Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Kisah omjay kali ini tentang Keluarga adalah Harta Paling Berharga dalam Kehidupan. Sebuah kisah nyata yang dituliskan Oleh: Omjay (Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.) untuk kompasiana tercinta.
https://youtu.be/UZRXWWgQHi4?si=y83lDkdhOWgt0Tt7
Pagi itu, ketika matahari mulai menampakkan sinarnya dari ufuk timur, saya membaca sebuah pesan inspiratif yang begitu menyentuh hati. Pesan sederhana itu berbunyi:
"KELUARGA adalah orang-orang yang menerima Anda apa adanya. KELUARGA adalah orang-orang yang membuat Anda tersenyum dan mencintai apa pun yang terjadi. KELUARGA adalah orang-orang yang menyebut nama kita dalam setiap doanya."
Di bagian akhir pesan itu terdapat sebuah hadis yang sangat indah:
"Sebaik-baiknya kamu adalah yang paling baik dengan keluarganya." (HR. Muslim)
Pesan singkat tersebut membuat saya terdiam sejenak. Pikiran saya melayang kepada orang-orang yang selama ini selalu hadir dalam kehidupan saya. Mereka adalah keluarga yang tak pernah lelah memberikan cinta, dukungan, semangat, dan doa dalam setiap langkah perjalanan hidup saya. Dari sanalah saya semakin yakin bahwa keluarga adalah harta paling berharga yang dimiliki manusia.
Banyak orang mengukur kebahagiaan dari jumlah uang yang dimiliki, luasnya rumah yang dihuni, kendaraan yang dikendarai, atau jabatan yang disandang. Tidak sedikit pula yang menghabiskan sebagian besar hidupnya mengejar kekayaan dan prestise. Semua itu memang penting sebagai sarana menjalani kehidupan. Namun pengalaman hidup mengajarkan kepada saya bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari hal-hal tersebut. Kebahagiaan sejati sering kali hadir dari pelukan hangat keluarga yang menerima kita apa adanya.
Saya pernah mengalami masa-masa sulit dalam kehidupan. Ketika kesehatan menurun, saat tubuh tidak lagi sekuat dulu, dan ketika berbagai tantangan datang silih berganti, keluarga selalu menjadi tempat pertama untuk kembali. Mereka tidak menanyakan berapa banyak uang yang saya miliki. Mereka juga tidak menilai saya dari banyaknya penghargaan yang pernah diraih. Mereka hadir dengan tulus, menemani, menghibur, dan menguatkan hati yang sedang lemah.
Saat saya menjalani perawatan karena sakit, keluarga menjadi sumber energi yang luar biasa. Istri saya dengan sabar mendampingi. Anak-anak memberikan perhatian yang membuat hati terasa hangat. Bahkan cucu kecil saya yang masih polos mampu menghadirkan senyum di tengah rasa sakit yang sedang dirasakan. Pada saat-saat seperti itulah saya menyadari bahwa kesehatan bisa menurun, jabatan bisa berakhir, dan harta bisa berkurang, tetapi kasih sayang keluarga akan selalu menjadi pelabuhan yang menenangkan.