaknya penghargaan yang diterima. Ada orang yang namanya tidak dikenal masyarakat luas, tetapi jejak kebaikannya hidup di hati banyak orang.

Renungan pagi itu juga mengingatkan bahwa seandainya paras dan raga lebih berharga daripada ruh, tentu ruh tidak akan naik ke langit sementara raga harus kembali ke tanah. Betapa sering manusia menghabiskan waktu mempercantik penampilan lahiriah, tetapi lupa memperindah jiwanya.

Saya teringat masa muda ketika masih kuliah di IKIP Jakarta. Saat itu saya juga seperti kebanyakan anak muda lainnya yang ingin terlihat hebat. Saya ingin dipuji. Saya ingin dihargai. Saya ingin dianggap berhasil. Namun semakin bertambah usia, saya menyadari bahwa semua itu hanyalah sementara.

Ketika seseorang meninggal dunia, yang dibawa bukanlah jabatan, bukan pula kendaraan mewah atau rumah megah. Yang menemani perjalanan panjang menuju akhirat hanyalah amal baik dan keikhlasan hati.

Beberapa bulan lalu saya kehilangan kakak tercinta. Kepergiannya begitu mendadak. Saat berdiri di dekat liang lahat, saya kembali diingatkan bahwa kehidupan ini sangat singkat. Tidak ada yang tahu kapan giliran kita dipanggil pulang.

Di depan pusara itu saya bertanya kepada diri sendiri. Sudahkah hidup saya bermanfaat bagi orang lain? Sudahkah saya menjadi guru yang mengajar dengan hati? Sudahkah tulisan-tulisan yang saya buat mendekatkan manusia kepada kebaikan?

Pertanyaan itu terus berputar dalam pikiran saya hingga sekarang. 

Renungan tersebut juga menyebutkan bahwa betapa banyak orang terkenal di bumi, tetapi tidak dikenal oleh penghuni langit. Sebaliknya, betapa banyak orang yang tidak dikenal di bumi, namun dikenal baik oleh penghuni langit.

Kalimat ini benar-benar menggugah hati saya.

Di era media sosial seperti sekarang, manusia sering berlomba-lomba mencari perhatian. Banyak orang rela melakukan apa saja agar viral. Mereka ingin dikenal banyak orang. Mereka ingin menjadi pusat perhatian. Mereka ingin mendapatkan pujian sebanyak mungkin.

Padahal belum tentu popularitas di bumi sejalan dengan kemuliaan di sisi Allah.

Sebaliknya, mungkin ada seorang ibu yang setiap malam mendoakan anak-anaknya dengan penuh keikhlasan. Tidak ada yang mengenalnya. Tidak ada yang memujinya. Namun doanya menembus langit.

Mungkin ada seorang guru di pelosok negeri yang mengajar dengan penuh cinta meski gajinya kecil. Tidak ada media yang meliput perjuangannya. Tidak ada penghargaan yang diberikan kepadanya. Namun Allah mencatat setiap langkah pengabdiannya.

Mungkin ada seorang ayah yang bekerja keras demi keluarga sambil menjaga kejujuran dalam pekerjaannya. Tidak ada yang menyanjungnya. Namun namanya harum di hadapan para malaikat.

Bukankah itu jauh lebih berharga?

Sebagai seorang guru, saya belajar bahwa tugas kita bukan mencari tepuk tangan manusia. Tugas kita adalah menanam benih kebaikan. Jika benih itu tumbuh dan memberi manfaat bagi orang lain, maka itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Saya sering mengatakan kepada para peserta pelatihan menulis bahwa menulislah dengan hati. Jangan menulis hanya untuk mendapatkan jumlah pembaca yang banyak. Jangan menulis hanya untuk mengejar popularitas. Menulislah karena ingin berbagi manfaat.

Jika tulisan kita membantu seseorang bangkit dari keterpurukan, maka itu sudah menjadi pahala yang luar biasa. Jika tulisan kita membuat seseorang kembali bersemangat menjalani hidup, maka itu sudah menjadi kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan angka.

Pada akhirnya, ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah kekuatan raga, bukan kekayaan, bukan jabatan, dan bukan popularitas. Ukuran kemuliaan adalah ketakwaan.

Karena itu, jangan terlalu sibuk memikirkan penilaian manusia. Penilaian manusia bisa berubah setiap saat. Hari ini dipuji, besok dicaci. Hari ini dihormati, besok dilupakan. Yang lebih penting adalah bagaimana Allah memandang kita.

Semoga kita semua menjadi pribadi yang terus memperbaiki diri, terus beramal dengan ikhlas, selalu memiliki harapan melalui taubat, dan tidak pernah tertipu oleh amal yang sudah dilakukan.

Semoga ketika kelak kita meninggalkan dunia ini, kita termasuk orang-orang yang mungkin tidak terlalu terkenal di bumi, tetapi dikenal baik oleh penghuni langit. Aamiin ya Rabbal 'Alamiin.

Salam blogger persahabatan 

Omjay/Kakek Jay 

Guru blogger Indonesia 

Blog https://wijayalabs.com

Omjay guru blogger Indonesia/dokpri
Omjay guru blogger Indonesia/dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4